Senin Depan, Sekolah di Lhokseumawe Aktifkan Belajar Tatap Muka 

CEK SEKOLAH - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Ibrahim mengecek alat cuci tangan siswa dan guru sebagai Prokes Covid-19, untuk kesiapan sekolah tatap muka. FOR RAKYAT ACEH.

LHOKSEUMAWE (RA)- Akhirnya, setelah lama libur panjang akibat pandemi Covid-19, para siswa sekolah di Lhokseumawe akan kembali aktif belajar secara tatap muka mulai Senin depan. Hal itu berdasarkan rapat Walikota Lhokseumawe bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe serta pihak terkait lainnya.

“Kita akan aktifkan belajar tatap muka bagi siswa dari tingkat SD dan SMP pada Senin depan atau paling telat Selasa 10 November 2020,”ucap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Ibrahim kepada Rakyat Aceh, Jum’at (6/11) sore.

Ia mengatakan, untuk sekolah tingkat SMA itu berada dibawah Dinas Pendidikan Aceh, sehingga Cabang Dinas Pendidikan Lhokseumawe harus melakukan koordinasi terlebih dahulu. Diharapkan, SMA/SMK dan MA juga lebih baik semua diaktifkan proses belajar mengajar siswa tatap muka setelah lama libur panjang.

Sebut dia, berbagai persiapan telah disiapkan oleh sekolah-sekolah untuk proses belajar mengajar. Karena belajar dalam masa pandemi Covid-19, harus tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Seperti harus memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak dan cek suhu tubuh siswa sebelum masuk keruangan.

Bahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah membuat surat pernyataan dengan sekolah-sekolah, apakah sanggup memenuhi protokol kesehatan Covid-19, jika sekolah diaktifkan. Namun, jika ada sekolah tidak sanggup maka dibatalkan untuk belajar tatap muka sampai mereka sudah siap. Selama ini, dirinya juga terus memantau kesiapan sekolah untuk proses belajar mengajar tatap muka.

“Misalnya dalam satu kelas itu ada 30 siswa, maka harus dibagi dua gelombang yakni 15 siswa untuk menjaga jarak dalam kelas,”ucapnya, seraya menambahkan, dalam proses belajar mengajar itu nantinya juga tidak diberlakukan jam istirahat sehingga siswa-siswi harus membawa sendiri jajanan dari rumah, karena kantin tidak dibuka.

Kemudian, siswa-siswi dari SD dan SMP juga harus diantar jemput oleh orang tua sehingga ketika pulang mereka tidak berkeliaran. Menurutnya, siswa boleh ke sekolah apabila orang tua mengizinkan anaknya untuk belajar disekolah. Namun, jika ada orang tua tidak mengizinkan maka dari pihak sekolah tidak boleh memaksa dan bagi anak itu tetap belajar secara daring. “Saat mengantar jemput anak-anaknya, orang tua tidak boleh masuk kesekolah untuk menghindari kerumunan dan tetap memakai masker,”ucapnya. (arm/ra)