Ikan Keramba di Waduk Lhokseumawe Berbahaya

WADUK - Waduk Teluk Pusong Kota Lhokseumawe, sudah tercemar logam berat seperti merkuri dan berbahaya mengkonsumsi ikan dari kerama waduk. ARMIADI/RAKYAT ACEH

Hasil Laboratorium Waduk Tercemar Merkuri

LHOKSEUMAWE (RA) – Kondisi Waduk Teluk Pusong Lhokseumawe kini sangat memprihatinkan. Betapa tidak, air yang berada dalam kawasan waduk itu sudah tercemar dengan merkuri. Akibatnya, ikan-ikan yang dipelihara oleh masyarakat nelayan dalam keramba waduk sangat berbahaya untuk dikonsumsi.

Diketahuinya, air waduk tercemar berdasarkan hasil pemeriksaan sampel air Waduk Teluk Pusong di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pidie, belum lama ini.

DLH Lhokseumawe, telah menguji sample dan hasilnya air waduk sudah tercemar merkuri serta mengandung zat logam berat lainnya seperti Timbal. Dengan kandungan mercuri sebesar 0,0005 miligram per liter.

Atas kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe akan segera melakukan pembersihan keramba di waduk. “Ya dalam waktu dekat ini kita berencana untuk membersihkan keramba-keramba ikan dalam waduk, meskipun nantinya ada penolakan dari pemilik keramba,”tegas Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Suaidi Yahya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi ikan-ikan yang bersumber dari waduk. Begitu pun kepada pedagang juga tidak membeli ikan dari pemilik keramba, karena ikannya sudah tercemar merkuri. “Kalau ikan itu dikonsumsi maka akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita,”ucap Walikota Lhokseumawe.

Sebut dia, ini menyangkut dengan kesehatan masyarakat Kota Lhokseumawe yang perlu segera dilakukan langkah antisipasi. Untuk itu, kepada pemilik keramba juga diminta agar tidak lagi memilihara ikan dalam waduk yang airnya tercemar logam berat. “ Jikapun masyarakat nelayan ingin untuk memilihara ikan dalam keramba maka lebih baik mencari lokasi lain yang lebih aman,”pintanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe, Dedi Irfansyah, didampingi Kabid Amdal dan Wasdal, Linda Yani, menjelaskan, pengambilan sampel air waduk telah dilakukan dalam tiga titik pada 30 September 2020 lalu. Kemudian, untuk pemeriksaan sampel dikirim ke Laboratorium DLH Pidie. “Jadi pengambilan sampel air waduk itu kita uji di Laboratorium sesuai arahan dari Pak Walikota,”kata Dedi.

Ia juga mengatakan, hasil sampel laboratorium baru keluar pada 15 Oktober 2020 dan hasilnya air waduk sudah tercemar merkuri. Namun, belum melebihi ambang batas baku mutu dan kalau dibiarkan maka akan terjadi ambang batas baku mutu. “Makanya ikan-ikan atau kerang yang berada di dalam waduk dan sekitar waduk lebih baik masyarakat tidak lagi mengkonsumsi karena berbahaya bagi tubuh,”ucapnya. (arm/ra)