TERSANGKA - Personel Polres Lhokseumawe menggiring tersangka sindikat tindak pidana keimigrasian dan perdagangan orang dalam menggelar konferensi pers, di Mapolres setempat Ahad (22/11). ARMIADI/RAKYAT ACEH

LHOKSEUMAWE (RA) – Sekitar 18 wanita asal etnis Rohingya di Kamp Pengungsian BLK Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, hendak dibawa kabur ke Malaysia oleh sindikat tindak pidana keimigrasian dan perdagangan orang.

Kasus itu berhasil diungkap oleh personel Kodim 0103 Aceh Utara dan Polres Lhokseumawe.

Dimana ke 18 wanita yang hendak dikabur dari kamp pengungsian itu, berhasil ditangkap kembali dan termasuk diciduk para tersangka. Namun, dalam proses penyelidikan dan penyidikan, Polres Lhokseumawe menetapkan tiga orang tersangka. Masing-masing DA (25) warga Medan, Sumatera Utara, ZK (20) warga Etnis Rohingya yang sudah lama menetap di Medan dan tersangka BS (45) asal Tangerang Baten.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto, SIk didampingi Kasat Reskrim, Iptu Yoga Prasetya dan Kapolsek Dewantara, AKP Nurmansyah dalam konferensi pers, di Mapolres setempat Ahad (22/11), mengatakan, tindak pidana keimigrasian dan perdagangan orang ituterjadi pada Jumat (20/11) sekitar pukul 01.00 WIB di kamp pengungsian Rohingya BLK Kota Lhokseumawe.

“Kemarin personel Kodim 0103 Aceh Utara berhasil mengamankan tersangka bersama korban. Lalu menyerahkan Polres Lhokseumawe. Kita langsung melakukan proses penyelidikan dan penyidikan serta menetapkan tiga tersangka,”ucap Kapolres.

Ia mengatakan, ketiga tersangka DA (25), ZK (20) dan BS (45) punya modus operandinya berbeda – beda. Namun, muaranya tetap sama ingin membawa kabur pengungsi Rohingya ke Malaysia. Tersangka DA, jelas Kapolres, dia berperan sebagai penjemput teman bibinya dari Malaysia. Tersangka diming – imingi bayaran Rp 1 juta per orang. Kemudian tersangka ZK yang memang asli orang Rohingya, sudah lama menetap di daerah Medan.

“ZK ini disuruh jemput saudara kawannya, ZK dibayar Rp 2 juta. Selanjutnya, tersangka BS dari Tangerang merupakan suruhan sindikat bernisial MH ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), bayarannya lebih besar lagi, per kepala dibayar Rp 6 juta,”ungkap Eko Hartanto.

Kapolres Lhokseumawe juga menyebutkan, antara korban dan tersangka penjemput telah merencanakan dengan cara kabur dari kamp penampungan. “Total semua kurang lebih ada 18 saudara kita Rohingya yang berkeinginan keluar dari kamp dengan bantuan para sindikat perdagangan manusia,”katanya.

Sambungnya, Kepolisian masih melakukan penyelidikan apakah tiga tersangka ini merupakan satu sindikat atau berbeda – beda sindikat. “Kalau dilihat dari modus operandinya, saya yakin sindikatnya lebih dari satu. Tetapi, muaranya tetap sama, akan dibawa ke Malaysia,” pungkas pria yang pernah menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Medan ini, dalam relisnya kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Sementara para tersangka akan dijerat dengan pasal Keimigrasian tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara. (arm/ra)