Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA. Rakyat Aceh/Rusmadi

BANDA ACEH (RA) – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mewisuda sebanyak 1.377 orang lulusan pada Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020 secara daring dan luring bertempat di gedung Auditorium Prof Ali Hasjmy Kopelma Darussalam Banda Aceh. Prosesi wisuda tersebut berlangsung selama tiga hari, 23-24 November 2020.

Untuk pelaksanaan wisuda secara daring dilaksanakan melalui aplikasi zoom meeting dan live streaming di kanal Youtube Kampus UIN Ar-Raniry. Sementara untuk prosesi wisuda secara luring dilakukan dengan mengikuti ketentuan dan standar protokol kesehatan secara ketat yang dianjurkan pemerintah dengan tidak mengikutsertakan pendamping atau keluarga, para wisudawan wajib memakai masker dan pelindung wajah, mencuci tangan sebelum memasuki lokasi dan juga semua dicek suhu tubuhya.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA disela-sela proses wisuda mengatakan, bahwa pelaksanaan wisuda kali ini berbeda dengan wisuda sebelumnya karena kondisi pandemi covid-19 yang belum berakhir.

“Namun kata Warul, walaupun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi wisuda berjalan dengan lancar dan penuh khidmat meski para orang tua masing-masing wisudawan tidak bisa mendampingi bagi yang memilih system luring (offline),” jelasnya, Senin (23/11).

Dikatakan, tempat duduk para wisudawan juga diberi jarak satu meter, selain itu untuk tahun ini yang hadir hanya para mahasiswa yang diwisuda tanpa didampingi orang tua maupun keluarga.

Dalam amanatnya, Warul Walidin juga mengingatkan para lulusan UIN Ar-Raniry Banda Aceh untuk terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki karena diera revolusi industri 4.0 sering kali membuat lembaga pendidikan akan berubah haluan.

“Dengan menjadi alumni bukan berarti masa belajar telah usai, masih banyak hal yang perlu dipelajari, tentunya harus menjadi strong leadership di masyarakat dan mampu menguasai bahasa asing,” pesan Warul.

Saat itu kata Warul, teknologi pendidikan telah berkembang secara eksponensial sehingga berpotensi mendisrupsi sekolah tradisional. Berbagai inovasi disrupsi di sektor pendidikan seperti Massive Open Online Course (MOOC), Open Educational Resources (OER), Situs Tutorial Online, Social Learning Platform, Personalized/Customized Learning, Professional Learning Network (PLN), hingga Massively Multi-Player Online (MPO).

Dengan beragam inovasi tersebut lanjut Warul, barangkali ruang kuliah tidak diperlukan lagi. Peran dosen akan berubah drastis sebagai mentor, motivator dan model. Dan yang jelas akan tersedia begitu banyak learning channel dan kampus pun tak lagi mampu memonopoli proses pembelajaran.

“Sebagai wahana pembelajaran, ‘sekolah tradisional’ akan tergeser dari posisi “core” menjadi “peripheral”. Proses pembelajaran tidak selamanya di ruang kuliah, akan tetapi bisa dilakukan anytime, anywhere, any platform atau device,” katanya.

Oleh sebab itu, dunia pendidikan kita membutuhkan sosok muda (milenial) yang memiliki default pemikiran yang fit dengan logika zaman baru yang akan kita masuki. Anda yang di wisuda hari ini, hendaknya tidak pernah berhenti menyusun langkah dan strategi masa depan. (rus)