285 Jiwa Warga Baleng Karang Terisolir

Sejumlah siswa bersiap berangkat sekolah mengarungi sungai dengan menaiki getek penyeberangan dari Kampung Baleng Karang, Kecamatan Sekerak, menuju Bandar Pusaka sebelum aktivitas sekolah diliburkan akibat pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. IST/RAKYAT ACEH

ACEH TAMIANG (RA)– Kampung Baleng Karang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang masih terisolir. Pasalnya, jalur darat menuju ke kampung tersebut tidak bisa ditembus oleh kendaraan, baik roda dua maupun mobil. Akses satu-satunya yang menjadi andalan warga selama 75 tahun Indonesia merdeka yaitu menyeberang sungai menggunakan transportasi getek.

“Ada jalan darat tapi tidak bisa dilalui, karena kondisinya hancur sekali. Kalau kita paksakan lewat jalan itu memakan waktu 4 jam untuk sampai ke Kualasimpang,” kata datok penghulu (kades) Kampung Baleng Karang, Jhoni Sardi saat menceritakan ketertinggalan kampungnya kepada Rakyat Aceh di Karang Baru, Selasa (24/11).

Ia menyebut, seumur-umur akses jalan menuju Baleng Karang baru mendapatkan pengerasan jalan sekali. Meski cuaca panas, jalan yang menghubungkan sejumlah kampung itu tetap sulit dilalui, konon lagi musim hujan badan jalan tanah itu praktis hancur.

Untuk mobilitas keluar masuk kampung sehari-hari warga naik getek penyeberangan dari Kampung Baleng Karang, Kecamatan Sekerak ke Kampung Batu Bedulang, Kecamatan Bandar Pusaka.

Sungai yang setiap hari diarungi ini menjadi batas antar kampung dan kecamatan. Sementara Baleng Karang sendiri berbatasan dengan Gampong (desa) Simpang Jernih, Aceh Timur.

“Jumlah warga kami 74 KK atau 285 jiwa selama ini macam terisolir,” lirihnya, Selasa (24/11).

Pihaknya mengaku pernah menerima kabar baik akan dibangun jembatan di Sungai Aceh Tamiang tersebut. Lokasinya pernah ditinjau oleh petugas Balai Dinas PU dan Dinas Perhubungan Provinsi Aceh tahun 2019 lalu.

“Orang provinsi sudah datang mengukur-ukur mau bangun jembatan gantung, tapi belum terealisasi sampai sekarang,” ucap Sardi.

Untungnya, sambung Jhoni Sardi, kondisi mesin getek selama ini sehat tidak ada mengalami kerusakan yang berarti. Namun jika sungai banjir, getek tidak bisa dioperasikan, risikonya anak sekolah terpaksa libur akibat faktor alam.

“Di Baleng Karang hanya ada SD, untuk SMP dan SMA terpaksa harus keluar naik getek,” ujarnya.

Kalau sungai sedang meluap, tambah Sardi, tidak hanya anak sekolah yang menjadi korban, komoditi kelapa sawit petani juga tidak bisa dijual keluar, bahkan kadang sampai busuk. Menurutnya, mayoritas warga Baleng Karang berprofesi sebagai petani dan pekebun. Kampung seberang sungai ini belum menikmati pemerataan pembangunan infrastruktur dari Pemda setempat.

Warga mendambakan bisa dibangun akses jembatan gantung dan pengerasan jalan menuju ke kampung mereka yang dari zaman ke zaman masih tertinggal.

Dari catatan Rakyat Aceh, selain Kampung Baleng Karang, masih ada sejumlah kampung seberang sungai di hulu hingga hilir Aceh Tamiang yang memanfaatkan transportasi getek.

Getek penyeberangan bantuan hibah dari Dinas Perhubungan ini tidak hanya membawa penumpang orang, tapi juga untuk mengangkut barang, kendaraan dan hasil pertanian. (mag-86/icm)