KOLOM | Maradona, Mega Bintang dengan Aura Bandit

Oleh: Ichsan Maulana*

DUNIA berduka! Kala kabar kematian Diego Armando Maradona benar-benar menjadi kenyataan. Tapi diantara semua duka yang menggelayuti dunia, Buenos Aires dan Naples lah, dua kota dari Argentina dan Italia yang tangisnya paling isak. Tempat dimana Maradona bertumbuh, dipuja serta mendulang sejumlah pencapaian emas.

Kronologis dan jam kepulangan Maradona kepada keabadian, rasanya sudah berserak informasi baik di media mainstream ataupun media sosial. Saya terbayang satu hal, di lokus imaginer, di dunia lain, Maradona yang pernah meminjam ‘Tangan Tuhan’ untuk sebuah gol ikonik lagi kontroversial ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986, dipersidangkan di hadapan-Nya.

Agaknya tak berlebihan, jika dosa besar itu diampuni hanya karena sumbangsih Maradona selama hidup untuk dunia si kulit bundar. Skill individu di atas rata-rata, kecepatan lari, kegesitan penetrasi, dribbling artistik, dan kaki kiri mematikan, adalah sepaket anugrah yang ia miliki hingga kemudian Maradona besar. Bahkan, sebagaimana yang sudah umum kita tahu, ia disebut dewa sepakbola, pun Tuhan.

Dua hal yang sejatinya agak geli bagi orang timur. Tapi suka atau tidak, simplifikasi itu memang terlanjur melekat pada Maradona. Ia benar-benar pergi, tapi segala atraksinya di dalam dan luar lapangan benar-benar memberi warna tegas, terhadap sumbangsih dunia sepakbola, lengkap dengan kontroversi yang tak bisa dinafikan.

Maradona, meski disandingkan dengan dewa juga Tuhan, hakikatnya tetaplah manusia biasa. Penuh khilaf dengan lembaran dosa yang kentara. Narkoba, penyelewengan pajak, doping, dan seterusnya, merupakan catatan kelam yang menempel pada pria bertubuh mungil itu. Tapi satu yang tak pernah bisa dirampas atau dibajak darinya; aura bintang dengan kewibawaan bandit!

Tengoklah beberapa potongan video saat Maradona melakukan pemanasan. Gerakan santai, expresi enjoy, dan kadang sambil mengunyah permen karet, sudah lebih dari cukup untuk memanjakan mata, dan menyebut hal itu sebagai seni. Itu baru pemanasan! Apalagi saat ia mendribling bola dan meliuk-liuk melewati lawan, yang di beberapa pertandingan bisa sampai lima pemain lawan.

Jika terdengar terlalu hiperbola kalimat fenomenal dari tokoh sepakbola kartun asal Jepang, Tsubasa: “Bola adalah teman”, maka kalimat tersebut menjadi sahih, manakala yang bersama bola adalah Maradona. Pendek kata, ikon sepakbola bernomor 10 dari Amerika Latin itu, tak ada yang tak mungkin bila bola telah bersamanya. Bola adalah nyawa, dan Maradona ialah ruh sepakbola dunia itu sendiri.

Itulah mengapa, kepergian Maradona untuk selama-lamanya ditanggapi ‘lain’ oleh praktisi sepakbola. Dari Naples, Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis, mempertimbangkan untuk mengubah nama stadion klubnya, Napoli, menjadi San Paolo-Diego Maradona. Sementara di Perancis, Pelatih Marseille, Andre Villas-Boas menyarankan FIFA untuk memensiunkan jersey No10, dihapus dari semua tim sepakbola sebagai bentuk penghormatan kepada Maradona.

Dua respon tersebut sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan keagungan Maradona di dunia sepakbola. Namun, andai pun belum cukup, fakta lain dan lebih membuat kita geleng-geleng kepala adalah, mengutip unggahan panditfootball, di Argentina terdapat sebuah gereja yang bernama The IgIesia Maradoniana, atau Chruch of Maradona. Bagi pengikutnya, sepakbola adalah agama dan Maradona adalah Tuhan.

Di luar itu semua, ketika namanya disebut, kurang afdhal rasanya bila tak ikut menyeret seorang Argentina yang lain, sama-sama fenomenal meski dengan kadar tak sama. Tentu dia adalah Messi. Seseorang, yang seolah dikutuk waktu, di Argentina ia harus menerima takdir bahwa dirinya selalu di bawah bayang-bayang Maradona. Kepergian The Legend, tetaplah menyisakan kesedihan untuk Messi, tapi publik terlanjur kepo, apakah ada lompatan pencapaian yang bisa La Pulga persembahkan, sekaligus menyudahi bayang-bayang Maradona tak lagi menghantui.

Kesempatan itu masih terbuka di Piala Dunia 2022 di Qatar, sekaligus agaknya menjadi kali terakhir Messi merumput di ajang paling bergengsi itu. Jika saja Messi berhasil mempersembahkan Piala Dunia untuk Argentina, sejatinya itu menjadi ‘tahlilan’ terbaik sebagai persembahan untuk Maradona di dimensi lain. Lalu, dengan senyum dan gaya khasnya bertepuk dada kiri, Maradona akan bilang: “Kamu sudah melampaui saya, duhai kidal mematikan dari Rosario. Istimewa!”.

Terakhir, kita memang telah kehilangan Maradona untuk selama-lamanya. Tapi hal-hal sederhana yang sejatinya memiliki dampak besar adalah, Maradona di suatu waktu, merupakan alasan jutaan anak manusia untuk bermain bola. Tak terhitung jersey bernamakannya dipakai orang-orang, entah berapa banyak pula kaos bersablon wajahnya dikenakan pada tubuh anak manusia. Bila sepakbola adalah tujuan, maka ‘karena atau gara-gara Maradona’ adalah niat. Niat, ialah sesuatu hal kecil tapi wajib bagi segala ritual sakral di kehidupan.

Selamat jalan untuk selama-lamanya Diogo Maradona. Terimakasih banyak!

*Penulis adalah editor Rakyat Aceh