Yanti Purmasari, guru honorer yang tinggal di Desa Belang Bebangka Kecamatan pegasing, Aceh Tengah, mengajar di SMAN 11 Takengon. For Rakyat Aceh.

TAKENGON (RA) – Yanti Purmasari, guru honorer yang tinggal di Desa Belang Bebangka Kecamatan pegasing, Aceh Tengah, mengajar di SMAN 11 Takengon. Bahkan ia sudah delapan tahun menjalankan aktivitasnya sebagai guru, melewati berbagai rintangan untuk mengajar mulai dari longsor menutup badan jalan hingga melewati genangan lumpur.

“Kalau sekedar melewati udara dingin dan sejuk di pagi hari itu sudah biasa, namun delapan tahun mengajar membuat saya melewati berbagai pengalaman paling berat ketika harus melewati berbagai rintangan bermain dengan genangan lumpur,” ujar perempuan 32 tahun tersebut.

Yanti pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, hampir dilakukannya setiap hari, dan jarak antara sekolah dengan rumah lebih kurang mencapai 10 kilometer. Yanti merupakan guru Bahasa Indonesia. Selain Yanti, guru honorer lainnya yang mengalami kisah yang sangat mengharukan adalah Munawarah (32) perempuan asal Desa Blang Kolak 1, Kecamatan Bebesen, ia juga mengalami berbagai rintangan saat melintas di jalan menuju ke tempat sekolahnya, kerap sekali bertemu hewan hewan liar, selama 11 tahun terakhir merasakannya.

“Ketika jalan menuju tempat sekolah sering ketemu monyet, ular, dan babi yang liar, agak takut cuman berusaha untuk tidak panik,” ujarnya.

Meski melewati berbagai medan yang sulit, kedua guru honerer ini akan selalu mengajar peserta didiknya, melihat wajah peserta didiknya yang penuh semangat dalam belajar membuat kedua guru ini tak surut dan semangat dalam mengajar.

Soal honor sungguh miris mendengarnya, awalnya mereka dibayar di tempat mengajarnya hanya tujuh ribu per jam, dan tiga tahun terakhir naik menjadi dua puluh dua ribu per jam, namun dalam tiga tahun ini status nya sudah menjadi guru kontrak provinsi Aceh.

Ia menceritakan, dalam menutup biaya hidup sehari harinya, Yanti sendiri memilih berjualan jajanan di depan rumah, sedangkan Munawarah memilih berjualan pizza.

“kalau diharap dari gaji guru terus terang tidak cukup untuk memenuhi biaya hidup, maka kami memilih membuka usaha sampingan seperti berjualan agar ada uang tambahan,” pungkasnya yang diamini Munawarah. (mag 01-reza/rus).