DPMTSP Provinsi Tinjau Galian C

Kabid Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP) Aceh Mustapa, meninjau galian C di Dusun Musara Pakat Kampung Wih Pesam, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (3/11). MASHURI/RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Menindak lanjuti laporan masyarakat terkait maraknya galian C yang melakukan di luar batas titik koordinat.

Kabid Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP) Aceh, Mustapa, meninjau sejumlah galian C di Bener Meriah, Kamis (3/11).

Kunjungan tersebut turut juga di damping oleh Kepala Dinas KPTSP Bener Meriah Armansyah dan perwakilan Dinas PUPR Bener Meriah dan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Bener Meriah.

Kepada Rakyat Aceh, Mustapa menyebutkan, peninjauan terhadap galian C yang memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi Aceh, namun pengerjaan tidak dilakukan di titik koordinat yang telah disepakati.

“Ada 5 pengusaha galian c yang hari ini kita tinjau lapangan dan diduga mengambil maetrial di luar titik koordinat yang telah kita berikan,“ ungkapnya.

Bagi pengusaha yang melanggar aturan tersebut sesuai aturan, katanya, akan melayangkan surat peringatan (SP) pertama. “Jika setelah SP 3 tidak diindahkan kita kan mencabut izin usahanya,” tegasnya.

Semenetara itu sebutnya, bagi penambang yang tidak memiliki izin merupakan kewenangan pihak penegak hukum untuk melakukan penertiban. “Kita juga berharap DPMTSP Bener Meriah untuk melakukan sosialisasi dan menghimbau agar pengusaha yang illegal segera mengurus izinnya,” harapnya.

Menurut Mustapa, membuka ruang selebar-lebarnya untuk masyarakat yang mengajukan permohonan izin agar tidak ada lagi masyarakat yang melakukan penambangan secara ilegal.

Harap Penertiban Sebelumnya, masyarakat Dusun Musara Pakat, Kampung Wih Pesam meminta agar pihak penegak hukum turun kelokasi dan melakukan penertiban galian C yang diduga illegal dan melanggar aturan.

Mewakili masyarakat, Kepala Dusun Musara Pakat, Erwin berharap, agar pihak penegak hukum segera memberhentikan galian C yang tidak memiliki izin dan melakukan perusakan terhadap lingkungan.

“Lebih bagus diberhentikan saja jika hanya menguntungkan seseorang dan merusak lingkungan,” ungkapnya.

Selaku aparatur kampung pihaknya juga mengaku sudah pernah menegur pengusaha namun tidak diindahkan. “Warga Dusun Musara Pakat Kampung Wih Pesam pada tanggal 28 Oktober 2020 lalu juga sudah membuat pengaduan secara tertulis terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh galian C tersebut kepada pemerintah daerah,” katanya. (uri/bai)