Banjir Rendam Tiga Kabupaten Puluhan Ribu Jiwa Mengungsi

Banjir di Aceh Utara menyebabkan warga mengungsi dan menyelamatkan hewan peliharaan mereka ke tempat tak tergenang air. IDRIS BENDUNG-RAKYAT ACEH

BANDA ACEH – Curah hujan yang tinggi sejak dua hari terakhir mengakibatkan tiga kabupaten dan satu kotamadya di Aceh terendam banjir dan puluhan ribu jiwa mengungsi. Tiga kabupaten yang terendam banjir yakni Aceh Utara, Aceh Timur dan, Aceh Tenggara.

Laporan dari Kabupaten Aceh Timur menyebutkan, sebanyak 7.022 jiwa di ikabupaten Aceh Timur terpaksa harus mengungsi karena dampak banjir yang terjadi sejak Sabtu malam (5/ 12).

“Dari data yang kita rekap dampak bencana banjir ini membuat 7.022 jiwa harus mengungsi mencari tempat aman. Mereka ada yang memilih mengungsi ke rumah tetangga, masjid, dan meunasah yang ada di wilayahnya,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah kabupaten Aceh Timur Ashadi kepada Rakyat Aceh, Minggu (6/12).

Ashadi merincikan, dalam musibah banjir kali ini sebanyak 17 kecamatan dalam kabupaten Aceh Timur di kepung banjir, diantaranya, Peureulak Timur, Julok, Peudawa, Sungai Raya, Indra Makmur, Birem Bayeun, Peureulak, Ranto Peureulak, Pante Bidari, Idi Tunong, Nurussalam, Peureulak Barat, Idi Rayeuk, Darul Ihsan, Madat, Darul Aman, dan kecamatan Simpang Ulim.

“Diantara jumlah tersebut, Kecamatan Peureulak terdampak 23 gampong, Ranto Peureulak 22 Gampong, dan Idi Tunong 22 Gampong. Untuk ketinggian air rata – rata berkisar 50 hingga 100 cm,” rinci Ashadi.

Ashadi menambahkan, banjir tahun ini juga telah memakan korban jiwa di daerah kecamatan Nurussalam. Seorang siswi yang masih menduduki bangku sekolah menengah pertama terseret dalam arus banjir.

“Untuk korban meninggal satu jiwa. Alhamdulillah korban telah dievakuasi kemarin. Korban berhasil dievakusi langsung oleh Bupati Aceh Timur saat bersama turun dengan masyarakat melakukan pencarian,” ujar Ashadi.

Disinggung mengenai kerusakan fasilitas lain, Ashadi menyebutkan terdapat 4 jembatan rusak berat akibat diterjang arus banjir. Kemudian juga terdapat dua jalan lintas desa terputus karena tanah longsor.

“Bukan hanya ini saja akan tetapi ada beberapa bangunan sekolah juga ikut tergenang. Untuk Kerusakan–kerusakan lain ini masih dalam pendataan petugas,” katanya.

TNI Bangun Dapur Umum.
Sebagai bentuk perhatiannya Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendirikan dapur umum untuk menyiapkan makanan bagi korban banjir ditempatkan di Gampong Lhok Dalam, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur.

“Sesuai petunjuk Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro, SE, dimana tenda dapur umum itu didirikan oleh Kodim 0104/Aceh Timur dan TEPBEK 00-44-02 B/Langsa dan melibatkan 50 personel. Dapur siaga 24 jam guna memenuhi kebutuhan makanan korban banjir,”ujar Dandim 0104/Aceh Timur Letkol Czi Hasanul Arifin Siregar, S.Sos, M.Tr (Han).

Menurutnya, sedikitnya ada 400 personel diterjunkan untuk membantu proses evakuasi warga yang tertimpa bencana banjir. “Disamping membantu proses evakuasi, kita juga telah mendirikan tempat pengungsian dan dapur lapangan bagi warga yang rumahnya teredam banjir.

Letkol Czi Hasanul Arifin Siregar menyampaikan, banjir yang terjadi hampir di seluruh wilayah Kabupaten Aceh Timur menggenangi pemukiman dan areal persawahan milik masyarakat.

“Prajurit jajaran Kodim 0104 Aceh Timur dan TEPBEK 00-44-02 B/Langsa telah dikerahkan untuk membantu mengamankan barang-barang milik warga, ” ujar Letkol Hasanul Arifin.

Jalur Lintas Timur Lumpuh
Sementara dari Aceh Utara dilaporkan hujan deras dan tanggul sungai jebol menyebabkan banjir melanda 23 kecamatan di Aceh Utara, dari 27 kecamatan yang tersebar di 852 desa.
Tak hanya itu, hingga Minggu siang (6/12) kemarin, sejumlah titik lintasan jalan nasional tergenang air hingga sepinggang. Akibatnya, jalur transportasi nyaris lumpuh.

Hanya kenderaan tronton dan bus berbadan besar yang nekat menerobos derasnya air berwarna kecoklatan itu. Sedangkan mobil pribadi maupun truk jenis colt tak berani melewati jalan yang berada persis di depan kantor Bupati Aceh Utara, yang baru di Landing, Lhoksukon.

Pantauan Rakyat Aceh, setidaknya ada 15 titik air menggenangi jalan raya dari arah Lhokseumawe menuju Landing. Namun, untuk tembus hingga ke Lhoksukon, justru tidak bisa. Sehingga kenderaan yang hendak menuju Lhoksukon harus terhenti di kawasan Landing, atau sekitar 5 km ke pusat kota Lhoksukon.

Sementara kondisi banjir di Kota Lhoksukon, lebih parah lagi. Warga yang memiliki saudara menyebutkan ada air sudah mencapai ketinggian sampai 2 meter di rumah. Ketinggian air merendam rumah penduduk mendekati 2 meter juga ada di Kecamatan Syatalira Aron, Tanah Luas dan perbatasan dengan Kecamatan Tanah Pasir.

“Ini tidak saja karena hujan lalu banjir. Tetapi, tanggul sungai ikut jebol dekat kantor BPBD Aceh Utara. Tolong tulis pak agar pemerintah membuat tanggul sungai yang bagus. Lihat itu, air yang datang cukup deras justru keluar dari sungai kan. Buat tanggul pakai besi yang bagus, “ kata Tgk Usman warga setempat kepada Rakyat Aceh.

Sementara itu, di perbatasan kampung antara Kecamatan Tanah Luas dan Syamtalira Aron, sejumlah warga terpaksa mencari tempat aman ke sisi jalan negara. Termasuk mengevakuasi hewan ternak mereka.

Amatan lainnya disepanjang jalan dari Kecamatan Bayu, hingga Landing, terlihat sejumlah warga sudah membuat dapur umum di meunasah yang ada di sisi jalan negara.

Puluhan Ribu Mengungsi
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara Amir Hamzah di Lhoksukon, Minggu mengatakan, banjir terparah saat ini berada di antaranya di Kecamatan Lhoksukon, Matangkuli dan Pirak Timu.

“Jumlah pengungsi kita taksir mencapai puluhan ribu jiwa, tapi angka pastinya belum ada. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan di antaranya Lhoksukon, Langkahan, Pirak Timu, Matangkuli dan kecamatan lainnya,” kata Amir Hamzah.

Sementara itu, BNPB Pusat dalam rilisnya, Minggu siang yang diterima Rakyat Aceh menyebutkan Kabupaten Aceh Utara dan Bener Meriah, masih terus berlangsung penanganan darurat.

Banjir yang terjadi dipicu oleh salah satunya, curah hujan yang berintensitas tinggi di wilayah Aceh Utara dan Bener Meriah, Jumat (4/12), sekitar pukul 19.45 WIB.
Hujan deras menyebabkan debit Sungai Krueng Jambo Aye meluap. Lalu sehari berikutnya (5/12), sungai-sungai lain mengalami hal serupa, seperti Krueng Keureuto, Pirak, Peto, Pase, Senom dan Sawang. Sebanyak 23 kecamatan terendam banjir dengan ketinggian antara 50 hingga 200 cm.

Selain itu terjadi tanah longsor di Kecamatan Paya Bakong dan Langkahan. Banjir dan longor ini tidak menimbulkan korban jiwa namun menyebabkan pengungsian di 15 titik, tulis Dr. Raditya Jati Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Enam Kecamatan di Kutacane Dikepung Banjir
Banjir juga merendam Kabupaten Aceh Tenggara. Hujan mengguyur Kutacane, dengan intensitas tinggi membuat enam Kecamatan, di daerah ini dikepung banjir, pada Kamis (3/12) lalu.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara Mohd Asbi, mengatakan banjir merendam sejumlah kecamatan juga dipicu karena meluapnya beberapa sungai. Selain merendam puluhan rumah warga, luapan banjir juga merusak lahan pertanian.

“Tidak ada korban jiwa, namun banjir ini menimbulkan kerugian material. Saat ini, penanganan dan pendataan terus dilakukan oleh pihak BPBD,” Kata Mohd Asbi, kepada Rakyat Aceh.

Enam kecamatan dilanda banjir, yakni Kecamatan Lawe Bulan, Babussalam, Lawe Alas, Darul Hasanah, Lawe Sumur, dan Leuser. Di Kecamatan Lauser, intensitas hujan tinggi juga menyebabkan jalan longsor, dan beberapa beberapa ruas jalan amblas serta tiga jembatan putus, membuat akses kesana terkensala.

“Banjir juga merusak ruas jalan lintas di kecamatan Lauser, dan kita juga telah menurunkan Tim Reaksi Cepat tanggara Aceh Tenggara untuk mengatasi permasalah terjadi disana,” katanya. (mol/ray/ung/val/min)