Hutan Kota BNI Banda Aceh Ditutup Selama Pandemi

BANDA ACEH (RA)- Banyak keluarga memanfaatkan waktu luang untuk menghabiskan dan berkumpulkan bersama keluarga di taman maupun di tempat tamasya. Salah satunya hutan Kota BNI Banda Aceh yang berada di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala.

Hutan BNI ini peresmian pada tahun 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu Ani yodhoyono, berkerja sama dengan BNI, DLKH dan pemko pusat. Taman hutan kota Tibang terletak di sebelah Utara Banda Aceh tepatnya di daerah Syiah Kuala.

Hutan kota merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi banyak pengunjung baik dari daerah maupun luar daerah. Suasana yang sejuk dan tenang membuat pengunjung nyaman untuk menghilangkan penat. Berbagai fasilitas pun telah disiapkan untuk menunjang kenyamanan pengunjung, dimulai dari tempat beribadah, tempat bermain anak-anak, serta tempat bersantai lainnya.

Namun, selama pandemi ini, hutan kota terpaksa ditutup oleh Dinas Perhubungan, karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, penutupan hutan kota sendiri telah dimulai sejak bulan maret lalu.

Meskipun ditutup, namun para pekerja setiap hari tetap datang untuk membersihkan hutan kota supaya tetap bersih. Jumlah pekerja di hutan kota sendiri ada 8 orang dengan yang jaga malam.

“Kalau biasanya orang dekat-dekat sini paling datang jogging itu pun lewat pintu belakang, untuk pekerjanya sendiri tidak libur dan tetap bersih-bersih dan tidak membiarkan hutan kota ini, jadi disini tetap ada orang setiap hari,” ujar Nurul salah satu pengurus hutan kota.

“Banyak orang yang tanya, kapan dibuka lagi, tapi kami belum bisa memastikan kapan akan dibuka kembali karena Covid-19 ini belum juga berakhir,” lanjutnya.

Ia mengaku hutan kota kembali dibuka, karena kan tidak terlalu bermasalah juga kalaupun di buka, disini juga jarang ada yang berkerumun, malah tempat-tempat lainnya sudah dibuka.

“Kami pengennya ditambah lagi tumbuhannya seperti di tambah bunga-bunga supaya tampak lebih warna-warni, juga untuk pengunjung jika hutan kota sudah di buka mari kita jaga kebersihan sama-sama, jangan nanti udah di sapu jadi kotor lagi,” ungkapnya Nurul.

Hutan ini memiliki luas area sekitar 6,75 hektare. Di dalamnya terdapat 150 tanaman khas Nusantara yang ditanami tanaman langka dengan total pohon berjumlah 3.500. Termasuk tanaman langka khas Aceh seperti, jeumpa puteh dan jeumpa kuneng, jampee, bak manee, jati emas dan bak gelumpang.

Ridwan (50) selaku pengawas Hutan Kota Tibang menceritakan dimana sebelum terbentuk hutan kota dulu nya tempat itu tambak masyarakat sekitar yang kemudian dibeli oleh pihak BNI untuk dijadikan sebuah taman.

“Pengungjung di taman tersebut hampir setiap hari ramai terlebih jika hari libur seperti Sabtu dan Minggu, pengunjung yang datang pun dari dalam dan luar kota hingga juga dari negara tetangga, seperti Korea, Jepang, Malaysia dan mancanegara lain. (mag-02/mag-01/resa/reza/rus)