Pimpinan Baitul Mal Aceh (BMA) kunjungi kantor Harian Rakyat Aceh di Jalan Sultan Malikul Saleh, Lhong Raya, Banda Aceh, Kamis (10/12). FOTO ist

BANDA ACEH (RA) – Pimpinan Baitul Mal Aceh (BMA) kunjungi kantor Harian Rakyat Aceh di Jalan Sultan Malikul Saleh, Lhong Raya, Banda Aceh, Kamis (10/12). Kedatangan rombongan BMA disambut langsung oleh pimpinan umum Harian Rakyat Aceh, Imran Joni dan Pemred Harian Rakyat Aceh, Sulaiman Mhd.

Rombongan pimpimpinan BMA, yakni Ketua BMA Prof Dr Nazaruddin A Wahid MA, juga hadir empat anggota, yaitu Dr Abdul Rani Usman MSi, Mukhlis Sya’ya ST, Mohammad Haikal ST MIFP dan Khairina ST, beserta Kepala Sekretariat, Rahmad Raden.

Imran Joni menyambut baik kunjungan silaturahmi pimpinan dan jajaran BMA ke kantor Rakyat Aceh. Dirinya menyampaikan jika BMA merupakan salah satu mitra kerja Rakyat Aceh.

Maka itulah, Imran Joni berharap agar kerjasama yang sudah terjalin selama ini dengan BMA bisa terus berlanjut. Khususnya dalam rangka penyampaian informasi kepada masyarakat.

Saat mengenalkan para pimpinan BMA, Kepala Sekretariat Rahmad Raden menyampaikan, sesuai dengan amanah Qanun Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Baitul Mal ada perubahan kelembagaan di BMA.

Dijelaskan, kalau dulu pimpinan BMA hanya satu, sekarang ada lima orang. Kelima anggota Badan BMA Aceh periode 2020-2025  yang terdiri dari ketua dan anggota sudah dilantik oleh Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT di Anjong Mon Mata Pendopo Gubernur Aceh, Senin, 9 November 2020.

Dirinya mengakui jika nomenklatur anggota badan BMA memang masih kurang familiar, maka menjadi tugas sekretariat untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat luas, salah satunya melalui media.

“Ini sejarah, Baitul Mal Aceh dipimpin oleh lima orang. Pada 5 November lalu sudah dilantik oleh Pak Gubernur dan Prof Nazaruddin sebagai ketua,” ujar Rahmad Raden saat mengenalkan para pimpinan BMA.  

Sementara Prof Nazaruddin dalam pertemuan silaturahmi tersebut menyampaikan banyak hal tentang program kerja BMA kedepan. Salah satunya adalah bagaimana mendekatkan Baitul Mal dengan rakyat. Mengingat keterbatasan, maka tidak mungkin para pimpinan BMA dan jajaran berbicara langsung dengan semua masyarakat.

Baca Juga...  BEM Poliven Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Timur

Salah satu cara paling efektif berkomunikasi dengan masyarakat adalah via media. Dirinya mengatakan, peran media khususnya Harian Rakyat Aceh sangat penting dalam mengedukasi masyarakat maupun menyampaikan informasi seputar kinerja BMA.

Disamping itu, BMA merasa perlu mengedukasi masyarakat karena ada kesan jika selama ini Baitul Mal itu diartikan sebagai rumah harta, siapa yang perlu harta maka datanglah ke sana.

Menurutnya, anggapan seperti itu adalah keliru, karena BMA punya mekanisme yang baik dalam mengelola zakat, bukan dengan cash money.

Prof Nazaruddin juga menyampaikan jika dirinya bersama para pimpinan lainnya punya keinginan  untuk menjadikan lembaga BMA lebih terpercaya.  “Saya heran, mengapa orang bisa percaya pada bank sebegitu luar biasa, padahal kenal-pun tidak, bawa uang satu karung kemudian disimpan di sana. Lantas, kenapa kepercayaan itu tidak dimiliki BMA,” ujarnya.

Kedepan, pihaknya ingin menumbuhkan kepercayaan seperti itu kepada masyarakat. Pelan – pelan, dengan dukungan media pastinya, pihaknya akan menampilkan jika BMA adalah lembaga yang memang amanah bagi muzakki untuk menyalurkan zakat kepada mustahik.

Sehingga kedepan, dirinya berharap tidak ada lagi muzakki yang bayar zakat sendiri – sendiri ke kampung halaman dan lembaga lain. Namun disalurkan melalui baitul mal.

Dirinya mengaku yakin, dengan semakin tingginya tingkat kepercayaan masyarakat, maka jumlah zakat yang dihimpun akan semakin meningkat, dampaknya kesejahteraan masyarakat juga semakin baik.

Sementara itu, Khairina ST menambahkan jika potensi zakat di Aceh sangat besar, berdasarkan hitung – hitungan yang dilakukan  Prof Nazaruddin pada 2014, angkanya mencapai Rp1,4 triliun.

Namun yang mampu tergarap baru belasan persen saja. Maka itu, perlu kesadaran muzakki untuk bayar zakat melalui BMA sesuai amanah qanun. Maka itulah, perlu dukungan media untuk terus mengedukasi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Dr Abdul Rani juga menambahkan jika kampanye zakat perlu ditingkatkan melalui media, karena potensi zakat di Aceh banyak sekali yang belum tergali, khususnya di perusahaan – perusahaan.

“Kalo dulu mesin pesawat satu, sekarang kami ada lima orang, maka tentunya terbangnya juga harus lebih tinggi untuk menghimpun zakat.” Demikian pungkasnya. (slm)

Baca Juga...  Musannif: Ada nama ASN, Bukti PPP Bukan Eksklusif!