KTNA Atam Studi Palawija ke Aceh Tengah

Pengurus KTNA Kabupaten Aceh Tamiang melakukan studi banding belajar budidaya tanaman palawija dan bawang merah di sentra produksi di Kabupaten Aceh Tengah, baru-baru ini. IST/RAKYAT ACEH

ACEH TAMIANG (RA) – Sebanyak 22 pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Aceh Tamiang studi banding ke Kabupaten Aceh Tengah meninjau tanaman palawija dan bawang merah di sentra produksi di dataran tinggi tanah Gayo tersebut.

Rombongan KTNA Aceh Tamiang diterima Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Aceh Tengah, Suluan dan Kasie Kelembagaan Bidang Penyuluhan, Tumiasih.

Ketua KTNA Aceh Tamiang, D Yogi S mengatakan, studi banding ke sentra tanaman palawija di Takengon tersebut menghadiri undangan KTNA Aceh Tengah selama lima hari terhitung sejak tanggal 6-10 Desember 2020. Kegiatan di luar daerah ini berdasarkan surat tugas dari Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang, Nomor: 094/2880/2020.

“Upaya KTNA Aceh Tamiang meninjau langsung sentra produksi tanaman bawang dan palawija di sana agar bisa dikembangkan di Aceh Tamiang, untuk memajukan sektor pertanian,” kata Yogi sepulangnya dari Aceh Selatan, di Karang Baru, Sabtu (12/12).

Ia menyebut, budidaya bawang merah di Aceh Selatan berpusat di Desa Nasar, Kecamatan Bintang. Petani serentak menanam bawang dua kali dalam setahun dan satu kali tanam padi.

“Petani sangat menikmati hasil pertanian bawang merah ini. Mereka secara berkelompok mengolah tanah, menanam bawang, memelihara dan memanen secara bersama,” kata Yigu mengutip pernyataan Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Seroja, Yuli.

Menurutnya, KWT Seroja menjadi contoh bagi KWT lainnya untuk menjadi KWT mandiri. KWT ini juga sudah mengaktifkan bidang simpan pinjam, bidang produksi bawang merah dan bidang pemasaran. Kelompok wanita kreatif ini memasarkan produknya secara online melalui media sosial.

“Saat ini mereka (KWT Seroja) sudah menembus pasar Provinsi Aceh,” sebut Yogi.

Yuli sendiri sudah empat periode menjadi Ketua KWT Seroja. Kunci kelompok mereka kebersamaan. Kini KWT Seroja berharap kepada pemerintah untuk dapat memfasilitasi membuka peluang pasar ekspor bawang merah.

KTNA Aceh Tamiang telah menyerap ilmu, bahwa budidaya tanaman bawang merah dapat dilakukan dengan modal yang relatif murah. Namun kendala besar bagi petani bawang merah yaitu terlalu banyak mengeluarkan biaya operasional yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

“Selama ini kebanyakan petani bawang merah mengeluarkan biaya olah tanah dengan menggunakan alat mesin pertanian (Alsintan). Padahal patani bawang merah cukup menaikkan kembali tanah yang turun dari bedengan,” ujarnya.

Disamping itu, lanjut Yogi Syahputra, apabila sistem drainase pada tanaman bawang merah kurang baik, akan mengakibatkan tanaman bawang merah menjadi kerdil dan mudah terserang penyakit akar (leher batang).

“Sementara sistem drainase yang baik adalah menghindari genangan air terlalu lama dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan harus ditambah pupuk kandang satu minggu sebelum tanam,” tukas Yogi. (mag-86)