Yayasan Raisul Fikri Aceh Bersama Formab Gelar Seminar Internsional

BIREUEN (RA) – Yayasan Raisul Fikri Aceh (YRFA) bersama Forum Mahasiswa Bireuen (FORMAB) menyelenggarakan Seminar Internasional via Meeting Zoom, Sabtu (12/12) dengan tema “Menggugat Titik Nol Islam Nusantara di Barus Perspektif Akademisi Muda dan Mahasiswa Aceh Internasional”.

Ketua Panitia, Muhammad Husnul Rizqa dalam laporannya menyampaikan acara seminar internasional berjalan lancar. Ucapan terimakasih beliau utarakan kepada seluruh panitia, kepada seluruh sponsor dari berbagai lembaga dan media serta kepada seluruh para pemateri, peserta dan masyarakat Aceh.

“Acara ini juga disambut oleh Ketua DPRK Bireuen, Rusyidi Mukhtar dan presiden pemuda OKI, Syafii Efendi. Mereka sangat mengapresiasi acara ini,” sebut Husnul.

Seorang pemateri, Anggi Az Zuhri yang merupakan Research Fellow di HBKU Qatar yang berasal dari Aceh menjelaskan soal landasan berfikir untuk mengkritisi klaim sejarah berdasarkan Historiografi Ibn Khaldun dimana rasionalitas sejarah jadi tolak ukur utama. Juga mengkritisi sejarah berdasarkan proses berjalannya peradaban.

Melandaskan sebuah klaim sejarah hanya berdasarkan satu asumsi, interpretasi bukti, atau pengujian karbon bukanlah klaim sejarah yang kuat. Posisi teks naratif dan dokumen yang tertulis dari sejarah justru lebih kuat dari batu nisan yang hanya memberikan informasi terbatas. Dia mengakhiri bahwa studi sejarah bersifat induktif lantaran sebuah teori berdiri diatas fakta-fakta spesifik dan relatif, sehingga kesimpulan analisa tidak akan mencapai kebenaran mutlak. Dengan begitu, klaim apapun baik itu pro-Barus atau Pro-Lamuri, bisa berubah dan salah jika temuan baru muncul. Bahkan dalam beberapa tahun saja teori sejarah yang ada hari ini bisa menjadi tidak valid.

Muhammad Haykal merupakan Mahasiswa Pascasarjana di jurusan Islamic History, Marmara University Turkey, juga mempertanyakan terkait landasan utama penetapan titik nol Islam Nusantara di Barus. sedangkan berdasarkan bukti peninggalan peradaban dan kebudayaan, Aceh lebih besar pengaruhnya dalam sejarah Islam di Nusantara.

Pemateri Ketiga, Khairul Azmi merupakan Akademisi Muda Aceh menyampaikan bahwa batu nisan yang ada di Barus tidak lebih tua dari pada batu nisan yang ada di Aceh, seperti halnya batu nisan di Barus bertuliskan Ummi Suy bertarikh 772 H/1370 M, Rukunuddin bertarikh 800 H/1397 M, dan syekh mahmud bertarikh 829 H/1425-6 M. Sedangkan batu nisan yang ada di Aceh, seperti batu nisan Malikussaleh bertarikh 696 H/1297 M, dan mahbub qulub al khalaiq bertarikh 622 H/1226 M. Dari sini bisa dibandingkan bahwa batu nisan di Aceh lebih tua dibandingkan di Barus.

Pemateri Keempat, Hermansyah merupakan dosen kajian manuskrip di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry menyebutkan bahwa peradaban Islam di alam Melayu Nusantara harus didukung oleh multi sumber otentik dan kajian komprehensif, antaranya naskah-naskah klasik ataupun sumber primer yang terkait langsung atau sumber pendukung akan sangat membantu merekonstruksi ulang sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Bahwa beragam sumber terkini yang diperoleh bahwa jaringan Islam dan peradabannya itu masih menguat pada Kesultanan Pasee (Pasai).

Sementara itu, Yudi Andika merupakan Sejarawan Aceh dan Kasie permuseuman dan pelestarian cagar budaya Disbudpar Aceh, menyebutkan bahwa dalam menentukan titik mulanya masuk Islam ke Nusantara terutama di Aceh memerlukan study konprehensif dengan membandingkan fakta-fakta sejarah dan menggunakan sudut pandang geografis akan arti pentingnya aceh sebagai bandar-bandar persinggahan masa lampau yang siap akan kedatangan agama islam. (REL/akh)