harianrakyataceh.com – Pertumbuhan bisnis transportasi online berupa ojek dan taksi cukup kinclong dan bisa bertahan di tengah pandemi. Tak heran jika banyak pemain ingin juga menikmati kue dari bisnis ini. Pemain terbaru di sektor ini adalah Maxim, aplikasi transportasi online berseragam kuning yang mulai mengaspal di Indonesia sejak 2018.

Maxim pernah mencoba menggoyang pasar ojek online dengan tarif yang super murah, yang berujung pada protes dan tindakan tegas dari regulator karena melanggar peraturan batas bawah tarif. Akibat pelanggaran itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir aplikasi itu pada awal tahun ini.

Setelah melakukan mediasi dan berjanji mematuhi regulasi tarif, Maxim mulai beroperasi lagi pada sekitar bulan September.

Namun, ternyata aplikasi berjaket kuning ini lagi-lagi melanggar tarif. Bukan hanya berpotensi merusak persaingan yang sehat, tarif yang kelewat murah itu menyebabkan para pengemudinya dibayar murah dan tidak mendapat perlindungan kesehatan yang memadai selama pandemi Covid-19.
Susanto (39 tahun) salah satu anggota Gabungan Paguyuban Driver Online Sumatera Selatan mengatakan kebijakan Maxim sangat tidak mensejahterakan karyawan. Menurutnya, Maxim yang sudah hadir sejak awal 2020 di Palembang tidak mengindahkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Perusahaan tidak menyediakan masker dan hand sanitizer bagi pengemudi dan penumpang. Saat aplikasi lain sudah menutup order ojol, mereka masih tetap mengangkut penumpang,” ujar Susanto.
Susanto melanjutkan, Maxim juga tidak memberikan asuransi kesehatan atau kecelakaan kepada pengemudinya. Asuransi wajib yang diharuskan oleh pemerintah berupa BPJS pun tidak disertakan saat mendaftar dan menjadi driver Maxim.

“Pernah ada tuntutan kepada pihak manajemen, namun solusinya malah meminta driver Maxim mengurus dan membayarkan dengan uang pribadi BPJS tersebut. Saat driver mendapatkan musibah kecelakaan, dari pihak Maxim sama sekali tidak memberikan bantuan apapun baik materi maupun moril,” ujar Susanto.

Tarif atas dan bawah yang ditetapkan oleh Maxim juga sangat kecil dan hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi ditambah dengan potongan komisi perusahaan dan pajak yang cukup besar hingga 11-13 persen per order, lanjut Susanto.

Keluhan yang sama disampaikan Rudi (35 tahun) yang tergabung di Komunitas Ojek Online Palembang.

Sebagai pengemudi yang bergabung sejak aplikasi ojek online beroperasi di Kota Pempek itu, ia merasakan tarif bawah yang diberlakukan Maxim membuat pendapatannya terus menurun dari hari ke hari. Pasalnya, pelanggan yang setia menggunakan transportasi online tempatnya bekerja sekarang beralih ke Maxim karena tarif yang jauh lebih murah.

“Semenjak ada Maxim, pendapatan saya terus menurun hingga 50% dari biasanya, ditambah lagi keadaan di Palembang masih belum bisa dikatakan normal karena adanya pandemic Covid-19, yang belum usai,” papar Rudi.

Rudi juga menambahkan bahwa Aliansi Gabungan Paguyuban Driver Sumsel sudah sempat melayangkan surat baik langsung maupun terbuka kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) selaku regulator yang mengeluarkan aturan tentang tarif batas atas dan bawah untuk transportasi online roda empat dan roda dua dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang mengatur izin operasi sebuah aplikasi digital atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Maxim. Namun hingga tulisan ini diturunkan, surat yang telah dikirimkan sejak pertengahan Oktober lalu belum juga mendapatkan tanggapan dari dua Kementerian tersebut.

Sebelumnya, pada bulan Agustus, puluhan driver Gojek dan Grab mendatangi kantor Ombudsman Sumatera Selatan, untuk mengadukan ketidakadilan karena Maxim yang masih bisa menerima orderan penumpang di tengah masa pandemi, sementara ojek online lain hanya boleh melayani pengiriman makanan dan barang.
Rizal, salah satu driver yang ikut dalam unjuk rasa itu, menjelaskan, “Kami disini melaporkan bukan karena iri atau pun mau mau menutup PT Maxim, tapi kami butuh keadilan kenapa Maxim bisa orderan ride sedangkan kami hanya orderan ekspress dan food saja,” kata dia.

Sampai saat ini, pihak Maxim masih belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan serta penjelasan perihal tarif perusahaan yang masih di bawah tarif bawah transportasi online di Indonesia. Semoga kedepan, dari pihak Maxim dapat memberikan jawaban atas keresahan yang terjadi masyarakat. (rk)