Bersama Ulama, H. Ramli MS Beberkan Kesan Aceh di Mata NU

Bupati Aceh Barat H. Ramli MS bersama Ulama, di Pasantren Arrauzatun Nabawiyah, Desa Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Senin (28/12).

Meulaboh – Hadiri peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan HAUL Dayah Arrauzatun Nabawiyah Ke-33, Bupati Aceh Barat H. Ramli MS, mengungkapkan fakta pemuka agama asal Nahdlatul Ulama (NU), sangat memuji muslim Aceh yang sulit untuk diadu-domba.

“Ini pengakuan beberapa hari lalu, seorang ulama asal NU yang diucapkan saat menghadiri konferensi Wilayah ke-14 NU, di Banda Aceh,” ungkap H. Ramli MS saat berada di Pasantren Arrauzatun Nabawiyah, Desa Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Senin (28/12).

Pandangan ulama asal NU, menyebutkan ‘Dayah’ merupakan tempat mendidik para santri, yang kelak melahirkan pemuka agama islam berkualitas, hingga mampu menjadi ruh bijaksana di tengah masyarakat Aceh.

“Jika beliau-beliu di Jakarta agak kesulitan dan rawan terombang-hambing, tapi Aceh begitu kokoh dan sulit untuk diobok – obok,” ucap Ramli MS, mengulang kesan Ulama NU Pusat.

Barisan muslim di Aceh, tergolong sangat harmonis dan kuat antara satu dan lainnya. Apalagi keteguhan hati terhadap ilmu Allah SWT, yakni Al-Qur’an dan Hadist. Bahkan mindset masyarakat Aceh tergolong cerdik, dengan tetap khittahnya agama Islam.

Mengaku wajar, jika suasana hati Ramli MS sangat meneduhkan ketika berada di tengah-tengah kalangan ulama dan santri. Bahkan ia meneguhkan diri akan tetap berada dalam barisan tersebut, karena mampu memberikan keselamatan iman.

Ulama dan Dayah, sebut H. Ramli MS, bagian dari pendiri bangsa, pemersatu bangsa, pengawal bangsa dan juga pelindung bagi negara.

Sebelum reformasi, ulama Dayah mulai dijauhkan. Itu awal dari krisis moral, sampai tindakan kerusuhan merajalela di mana-mana. Memasuki reformasi, ulama kembali dijadikan panutan dan menjadi tempat meminta nasehat dan petuah.

“Sekarang, kalau bisa pemerintah tidak menjauh dari ulama lagi, agar bangsa ini tetap tentram dengan nilai budayanya,” harapnya.

Kisahnya, saat Ramli MS akan mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Barat, ia tidak pernah bertandang ke tempat ulama dan dayah, semata tidak ingin melibatkan peran mulia tersebut, sebagai ‘mesin politik’. Namun, saat ia telah berhasil menjabat kepala daerah, baru mulai mengandeng ulama agar memberikan motivasi dalam persatuan dan kesatuan bangsa, baik urusan negara dan menjalankan program daerah.

Khusus Aceh Barat, H. Ramli MS, telah menganggarkan dana sebesar Rp. 10 Miliar, untuk program membangun dayah. “Sudah saya instruksikan Kepala Dinas Pendidikan Dayah supaya memusyawarahkan dengan ulama tentang penggunaan dananya, agar tepat sasaran,” jelasnya.

Tujuannya, selain demi memajukan Dayah, juga tidak memberikan sedikit peluang kepada orang lain, baik berasal dari dalam maupun luar negeri, untuk dapat masuk menghancurkan pasantren.

“Biar pondasi daya sebagai tempat melahirkan ulama, lebih maju dan tetap kuat dari upaya provokatif pihak lainnya,” asumsinya.

H. Ramli MS juga berpesan para khatib dan ulama tetap menyampaikan dakwah, tanpa terlibat politik. Tapi, jika ingin berpolitik, maka berpolitik demi menegakkan agama Allah SWT.

“Mari kita teladani kepemimpinan Rasulullah dalam rutinitas sehari-hari agar kita semua menjadi ummatnya dan selamat iman,” harapnya.(den)