Ikhlas, Yatim Piatu karena Tsunami

Mengobati Luka, Merawat Rindu di kuburan Massal

Warga memanjatkan doa di kuburan massal Ulee Lhue, Sabtu (26/12). (muammar/rakyat aceh)

Oleh : Ghifari Hafmar, BANDA ACEH

Ikhlas (26) seorang penyintas tsunami Aceh kini benar-benar mengamalkan namanya, ikhlas menerima takdirnya sebagai yatim piatu. Tsunami pada 26 Desember 2004 silam, telah merenggut harta paling berharga dalam hidupnya, yakni keluarga tercinta.

Selamat dari musibah tsunami dan kini hidup sebatang kara, tak membuat Ikhlas lupa akan setiap peristiwa detik-detik saat ia berpisah dengan kedua orang tuanya.

Meski enam belas tahun sudah berlalu, ingatanya masih sangat kuat, Ikhlas mencoba tetap tegar dan tabah menerima cobaan dari Allah SWT.

Sesekali setiap rasa rindu itu menyapa, Ikhlas mengirimkan beberapa doa untuk keluarga tercinta. Pun demikian saat peringatan 16 tahun tsunami Aceh. Ia selalu menyempatkan hadir setiap tahunnya di kuburan masal Ule Lheu, Banda Aceh. Disitulah Ikhlas melepaskan merawat rindunya walau hanya sebentar. Iringan doa dan dzikir di panjatkan untuk seluruh keluarganya, meskipun ia mengaku tidak pernah mengetahui dimana almarhum jenazah keluarganya dikuburkan.

Di kuburan massal Ule Lheu, Ikhlas tidak sendiri, ada puluhan warga lainnya yang sedang melantunkan doa dan ayat suci Al -Quran untuk para keluarga mereka yang syahid karena musibah gempa dan tsunami.

kepada Harian Rakyat Aceh, Ikhlas mencoba membagi sedikit kisah pilunya. Mengenakan kain sarung dan baju koko, ia duduk berdekatan dengan batu nisan, yang menandakan bahwa ada banyak jenazah korban tsunami yang dikubur disitu.

Suaranya yang tegas dan sorot matanya kosong, menandakan Ikhlas mencoba untuk tetap tegar dan pikirannya seakan menerawang seperti mencoba mengigatkan kembali kejadian enam belas tahun silam.

Perlahan ia mulai bercerita. ketika itu, minggu pagi. Saat gempa terjadi, ia sedang menoton TV bersama keluarga di rumahnya di Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Ikhlas sendiri anak kelima dari delapan bersaudara, saat itu usinya baru berumur 10 tahun.

Ikhlas masih sangat ingat ketika gempa terjadi orang tuanya sedang berada di pasar, saat gempa sedang jeda, ibu dan bapaknya sudah kembali kerumah. nah dari situlah ia melihat orang berhamburan keluar rumah sambil meneriaki bahwa air laut naik.

“Saya waktu itu di lorong rumah. Saya beritahu kepada orang tua bahwa air laut naik. kemudian berpisah dengan keluarga. Waktu gempa memang semua kami berada di rumah. “jelas Ikhlas dengan suara yang pelan.

Selanjutnya, Ikhlas pun hanjut dibawa air. Beruntung ia selamat setelah memegang tabung gas LPJ, sehingga membuatnya terapung. Kemudian ia pun segera naik ke atas rumah salah seorang warga.

“Ketika air mulai surut, saya jalan ke arah kota sendiri sampai ke PLTD Apung. disitu saya jumpa dengan abang sepupu. Dan keluarga saya sampai hari ini tidak dapat diketahui, “sebut Ikhlas mengenang masa silamnya.

Sejak saat itu, ia pun dijadikan anak angkat oleh salah seorang warga dan memulai hidupnya kembali. Walau demikian Ikhlas merasa ada yang kosong dalam hidupnya. Ia pun memilih menyimpan setiap bait-bait doa yang akan dipanjatkan untuk seluruh keluarganya.

“Banyak doa yang ingin saya sampaikan, tapi ndak usah saja ceritakan ya apa isi doanya. Separuh jiwa saya hilang bang. Hari-hari saya terasa kosong. hanya doa yang bisa saya panjatkan, saat rindu dengan kedua orang tau saya, “kata Ikhlas yang mencoba tabah dan tegar.

Ikhlas teruslah menjadi sosok yang Ikhlas. Melanjutkan hidup dengan sabar dan tabah. Semoga segala cobaan dan kesedihannya dibalas dengan surganya oleh Allah SWT.