Cegah Penyebaran Covid, Gerakan Pemuda Sehat Latih Puluhan Relawan Gampong

harianrakyataceh.com – Puluhan relawan desa mendapatkan pelatihan penanganan Covid-19. Para relawan tersebut diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa inspirasi dalam penanganan Covid-19 di provinsi Aceh.

Pelatihan tersebut diinisiasi oleh Gerakan Pemuda Sehat dengan menghadirkan empat pemateri sebagai pembicara yaitu Ir Sunawardi Msi (Kepala Pelaksana BPBA), M Hasan Bangka (Sekjend Forum PRB Aceh), Muhadzdzier M. Salda (Ketua LPBI NU Aceh), dan Zulfahmi Hasan (Koordinator P3MD Aceh).

Pelatihan yang berlangsung pada Kamis 31 Desember 2020 tersebut digelar di Hotal Grand Aceh Syariah dan diikuti oleh 70 peserta yang terdiri dari perwakilan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Pendamping Desa yang tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Gerakan Pemuda Sehat (GPS) Provinsi Aceh, Isnadi Nusantara, mengatakan setelah pelatihan ini diharapankan para peserta akan menjadi pelopor dalam pencegahan Covid – 19. Mengingat para Pemuda dan Pendamping Desa selalu ada di tengah – tengah masyarakat.

“Pemuda dan Pedamping Desa bisa dikatakan sebagai garda terdepan untuk menjadi pelopor pemutusan mata rantai dari penyebaran virus corona,” ujar Isnadi Nusantara.

Selain itu, Gerakan Pemuda Sehat juga mendukung kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Covid – 19. Isnadi menyebutkan, pihaknya terus mensuport dan mendukung Pemerintah Aceh untuk pencegahan covid hingga pandemi ini berakhir.

“Perlu peran semua kompenen terutama Gerakan Pemuda Sehat yang selalu siap untuk menjadi pelopor dalam upaya pencegahan Covid-19,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBA, Sunawardi, mengatakan selama pandemi berlangsung banyak aktivitas yang sangat terbatas. Akibatnya ekonomi masyarakat terkuras, angka kemiskinan bertambah, sebagian karyawan kehilangan pekerjaannya dan sebagainya.

“Namun kondisi tersebut berangsur membaik. Saat ini kita dihadapkan dengan kondisi new normal. Dimana kita semua harus terbiasa melakukan segala aktivitas dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sunawardi, mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir walaupun sudah banyak aktivitas yang mulai dibuka. Dia menyebutkan bahwa pandemi akan berakhir jika terjadi dua hal. Pertama, apabila para pasien yang telah dikonfirmasi positif Covid-19 dapat sembuh setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kedua, jika anggota masyarakat lainnya memiliki imun tubuh yang kuat.

“Saya berharap para relawan ini dapat menjadi ujung tombak agen perubahan perilaku di kalangan masyarakat, sehingga protokol kesehatan dapat dilaksanakan dengan lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Sekjend Forum PRB Aceh M Hasan Bangka menjelaskan mengapa protokol kesehatan sukar dipatuhi oleh masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang pasti terkait penyebaran Covid-19.

“Kemudian pemerintah dan masyarakat belum punya pengalaman terkait pencegahan Covid-19 sebelumnya. Serta banyaknya penyebaran berita bohong di media sosial yang menyebutkan bahwa Covid-19 merupakan konspirasi,” ujar Hasan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Hasan mengharapkan adanya penyadaran terhadap dampak bahaya penyebaran Covid-19 dari dalam diri sendiri. “Tanpa danya kesadaran dari diri sendiri tentu akan sangat sulit memutuskan penyebaran virus ini. Selain itu juga perlu adanya pengelolaan informasi yang jelas, sehingga masyarakat tidak dibuat bingung dengan informasi yang beredar,” katanya.

Sementara itu Ketua LPBI NU Aceh, Muhadzdzier M. Salda, menyebutkan berdasarkan data di laman covid-19 penderita terbanyak pada usia muda. Penderita usia 31 – 41 tahun mencapai angka 30,9 persen. Kemudian disusul hampir seperempat masyarakat pada usia 19 – 30 tahun. Adapun usia di atas 60 tahun hanya mencapai 10,4 persen.

“Meski demikian, penderita di usia produktif tersebut lebih banyak sembuh dengan angka mencapai sekitar 55,6 persen. Sebaliknya tingkat kesembuhan pada usia 60 tahun ke atas hanya 9,2 persen. Hal tersebut berdampak pada resiko kematian yang semakin tinggi di usia tersebut,” pungkas Muhadzdzier.

Muhadzdzier menyebutkan, golongan usia muda berpotensi menularkan kepada golongan tua usia 60 tahun ke atas. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi rentan golongan tua yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, jantung, dan paru-paru. (rus)