Harga Kedelai Tinggi, Pengusaha Tempe Resah

Pekerja pembuatan tempe sedang memproduksi tempe di Desa Uteun Bayi Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Senin (4/1).  (ANTARA/Dedy Syahputra)

LHOKSEUMAWE (RA) – Pengusaha tempe di Kota Lhokseumawe melalui resah akibat harga kacang kedelai impor melambung tinggi hingga 40 persen sejak dua pekan terakhir.

Seperti yang dikeluhkan oleh salah seorang pengusaha tempe Jafar Usman di Desa Uteun Bayi Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe yang terpaksa memperkecil ukuran dan jumlah produksi hariannya.

“Jumlah produksinya terpaksa kita turunkan, mengingat harga kacang kedelai sejak dua pekan terakhir melambung tinggi,”kata kata Jafar di Lhokseumawe, Senin (4/1).

Menurutnya, meskipun harga kacang kedelai naik tajam hingga 40 persen yakni dari harga normal Rp7.500 menjadi Rp10.000, pihaknya tetap mematok harga jual tempe dengan harga seperti biasa.

“Harga jual tempe di pasaran tetap sama seperti biasanya, hanya saja ukurannya kita perkecil,”katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga terpaksa mengurangi jumlah pekerja akibat kurangnya pendapatan dari produksi. Hal tersebut ditempuh demi mengoptimalkan usahanya agar tidak gulung tikar.

Ia menyebutkan, pasca libur tahun baru, para pengusaha tempe mulai memproduksi kembali tempe, namun pengusaha mengeluhkannya sulitnya mendapatkan bahan baku.

“Karena mahalnya harga kedelai impor sejak dua pekan terakhir, mengakibatkan pengusaha di Kota Lhokseumawe sulit mendapatkan bahan baku pembuatan tempe, sehingga harus memesan kedelai impor di Medan dengan harga Rp 10 ribu,”kata Jafar.
“Kondisi seperti ini karena minimnya kedelai lokal yang mengakibatkan pengusaha tempe harus memesan kedelai impor,” sambungnya.

Jafar menambahkan, jika harga bahan baku pembuatan tempe terus mengalami kenaikan, maka yang dikhawatirkan usaha mereka terpaksa tutup.

“Kalau kondisinya seperti ini terus, usaha kami terancam gulung tikar karena nilai jual tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan,” katanya.

Jafar mengaku biasanya dalam sehari mampu memproduksi kacang kedelai hingga satu ton untuk pembuatan tempe, namun saat ini hanya 700 kilogram saja.

“Biasanya sehari kita produksi hingga satu ton perhari, tapi sekarang hanya 700 kilogram. Saya juga sudah mengurangi sebanyak delapan karyawan, karena berkurangnya pendapatan,”katanya.

Dirinya berharap agar pemerintah dapat mengsubsidi harga kacang kedelai impor atau setidaknya dapat menstabilkan kacang kedelai lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan tempe.

“Jangan sampai pengusaha tempe harus bergantung pada kedelai impor yang tidak stabil harganya, karena tempe sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Mudah-mudahan kedelai dapat stabil seperti sebelumnya,” kata Jafar Usman. (ant/icm)