Seorang pengunjung menyumbangkan bacaan saat digelar salah satu edisi MIBARA (minggu baca rame-rame) di lapangan Blang Padang, Banda Aceh

Banda Aceh – Meski tahun 2020 identik dengan tahun pandemi COVID-19, namun hal itu tidak mengurangi semangat masyarakat menyumbangkan bahan bacaan kepada taman bacaan masyarakat (TBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh.

Hal tersebut diungkapkan Fadillah Islami, S. IKom., Ketua TBM yang berada di bawah Lembaga Pendidikan dan PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) Ruman Aceh di sekretariatnya di Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh pada Selasa (12/1/2021) siang.

“Sepanjang tahun 2020 lalu, kita menerima sumbangan 1.716 bahan bacaan dari berbagai lapisan masyarakat, baik di dalam mau pun di luar Aceh. Ternyata, semangat masyarakat kita dalam berbagi masih tetap positif”, ujar Fadil.

Dari 12 bulan, ujar Fadil menambahkan, hanya pada Mei yang kosong donasi bacaan. Sedangkan yang paling banyak ada pada Juli, berjumlah 509 bacaan sumbangan. Nah, dalam 11 bulan tersebut, Ruman Aceh menerima donasi sebanyak 78 kali.

“Sumbangan 1.716 bacaan itu terdiri dari 1.594 buku dan 122 majalah, tabloid dan jurnal. Sedangkan dari segi penyumbang terdiri dari 72 orang per orangan dan 6 komunitas atau institusi. Alhamdulillah, terima kasih atas kepercayannya. Semoga barakah selalu”, imbuh Fadil.

MIBARA Ditiadakan

Sementara itu, Pembina TBM RUMAN Aceh, Ahmad Arif mengatakan, sejak wabah COVID-19 terdeteksi di Banda Aceh pada awal Maret 2020 hingga kini, pihaknya meniadakan wisata buku gratis MIBARA (minggu baca rame-rame) yang digelar setiap pagi hari Ahad di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, mulai pukul 7 hingga 11 siang.

“Walau berat, kita langsung memutuskan untuk meniadakan kegiatan pekanan yang telah digelar secara rutin sejak 18 Mei 2014 lalu itu sebagai ikhtiar membantu upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran virus tersebut”, ungkap Arif.

Padahal, lanjutnya, MIBARA merupakan upaya menjemput bola yang paling efektif dalam mengatrol minat baca masyarakat. Karena mereka bisa menikmati beragam bacaan bernas dan berkwalitas secara gratisan, baik membaca di lokasi mau pun meminjam selama sepekan.

“Kita harus mampu berdamai dengan realitas kekinian, agar virus tersebut tidak semakin menyebar. Meski demikian, pustaka di basecamp kita tetap dibuka. Tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan”, kata Arif yang khidmahnya bersama tim Ruman Aceh didokumentasikan dalam buku “Tokoh-tokoh yang mencengangkanku, vol. 2”, karya Abdul Hamid Lc., M.Ag.