Nazarullah, S. Ag, M. Pd

Oleh: Nazarullah, S. Ag, M. Pd

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena, bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada ada bagian dari apa yang mereka uhakan, dan Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nisa: 32)

MEUKU’EH adalah ungkapan bahasa Aceh yang sarat makna dan termasuk dalam bagian akhlak yang tercela. Meuku’eh sama maknanya dengan dengki, iri, khianat dan tamak dalam pelajaran pendidikan akhlak islam.

Meuku’eh adalah merupakan penyakit yang ada di hati manusia. Penyakit ini sangat membahayakan bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Karena dia selalu berharap agar orang lain tidak merasakan kenikmatan atau kebahagian bahkan dia selalu berharap nikmat orang lain itu dicabut darinya.

Meuku’eh merupakan bahagian dari penyakit batin, dan muncul tatkala melihat orang lain menggapai kesuksesan, baik dalam pendapatan ekonomi, kakrir, pendidikan, ide, dan gagasan. Ku’eh dalam bahasa agama Islam juga disebut dengan iri.

Sifat iri, kebanyakan terjadi dalam kalangan masyarakat adalah munculnya tindakan kriminal dalam upaya untuk menjatuhkan orang lain dengan cara negatif.

Orang yang berperilaku ku’eh sangat berbahaya dalam kehidupan masyarakat karena dia selalu membuat resah dan gelisah orang lain yang tidak disenanginya. Sehingga, dalam pikirannya selalu muncul ide-ide negatif untuk membuat orang lain sengsara atau celaka.

Dalam keseharian hidupnya, orang seperti ini selalu berpikiran negatif dan memunculkan ide negatif untuk menyerang orang-orang yang tidak disenanginya dengan berbagai cara termasuk dengan tindakan memfitah.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Hasanuddin Yusuf Adan diungkapkan bahwa: “Di Aceh, kueh itu sudah mendarah gapah dalam kehidupan masyarakatnya, mulai kalangan Abra’u, kalangan Geuleugong, kalangan Apa Ta’a, Apa Kapluk, kalangan meungap sampai kepada kalangan Politikus, Intelektual, Ulama, Teungku, rakyat jelata dan para penguasa”.

Akibat dari sifat meukueh dalam kalangan berbangsa dan bernegara di Aceh, hampir setiap saat dan setiap tempat kita dapati kegaduhan dan saling membenci antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hal ini bisa terjadi dalam masyarakat, organisasi, partai, dan juga dalam kedinasan.

Kegaduhan ini disebabkan karena ada kelompok atau perseorang yang senantiasa memposisikan dirinya sebagai yang paling benar dibandingkan yang lainnya.

Perilaku ku’eh atau meuku’eh biasanya muncul dari orang-orang yang jahil atau bodoh yang punya kepentingan tertentu untuk diri sendiri seperti tamak yang berlebihan dengan tujuan menghancurkan orang lain sembari menutup kebodohannya sendiri.

Karakteristik orang seperti ini adalah, jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya.

Kegoncanagan Jiwa

Memiliki sifat dengki, iri atau ku’eh sangat berpengaruh kepada kejiwaan seseorang. Orang yang memiliki sifat ini akan senantiasa diselimuti dengan rasa duka cita dalam hatinya, bahkan orang yang memiliki sifat ini jiwanya juga senantiasa goncang.

Dan masalah ini jangan dianggap persoalan sepele dalam kehidupan. Tapi sebenarnya inilah satu bentuk azab yang segera didapatkan dan dirasakan di dunia bagi orang yang memiliki sifat ku’eh.

Hal ini dapat kita analisa, setiap kali dia melihat suatu nikmat yang Allah anugerahkan untuk orang lain, hatinya merasa benci dan sibuk memikirkan agar nikmat yang sedang dirasakan orang lain itu segera hilang.

Jika upayanya gagal, dia terus mencari cara lain dan ujung-ujung bahkan bisa memunculkan fitnah kepada orang yang diincarnya. Jika fitnah yang dilancarkannya juga tidak berhasil, maka hatinya akan semakin panas dan terus menerus gelisah serta gundah gulana.

Jiwanya tidak bisa tentram, hidup penuh kegoncangan serta selalu dalam kegelisahan. Hatinya panas, batinnya tersiksa, dan emosinya tidak stabil sehingga menjadi pembenci. Pada saat dia melihat kenikamatan itu terus ada pada orang lain yang di ku’eh-nya tidak hilang juga, maka tekanan darahpun akan meninggi.

Sampai dengan tahap ini, bila tubuhnya tidak kuat, maka resiko terbesar yang akan dialaminya adalah strok atau bahkan serangan jantung. Bahkan seringkali orang yang berpenyakit ini kita dapati, sedang duduk atau makan, tiba-tiba badannya terkulai dan robah ke lantai, mungkin hanya keajaiban dan kekuasaan Allah lah yang menolongnya sehingga dia bisa beraktifitas kembali. Belumkah ini menjadi pelajaran?

Oleh karena itu, yang harus kita ambil dari ‘ibrah ini adalah, kedengkian seseorang itu tidak akan mengubah keputusan Allah SWT. Nikmat yang Allah titipkan tidak akan pernah hilang lantaran kedengkian orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap nikmat Allah itu memiliki musuh. Seseorang bertanya kepada belia:”Siapa mereka itu ya Rasulullah”? Nabi menjawab: “yaitu mereka yang dengki kepada manusia, lantaran apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka dari karunia-Nya”. (HR. Thabrani dan Ibnu Abbas)

Menutupi Kesalahannya

Kita dapati dalam ke seharian, pelaku ku’eh itu umumnya adalah orang-orang yang sudah menjadikan dusta sebagai pakaiannya. Kaazib atau dusta, sudah menjadi makanannya dalam keseharian. Bila dia diberikan kepercayaan dan tidak bisa menuntaskan tugas yang dipercayakan itu, ujung-ujungnya orang seperti itu akan mencari “kambing hitam” untuk dijadikan tumbal terhadap teguran pimpinan yang di alamatkan kepadanya.

Maka pada saat tersebut, mulailah dia berdusta dengan mengarang-ngarang yang seolah-olah pekerjaan yang tidak siap dia lakukan disebabkan karena orang lain.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur didustakan”. Fenomena yang disinyalir oleh baginda Muhammad SAW 14 abad yang lalu sudah muncul pada zaman ini dan telah banyak memakan korban.

Bila hal ini terus dipelihara dalam instansi pemerintah, masyarakat, dan organisasi, besar kemungkinan perilaku ku’eh meu ku’eh tidak akan pernah hilang dan tidak akan pernah padam. Ku’eh meu ku’eh akan terus hidup subur dan terpelihara, fitnah akan terus meraaja lela. Saling curiga akan bermunculan seperti cendawan di musim hujan.

Akhirnya, jadilah peukateuen ku’eh (perbuatan dengki) seperti “Geuleugong” (istilah dalam bahasa aceh terhadap makhluk yang tidak berwujud) yang akan menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial masayarakat.

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor PAI pada program Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh.

Editor: Rusmadi