kursi (ist)

Oleh: Tgk H Roni Haldi, Lc

Kalau disebut kursi, langsung tergambar dalam pikiran kita pada sebuah benda yang punya kaki. Ada yang empat kaki seperti biasanya kursi di Rumah, kantor dan tempat-tempat lain. Ada juga yang punya dua kaki seperti kursi santai atau kursi diruang tunggu.

Dan bahkan ada juga yang hanya miliki satu kaki saja bukan dua, tiga atau empat, seperti kursi di tempat pangkas rambut. Mohon maaf, kalau ada jenis lain dari kursi yang tidak kami sebutkan, boleh-boleh saja ditambahkan.

Kursi kehadiran dan keberadaannya penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam ibadah pun juga dimasuki oleh yang namanya kursi. Perhatikaanlah bagaimana jadinya kalau seorang khatib yang menyampaikan khutbah jum’at setelah khutbah pertama saat ingin duduk diantara dua khutbah tapi tak mendapati sebuah kursi?.

Tentu sang khatib akan kebingungan, apa mengambil sikap duduk lesehan seperti di cafe atau kasih kode alam ke pihak pengurus mesjid yang bersangkutan?

Tak perlu diperpanjang, cukup kita hanya berpikir bahwa begitu pentingnya keberadaan sebuah kursi termasuk dalam beribadah.

Nah, apatah lagi keberadaan sebuah kursi dalam sebuah institusi atau organisasi apapun. Entah itu sebuah sekolah, yayasan, kantor, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, organisasi politik. Kursi sering diartikan sesuatu yang bergengsi penuh prestise dibanggakam. Sebuah kursi dalam suatu institusi atau organisasi tentu tak sama.

Antara sosok yang berada pada posisi ketua atau kepala, kursinya biasanya berbeda dengan bawahan, staf atau anggota biasa apalagi masyarakat yang datang berurusan pastilah menempati kursi tunggu.

Kursi kepala kantor atau ketua organisasi biasanya tidak boleh sembarangan diduduki oleh siapa saja sesuka hatinya. Karena kursi kepala atau ketua adalah simbol kewibawaan suatu lembaga. Menariknya, entah kenapa kalau berganti pimpinan suatu institusi atau organisasi maka bertukar berganti pula kursi yang akan didudukinya alias akan ada pengadaan kursi baru untuk pimpinan. Jangan tanya saya apa penyebabnya.

Intinya sebuah kursi merupakan simbol perbedaan yang membedakan kedudukan dan status sosial keseharian manusia.

Dikarenakan kursi adalah wujud simbol perbedaan yang di atasnya mengandung sebentuk kebanggaan, maka acapkali diusahakan diperjuangkan.

Atau istilah orang sekarang “diperebutkan” oleh banyak orang yang ingin. Karena ada juga segelintir orang yang tak ingin walau sudah ditawarkan dipinang. Apakah itu juga yang menyebabkan banyak peperangan dan pertumpahan darah dalam bentang sejarah hidup manusia? Bahkan dalam sejarah Islam pun tak luput dari catatan kelam gara-gara perebutan kursi.

Dimulai sejak masa ke-khalifahan berlanjut ke masa dinasti atau bani hingga era modern sekarang. Maka tak heran jika kita yang hidup zaman digital dalam era yang mendengungkan demokrasi adanya persaingan dan perebutan posisi tertinggi dalam perpolitikan dan pemerintahan demi sebuah kursi.

Yang menang dia akan menduduki kursi presiden, gubernur, bupati walikota, anggota dewan, hingga kepala desa. Ada yang terpilih tentu dan ada juga yang tak terpilih.

Tentu yang terpilih akan mendapat menduduki sebuah kursi yang di cari diusahakan. Itulah pentingnya sebuah kursi.

Berhenti di sini dulu cerita tentang pentingnya dan se-berharganya sebuah kursi. Ada hal terpenting yang acapkali dilupakan oleh banyak orang terutama bagi mereka yang sudah punya kursi. Bahwa hakikat sebuah kursi itu adalah amanah.

Makanya tak perlu gembira apalagi jumawa saat diberi kesempatan duduk menikmati empuknya sebuah kursi. Besok atau lusa, hanya soal waktu saja. Sudah pasti kursi yang sedang anda duduki akan diambil kembali.

Menurut aturan yang berlaku sudah habis masa jabatan atau periode kepemimpinannya telah usai. Artinya sifat kursi itu selaku temporer sementara waktu saja. Maka beruntunglah orang yang memahami dengan baik lagi benar hakikat sebuah kursi.

Karena sebuah kursi adalah simbol amanah bukan kebanggaan. Dititip diberi ke kita untuk diduduki sementara waktu bisa jadi dikarenakan kompetensi yang kita miliki, hubungan baik yang terjalin, penilai jatuh kepada kita karena lebih baik dari yang buruk kinerja, atau ada juga yang hasil usaha saat suksesi alias balas budi.

Tapi yang jelas apapun penyebab kita memperoleh sebuah kursi besok lusa pasti akan berakhir diganti diambil kembali. ‘Ala kulli haal, kursi itu amanah bersifat sementara saja tak lama.

Memahami hakikat sebuah kursi akan membuat kita biasa saja tak larut dalam euforia. Buat apa berlebihan saat dapat kursi. Dapat kursi jabatan di usia muda, justru menakutkan mencemaskan karena kesempatan kaki kursi kita patah atau bukan hanya kaki, kursinya pun bisa jadi diambil kembali peluangnya terbentang panjang.

Hari ini kita bediri di depan berbicara disimak didengar, bisa jadi besok lusa saat kursi tak ada lagi.

Kita pula yang mendengar menyimak orang lain berbicara dihadapan kita. “Sakali ka ateh sakali ka bawah”, begitu pesan syair lagu Rafli penyanyi Aceh yang sudah melenggang ke senanyan. Maka syukuri saat duduk di kursi.

Nasehat sebuah kursi ini adalah utamanya untuk al faqir sendiri. Jika kita dipercaya diberi sebuah kursi. Yakinilah kursi itu adalah simbol amanah bukan yang lain, titik.

Jangan takut dengan kursi, tapi amanahlah memegang menduduki kursi. Maka tunaikanlah amanah itu dengan baik. Jangan pernah genggam erat kursi itu apalagi dimasukkan ke dalam hati berubah jadi kebanggaan diri.

Karena hakikat kursi adalah amanah sementara waktu saja, jadi takutlah dalam diri jika kita diberi sebuah kursi dan bersikap biasa saja lah saat kita sedang duduki sebuah kursi. Karena setiap kita yang telah menduduki kursi pasti akan di minta pertanggungjawaban di Hari Kiamat nanti.

Semoga tulisan sederhana ini tak menyurutkan langkah kaki dan maksud hati para manusia pencari kursi. Karena tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi hanya sebatas agar kita ingat akan pentingnya menunaikan amanah dari sebuah kursi yang diduduki. Dudukilah kursi itu dengan amanah.

Penulis adalah Penghulu KUA Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya.

Editor: Rusmadi