Pimpinan MPTT-I Asia Tenggara Abuya H.Amran Waly Al-Khalidy sedang menjelaskan keberadaan MPTT-I pada acara temu pers di markasnya Gampong Pango Raya, Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (26/01/2021). Rakyat Aceh/Imran Joni.

Harianrakyataceh.com – Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) tetap menghormati sikap MPU Aceh terkait belum ada titik temu untuk berdialog.

“Kami ingin bersilaturrahmi sekaligus berdialog tentang keberadaan MPTT Tasawuf ini,” ujar Abuya Syech H Amran Waly Al Khalidy dalam pertemuan dengan media, Selasa (27/1/21).

Sebelumnya kata Abuya ia sudah bertemu dengan Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan mengatakan MPTT ini rakyatnya dan MPU juga orangnya.

“Maka kami ingin juga bertemu dengan lembaga majelis permusyawaratan ulama tersebut,” jelasnya.

Sebagai lembaga pengkajian tasauf satu-satunya di Aceh, tambah Abuya tentunya banyak pendukung dan pengikut baik yang berada di Aceh maupun luar negeri khususnya di Asia Tenggara.

Namun ada juga yang tidak suka kata Abu Amran tetapi tidak ada masalah mungkin mereka mungkin belum faham saja, dan dirinya terus mengajak agar bersama-sama untuk ikut dalam majelis ini.

Ada satu dua ulama di Aceh lain yang diberitahu dan diundang tetapi mereka menolak dan mengatakan sesat.

“Saya diadu dengan ayah saya almarhum Syech Mudawali ini kan tidak benar. Masak saya melawan orang tua dan alhamdulillah kita jalan terus,” jelas Abu Amran yang juga penggagas Rateb Siribee di Aceh.

Menurut Abuya, pihaknya tetap punya niat baik sebagai ummat Islam tentunya harus ikhlas apapun pekerjaan yang dilakukan.

“Apa yang kita kerjakan hanya semata-mata menyerahkan diri kepada Allah SWT,” ujar Abu Amran.

MPTT kata Abu Amran merupakan sebuah majelis pengkajian tasawuf untuk berhimpun masyarakat belajar dan mengikuti pengajian tidak hanya di Aceh agar lebih memahami lagi ilmu agama Islam.

Terpisah, Wakil Ketua MPU Aceh Faisal Ali, mengatakan pihaknya tetap terbuka jika ingin silaturrahmi dan sudah menyampaikan balik kepada pengurus MPTT Aceh.

“Kita maunya yang datang langsung Abu Syech Amran Wali sehingga tau apa visi misi dari majelis ini sehingga bisa jelas disampaikan kepada masyarakat,” ujar Lem Faisal.

Justru beberapa kali surat yang disampaikan ke MPU Aceh bukannya kami menolak. Tetapi kami menunggu kabar dari MPTT kapan akan bersilturrahmi dan kami tetap “open’ terhadap lembaga apapun untuk berdiskusi,” demikian Lem Faisal. (imj/rus)