Petani Aceh Besar Kesulitan Peroleh Pupuk Bersubsidi

Kadis Pertanian Aceh Besar Ir Jakfar.

Harianrakyataceh.com – Petani Aceh Besar mengaku jarang membeli pupuk bersubsidi, karena kesulitan untuk memperolehnya. Pengakuan ini seperti diutarakan Jailani dan beberapa petani lainnya di Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar kepada Rakyat Aceh, Jumat (29/1).

Dirinya mengaku tidak pernah mendapatkan pupuk bersubsidi untuk digunakan di lahan sawahnya.

“Untuk pupuk yang mahal saja, kadang tidak ada di toko, apalagi yang murah (bersubsidi). Tahun-tahun kemaren, waktu saya tanya di penjual, sudah habis katanya. Untuk tahun ini belum tahu, mungkin kalau rajin mencari bisa dapat, kalaupun tidak banyak, ya sedikit,” ujar Jailani yang dibenarkan oleh sejumlah petani lainnya.

Berbeda dengan Jailani, Hasbullah, petani di Kecamatan Simpang Tiga sedikit beruntung. Kalaupun tidak memenuhi seluruh kebutuhan pupuknya, ia mengaku selalu mendapat pupuk bersubsidi tersebut walau hanya sedikit.

“Saya butuh pupuk setiap kali tanam 150 sampai 200 kg, kalau rajin saya cari, dapat 50 kg pupuk murah, beberapa kali saya dapat, tapi ada juga yang tidak dapat,” kisah Hasbullah.

Kepada Dinas Pertanian Aceh Besar Jakfar dihubungi Rakyat Aceh melalui seluler mengakui pupuk bersubsidi langka di pasaran. Menurutnya, ini dikarenakan kuota pupuk bantuan pemerintah itu kurang da tidak mencapai 50 persen dari kebutuhan pupuk untuk Aceh Besar dengan luas lahan 25 ribu hektar untuk musim tanam rendengan.

“Kebutuhan pupuk untuk 1 tahun di Kabupaten Aceh Besar 19 ribu ton, dan untuk tahun ini, kita diberi kuota pupuk bersubsidi sebanyak 8 ribu ton, lebih banyak 3 ribu ton dibanding tahun lalu. Tentu ini akan kita distribusikan secara merata ke seluruh kabupaten,” sebutnya.

Masih menurut Jakfar, tahun lalu Pemkab Aceh Besar pernah mengusul untuk penambahan jumlah pupuk bersubsidi. “Dan alhamdulillah diterima, awalnya hanya 3 ribu ton menjadi 5 ribu ton dan tahun ini menjadi 8 ribu ton, dan kalau tidak cukup, kita minta tambah lagi, apakah diberi tambahan atau tidak, terserah mereka,” ungkap Jakfar.

Mengenai sistem distribusi, kata Jakfar, pola yang dilakukan selama ini sudah sangat bagus, yaitu dengan melibatkan langsung kelompok tani. Kelompok Tani sudah mendata kebutuhan pupuk anggotanya sesuai dengan luas lahan. Selanjutnya, data tersebut dikumpulkan oleh penyuluh pertanian untuk diserahkan ke pihak pengecer atau distributor.

“Masing-masing kelompok tani punya Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), termasuk kebutuhan pupuk, benih, pestisida dan lainnya. Dan untuk mendapat pupuk subsidi itu, namanya harus terdaftar di RDKK tersebut,” jelas Jakfar.

Jakfar juga mengakui, Pemkab Aceh Besar memiliki badan pengawas khusus untuk mengawasi distribusi pupuk bersubsidi ini. “Kita punya KP3 (Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida) bersubsidi yang ketuanya Pak Sekda. Sebulan sekali akan turun ke lapangan untuk mengawasi agar pupuk bersubsidi ini tepat sasaran. Dan kita punya nama-nama serta alamat distributor atau pengecer pupuk bersubsidi di seluruh Aceh Besar. Pungkas Jakfar. (tar/slm)