Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si Guru Besar UNIMAL dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Aceh

Oleh : Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si

SETIAP orang yang beriman menyakini bahwa setelah menghadapi kematian ada masa perhitungan terhadap dirinya untuk mencapai tingkat kesuksesan atau gagal sama sekali yang diukur dengan tingkat ketakwaan orang tersebut. Berbedahalnya dengan orang yang tidak memiliki ilmu terhadap kehidupan nyata atau orang yang telah menutupi berbagai kebenaran yang diperlihatkan oleh pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya. Adalah kaum munafik dan kafir dimana mereka terbuai oleh “fata morgana” serta kesenangan sesaat dimuka bumi ini, sehingga mereka menjadikan kehidupan didunia sebagai tujuan akhir hidupnya.

Akibat dari penolakan terhadap taufiq dan hidayah yang diberikan, membuat hati kaum kafir tertutupi terhadap berbagai kebenaran yang disampaikan Rasulullah sehingga ia terombang ambing dalam kesesatan. Sehingga tujuan hidup yang seharusnya ia perioritaskan justru ditinggalkan, dan selalu mengejar kenikmatan sesaat yang membuat dirinya bergelimang dengan dosa. Berbagai kezaliman ia lakukan membuat nalar logikanya menjadi terbalik dan sesat yang membuat mereka sering menghalang-halangi orang lain untuk beribadah dan berbuat kebajikan.

Akibat ketidak tahuan dari kaum munafik dan kafir, membuat prilaku jahat terasa indah dalam pandangannya sehingga gelimangan dosa selalu mereka kejar bagaikan prestasi yang membanggakan. Tindakan menjijikkan dan merusak tatanan kehidupan sebagai mana yang diperlihatkan kaum yang menamakan dirinya sebagai “lesbian gay bisek dan trangender” (LGBT), menjadikan kaum sesat tersebut seolah golongan ekslusif yang modern. Pengalaman kelam yang pernah dilakukan “kaum luth” tersebut yang telah Allah SWT binasakan tidak mampu dijadikan sebagai pembelajaran yang baik dalam kehidupannya.

Peringatan yang yang disampaikan para rasul agar mereka terlepas dari lilitan dosa serta kabar gembira bila melaksanakan petunjuk yang benar dalam menapaki kehidupan ini selalu mereka dustakan, bahkan mereka siksa serta bunuh pembawa risalah kebenaran sehingga kezaliman dan kemungkaran menjadi indah dalam pandangan kaum sesat tersebut. Akibat dari kebodohan nyata yang mereka praktekkan, menjadikan mereka bangga apabila melakukan dosa-dosa serta malu dan gengsi apabila melakukan perbuatan yang hak dimuka bumi ini.

Tuntunan yang dibawakan Rasulullah cukup jelas yaitu agar manusia di dunia ini untuk mengerjakan amal kebaikan dan menjauhi terhadap berbagai penyekutuan terhadap Allah SWT. Dengan berupaya untuk melaksanakan kebajikan tersebut, menjadikan “barometer” (ukuran) terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam mengarungi kehidupan di muka bumi ini. Dengan konsep hidup yang cukup jelas tersebut, membuat umat yang beriman selalu berusaha untuk mengerjakan

kebaikan dengan taat dan sabar. Semua pekerjaan yang dilakukan diniatkan sebagai ibadah dengan mengharap ridha dari Allah SWT.

Prilaku dari kaum munafik dan kafir yang selalu menghalang-halangi untuk beribadah, merupakan bahagian dari tantangan dan ujian yang diterima dari orang beriman agar memperoleh tingkatan yang lebih tinggi. Dengan mampu menepis ajakan untuk menentang kebenaran serta selalu berusaha untuk membersihkan diri dari berbagai dosa, merupakan langkah tepat dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Harapan untuk dapat berjumpa dengan Allah Azz Wa Jalla yang dengan kasih sayang-Nya membuat orang beriman dapat meraih kemenangan yang hakiki.

Amal kabaikan yang dilakukan di dunia merupakan usaha nyata dalam meraih tempat di surga pada tingkatan sesuai dengan perbuatan yang dilakukan didunia. Hasil dari usaha manusia didunia akan diperlihatkan pada hari nyawa dipisahkan dari tubuh manusia. Pembelajaran yang sangat baik, ketika kita melihat umat yang bertakwa saat menghembus nafasnya terakhir dengan wajah yang berseri-seri sambil tersenyum ketika melihat tempat yang akan dihuni kelak diakhirat.

Bagi yang menentang terhadap petunjuk yang disampaikan oleh utusan Allah SWT, dengan kerusakan yang dilakukan dimuka bumi, ketika Nyawa berpisah dengan tubuhnya diperlihatkan neraka yang menyala-nyala sebagai tempat hunian diakhirat kelak. Kegagalan akibat dari kebodohanya dalam berprilaku di dunia ketika diperlihatkan dihari Nyawa-nya dicabut membuat ia gelisah yang dengan wajah yang kusam. Saat tersebut kesempatan untuk bertaubat sudah tidak ada lagi yang membuat dirinya menyesal dan kegagalan dalam menjalankan kewajiban di dunia baru disadarinya.

Kewajiban dari masyarakat yang melaksanakan “fardhu kifayah” khususnya untuk menyegerakan pemakaman merupakan tindakan yang bijak, karena orang yang meninggal ingin segera menikmati kenikmatan terhadap hasil usahanya ketika hidup di dunia. Amal ibadah yang dilaksanakan di muka bumi merupakan bekal yang sangat berharga dalam melaksanakan proses “hisap” (perhitungan) amal yang baik serta yang buruk untuk menentukan tempat yang bakal ditempati di akhirat.

Pemurnian akidah merupakan sikap yang mesti dilaksanakan bagi umat muslim. Kecintaan terhadap berbagai hal didunia jangan sampai terjerumus kepada kemungkaran serta merusak akidah, terperangkap pada dosa besar “syirik” yang amat dalam sehingga tidak dapat diampuni kesalahan tersebut. Berbagai persoalan yang dihadapi didunia ini hendaknya dimohonkan penyelesaiannya kepada pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya. Jangan sampai tergoda untuk menyandarkan kepada yang lain yang dapat merusak akidah dari tindakan tersebut.

Kaum munafik bila berada dalam kalangan orang beriman, ia bersikap dan menyatakan diri sebagai orang yang beriman. Namun ketika ia kembali kepada komunitasnya yang munafik dan kafir, ia mengatakan hanya memperolok-olokan kaum beriman. Sikap bagaikan “bunglon” tersebut dilakukan seakan-akan ia akan selamat dari berbagai kalangan. Padahal sikap yang tidak istikamah tersebut membuat dirinya terombang-ambing dalam kesesatan.

Menjadi mukmin yang baik dan istikamah bagaikan pohon yang besar, yaitu selalu diterpa angin kencang dan terkena sinar matahari. Namun dengan akarnya yang kuat mencoba untuk bertahan serta menjadi pelindung terhadap panasnya sinar matahari untuk berbagai mahluk yang berlindung dibawahnya. Berbagai cobaan serta fitnah sering ditujukan kepada mukmin yang taat dan kuat pendiriannya. Kriminalisasi sering mereka hadapi apabila tidak mau melaksanakan perintah dari penguasa yang “dhalim”.

Banyak ujian serta cobaan yang dihadapi kaum mukmin, seperti halnya kesenangan yang Allah berikan apakah ia akan lalai terhadap kewajiban yang mesti dilakukan. Begitu juga terhadap ujian dengan berbagai masalah dan kesulitan, apakah mukmin tersebut mampu untuk bersabar. Semua ujian yang diberikan merupakan proses terhadap kenaikan tingkat ketakwaan yang akan diraihnya.

Muhammad SAW mencontohkan bahwa umat mukmin yang istikamah bagaikan lempengan emas. Kemana pun dicampakkan, ia tetap bersih dan bersinar. Bila dibuang dalam selokan yang kotor, ia tidak akan berkarat dan tidak berubah warnanya, tetap berkilau dan indah untuk dipandang mata. Logam mulia tersebut sangat bagus digunakan untuk menghantarkan berbagai arus elektro dan digitalisasi lainnya. Unggulnya logam tersebut, sebagaimana unggulnya umat mukmin dalam kehidupan masyarakat.

Umat mukmin lebih mendahulukan diri kepada jalan untuk takwa. Karena takwa merupakan kesuksesan hakiki dunia dan akhirat. Gemerlapnya dunia tidak menggoyahkan tingkat keimanan kaum mukmin. Keindahan “fata-morgana” dunia sering mengecohkan manusia yang kurang ilmu serta tuntunan agama. Sehingga sering terjebak dalam kesenangan yang semu dan melalaikan. Keberhasilan mukmin dunia dan akhirat adalah dengan semakin tingginya tingkat ketakwaan yang diraihnya. Ketakwaan merupakan ukuran jenjang tingkatan ketaatan terhadap perintah pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya.

Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si

Guru Besar UNIMAL dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Aceh

Email : apridar@unimal.ac.id