Karang Taruna Gampong Ulee Gle Berdayakan Ekonomi Melalui Pepaya

PENGURUS karang Taruna Cahaya Harapan Gampong Uleegle Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya foto bersama di lahan usahanya, Minggu (7/2/2021). Abdullah Gani/Rakyat Aceh

Harianrakyataceh.com – Karang Taruna (KRT) Cahaya Harapan Gampong Ulee Gle Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya, menaruh harapan besar pada usaha pertanian. Mereka bergelut dengan budidaya tanaman pepaya untuk pemberdayaan ekonomi. Jika ujicoba itu berhasil, kelompok tersebut kembali mengembangkan usaha serupa.

Ditemui Rakyat Aceh, Minggu (7/2), para Pengurus KRT yang berjumlah enam orang terlihat sedang sibuk merawat tanaman pepaya yang kini sedang berbuah lebat. Jika halang tidak merintang, diperkirakan sekitar dua bulan lagi, komoditi dimaksud sudah panen (saat ini berumur enam bulan).
“Insya Allah, jika tak ada halangan sekitar dua bulan lagi sudah panen,” kata Junaidi Amin, Ketua KRT Cahaya Harapan yang diamini sejumlah rekannya.
Junai menyebutkan, lahan seluas 0,25 hektare tempat usahanya itu merupakan tanah wakaf milik gampong (pinjam pakai). Budidaya pepaya dilakukan secara bersama-sama termasuk modal, mulai dari pembelian benih, olah tanah hingga perawatan. Benih yang digunakan adalah Varitas California. Disebutkan juga bahwa hingga saat ini biaya yang sudah dikeluarkan mencapai Rp53 juta.
Selain pepaya sebagai tanaman pokok (utama), diantara barisan juga diselingi dengan tanaman jahe merah. Pertumbuhan jahe juga tergolong lumayan bagus. Tanaman obat keluarga (toga), ini sekarang memasuki umur empat bulan dan jelang setahun sudah dapat dipanen, imbuh bendahara KRT, Riza Husaini.
Ditambahkan Riza, mereka yang semuanya masih lajang sudah menyelesaikan pendidikan. Keenam mereka selain jebolan Diploma Tiga (D3) juga ada yang sarjana (S1) Pendidikan, Ekonomi serta Sarjana Kesehatan. Ditambahkan bahwa ide bergelut dengan dunia pertanian timbul, setelah mengamati lahan di gampongnya yang begitu subur tapi tidak dimanfatkan (dibiarkan kosong).
Atas kesepakatan bersama, sehingga mereka yang tergabung dalam wadah Karang Taruna sepakat untuk memanfaatkan lahan tersebut. Mereka memilih budidaya tanaman pepaya selain karena tertarik dengan beberapa kebun yang pernah dilihatnya di tempat lain, juga usahanya pun tidak terlalu rumit. Hanya saja kendala yang dihadapi selain modal atau biaya juga masalah air.
Sumber air yang dialiri ke lahan usahanya berasal dari sumur desa setempat, dengan jarak suplai kurang lebih 150 meter. Kelompok tersebut berencana, jika usaha untuk yang pertama kalinya itu berhasil, maka akan dilanjutkan. Sementara komoditi akan disesuaikan dengan lahan dan waktu atau musim. Karenanya, mereka sangat berharap dinas terkait ikut membantu modal. (mag-87)