Kuala Kiran Pidie Jaya Dangkal, Nelayan Mengeluh: Sedih Sekali Nasib Kami

Rakyat Aceh

Harianrakyataceh.com – Para nelayan Kuala Kiran Kecamatan Jangkabuya, Pidie Jaya mengeluh. Pasalnya, kondisi kuala (muara sungai) yang sangat dangkal membuat mereka kelabakan, baik saat hendak melaut atau ketika pulang. Kondisi demikian tidak jarang mereka terpaksa menambatkan botnya di pinggir pantai.

Fenomena seperti itu, sebut beberapa nelayan kepada Rakyat Aceh, sudah berlangsung lama atau lebih tiga tahun. Kendati sewaktu-waktu babah kuala normal, tapi hanya bertahan sesaat. Beberapa bulan kemudian kembali dangkal. Diakui, bahwa pemkab setempat sudah pernah mengeruk tapi bertahan sesaat.
“Agar bot mudah lalu lalang, muara sungai perlu dipasang jetti atau batu gajah layaknya Kuala Meureudu,” kata seorang nelayan, Minggu (7/2).
Seperti penuturan Ismail, Abdullah dan Arahman, tiga nelayan setempat. Mereka mengisahkan kepedihan yang mereka alami sudah bertahun-tahun. Sebagai nelayan kecil, sepertinya tidak ada yang peduli. Seperti halnya selama ini, sudah hasil tangkapan sangat sedikit bahkan tak jarang harus pulang dengan tangan kosong, setiba di muara sungai, botnya pun harus didorong masuk kuala.
“Sedih sekali nasib kami nelayan, tapi apa boleh buat memang sudah disitu mata pencaharian kami,” ucap seorang nelayan yang namanya minta tak ditulis. Beberapa warga Gampong Kiran Krueng dan Gampong Beurembang menjawab harian ini membenarkan, kondisi Babah Kuala Kiran sangat dangkal.
Nelayan kewalahan saat hendak melaut. Armada yang mereka gunakan atau bot terpaksa harus didorong keluar kuala. Ada juga sebagian yang melaut harus menunggu air pasang. begitu pula ketika pulang. Abu Laot Lhok Kuala Kiran, Razali HM Ali yang dikonfirmasi melalui ponselnya membenarkan, kondisi demikian. Pihaknya, kata Razali sudah sering melapurkan kepada pemkab.
Selain dangkalnya kuala, nelayan Kuala Kiran sepertinya luput dari perhatian pemerintah atau dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat. Dalam empat tahun terakhir, armada melaut yang jumlahnya sekitar 40 unit tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun, jangankan bot, peralatan melaut seperti jaring dan sejenisnya pun tidak pernah diterimanya, papar Abu Laot.
Terkait dengan hal tersebut, Kabid Kelautan DKP Pidie Jaya, Yulizar SPI yang dihubungi Rakyat Aceh membantah jika disebut nelayan Kuala Kiran luput dari perhatian pemkab. Kecuali dalam dua tahun terakhir, kata Yulizar, bantuan tidak ada sama sekali dan itu bukan hanya nelayan Kuala Kiran semata, tapi semuanya. “Jika ada bantuan kami DKP tetap membantu,” tandas Yulizar.
Terlebih belakangan dengan Covid-19, yang namanya bantuan praktis tidak ada sama sekali. Karenanya, DKP meminta para nelayan supaya bersabar dan pihaknya tetap mengupayakan. “Kami minta para nelayan agar bersabar, kedepan DKP akan berupaya agar nelayan ada bantuan,” imbuhnya lagi. (mag-87)