Warga Blokir Jalan Mifa Bersaudara

Berdebu: Imbas paparan debu, masyarakat Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, memblokir akses jalan 50 Jalan Mifa Bersaudara. For Rakyat Aceh.

MEULABOH (RA) – Imbas paparan debu, masyarakat Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, memblokir akses jalan 50. Alhasil rutinitas angkutan material batu bara milik PT Mifa Bersaudara terhenti selama tujuh jam lebih, Senin (8/2).

Geucik Peunaga Cut Ujong, Agus Tiar, menuturkan aksi pemalangan ruas jalan dilakukan sebagai bentuk luapan protes masyarakat yang mulai jenuh menjadi korban debu batu bara milik PT Mifa Bersaudara.

Aksi memblokir ruas jalan tersebut, sambung Agus, terpaksa dilakukan oleh sekitar 50 kepala Keluarga (KK), semata untuk menyuarakan aspirasi warga yang meminta dilakukan proses ganti rugi oleh pihak perusahaan PT Mifa Bersaudara.

“Sudah jenuh kami hidup di dalam udara yang penuh debu batubara. Makanya masyarakat sampai nekat menutup jalan lintasan lansir batu bara itu,” jelasnya.

Warga mengaku kesal dengan pihak perusahaan, sambung Agus, ia mengaku saat awal penandatanganan izin keberadaan area port PT. Mifa Bersaudara di Gampong Peunaga Cut Ujong, telah disepakati bersama tidak ada titik stockpile. “Tapi nyatanya ada tempat penumpukan batubara (stockpile), makanya debu batubara sampai terbang ke rumah penduduk,” bebernya.

Lingkungan tidak sehat demikian, dinilai Agus sangat wajar, jika penduduk setempat meminta secepatnya dilakukan proses relokasi oleh pihak perusahaan. “Di tepi jalan 50 itu, ada lahan warga, jika tidak di ganti rugi sama saja tidak bisa dimanfaatkan oleh warga. Debu batubara tebal, sesak kalau kita mendekat ke area itu,” terangnya.

Sekitar pukul 16.00 WIB, kayu dan spanduk memblokir jalan yang dipasang oleh warga, langsung dibuka, setelah aparat Polsek Kecamatan Meureubo meminta warga setempat dapat penyampaian aspirasi atau pendapat secara resmi kepada pemerintah setempat.

Baca Juga...  Tiga Tersangka Penambang Illegal Ditangkap

“Aparat Polsek minta kami supaya menyampaikan pendapat secara resmi, dengan cara menyiapkan berkas surat tanah dan melaporkan hal ini kepada pemerintah. Agar kasus ini dapat dimediasi oleh pemerintah,” kata Agus, mengulang saran Aparat Polsek Meureubo.(den/rus)