Bea Cukai Musnahkan Ayam Petarung Rp2 Miliar

Stasiun Karantina Pertanian Kelas l Banda Aceh bersama fakultas Kedokteran Hewan USK, menyuntik mati ayam petarung sebelum dilakukan pembakaran, Selasa (9/2). (amar/rakyat aceh)

BANDA ACEH (RA) – Bea Cukai Aceh bersama stasiun Karantina Pertanian kelas l Banda Aceh melaksanakan pemusnahan barang bukti ayam ilegal senilai Rp2 miliar yang diduga berasal dari Thailand.

Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh, Safuardi, menyebutkan, total ayam yang dimusnakan sebanyak 89 ekor, dua ekor telah lebih dulu mati. Pemusnahan ayam ilegal dilakukan dengan cara disuntik mati dan dibakar di ruang bakar instalasi karantina.

“Ayam ini dimusnhkan karena sudah terjangkiti virus Avian Influenza yang dibawa dan ditularkan spesies tersebut. Keberadaan virus Avian Influenza pada ayam ilegal terbukti positif melalui pengujian sampel sel darah ayam yang dilakukan oleh Tim Laboratorium Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh,” jelas Safuardi kepada sejumlah wartawan, Selasa (9/2).

Selain itu, sebutnya, pemusnahan puluhan ayam ilegal ini juga bertujuan menghindarkan masyarakat terhadap bahaya dari sisi moral dan genetika, hal ini disebabkan karena penyelundupan ayam ilegal.

Mengenai harga ayam tersebut, kata Safuardi, bisa mencapai Rp 50 juta per ekornya kalau dijual di pasar dalam negeri. Menurutnya ayam sejenis tersebut untuk dijadikan ayam petarung atau ayam induk untuk kemudian dikembangbiakkan di Indonesia.

Safuardi menyebutkan, indikasi didalami pihaknya, ayam bernilai miliaran rupiah tersebut akan diberangkatkan ke Surabaya, yang menjadi pusat pusat ayam yang seperti itu.
“Jadi baru coba kami dalami, dan informasinya ayam tersebut mau digerakan ke pulau Jawa,” sebutnya.

Safuardi menyebutkan, ayam yang dimusnakan tersebut merupakan hasil penindakan yang dilakukan secara sinergi oleh Kanwil Bae Cukai Aceh, Kanwilsusu Bae Cukai kepulauan Riau dan Bea cukai Langsa, terhadap KM Tanpa nama di perairan Tamiang.

Pada penindakan tersebut telah ditangkap 3 orang tersangka, dengan salah satu tersangka berstatus residivis pidana penyelundupan impor tahun 2019. Ketiga tersangka tersebut telah ditahan oleh penyidik Bea Cukai.

Selain itu, Bea Cukai Aceh juga mengamankan tiga ekor kura-kura berwarna kuning emas dari hasil penyeludupan. Kura-kura tersebut nantinya kemungkinan akan diserahkan ke BKSDA atau akan dijadikan pusat ilmu pengetahuan di fakultas kedokteran hewan USK.

Sementar itu, Kepala stasiun Karantina Pertanian kelas l Banda Aceh, Ibrahim menyebutkan ayam tersebut memang harus dimusnakan karena sudah terjangkiti virus Avian Influenza, sehingga nantinya tidak menyebar ke manusia.

“Karena ada ayam kami yang selama ini untuk keperluan laboratorium dan kami gabungkan dengan ayam tersebut, tapi satu malamnya langsung tewas. Maka berdasarkan hasil laboratorium sehingga kami merekomendasikan dilakukan pemusnahan,” jelasnya. (mar/min)

Stasiun Karantina Pertanian Kelas l Banda Aceh bersama fakultas Kedokteran Hewan USK, menyuntik mati ayam petarung sebelum dilakukan pembakaran, Selasa (9/2). (amar/rakyat aceh)