Pemain tim PON Aceh, Jamaluddin.

Harianrakyataceh.com – Tak seperti rata-rata pesepakbola Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh lainnya, yang sudah bermain bola sejak usia dini, beberapa malah sempat mengeyam pendidikan Sekolah Sepak Bola (SSB), bermain di Piala Danone, Porseni, dsb. Lelaki dengan nama lengkap Jamaluddin justru dikenal bisa bermain bola sejak tahun 2018.

Saat itu, Jamaluddin mengikuti turnamen KONI Open U-19 di Langsa. Sejak dari situ, ia sudah nampak istimewa. Menjadi top skor sekaligus pemain terbaik di turnamen tersebut. Sebuah catatan impresif untuk ukuran seorang pemain yang baru kali pertama merumput di ajang turnamen. Menurut pengakuan Jamal, sebelumnya tidak pernah bermain bola dalam artian sebenarnya. Bahkan, sekadar main ‘bola sore’ saja jarang.

“Memang gak pernah main bola. Turnamen KONI Langsa tahun 2018 itu yang pertama. Alhamdulillah jadi top skor sekaligus pemain terbaik, kaget juga,” ujar pesepakbola yang lazim dipanggil Messi itu.

Pasca turnamen tersebut, jalan ke-sepakbolaan-nya semakin terbuka. Ia dipinang PSBL Langsa. Saat itu Ketua Umum tim berjuluk Elang Biru tersebut, Sayed Mahdum, melihat bakat besar dari pesepakbola asal Gampong Meurandeh itu. Sayed tidak hanya menjembatani Jamal sebagai pemain PSBL, tetapi juga mencarikannya pekerjaan.

Hingga kini, Jamal tercatat sebagai pegawai kontrak di Dinas PUPR Langsa. Orang yang percaya ada bakat besar dalam diri Jamal adalah abang sepupunya, Jabar, pemain non liga yang beberapa kali kerap mengajak Jamal ikut bermain tarkam.

Jamal bukan lah pesepakbola dari kalangan menengah ke atas, ia berasal dari keluarga biasa-biasa. Ayahnya berprofesi sebagai nelayan, sedangkan ibunya adalah juru parkir. Sering tampak di Pajak Pisang, Langsa. Biasanya, ibu Jamal bekerja usai ashar hingga pukul 23:00 WIB.

Itulah mengapa, sejak kecil Jamal lebih banyak bekerja membantu ekonomi keluarga, ketimbang bermain bola. Tapi Jamal tak pernah patah arang, ia tumbuh sebagai lelaki tegar dengan optimisme tinggi.

Ia berkisah, sejak SMP dirinya bekerja di agen jual-beli lembu. Jamal kecil, biasanya bertugas memotong rumput sebagai pakan lembu. Per hari, ia bisa mengumpulkan empat karung rumput, dengan bayaran satu karung Rp 30 ribu. Karena kesibukan tersebut, Jamal nyaris jarang main bola.

“Paling sesekali main bola, sore. Itu pun main dengan kaki telanjang (tanpa sepatu),” kenangnya kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (16/2).

Dipanggil Messi dan Sampan untuk Ayah

Terlahir dengan keistimewaan kaki kiri (kidal), dan tampil menawan di turnamen perdana adalah dua awal kisah Jamal dipanggil Messi. Hingga sekarang menjadi pesepakbola PON Aceh, Jamal masih disapa Messi oleh rekan-rekan. Mendapatkan panggilan demikian, tidak membuat Jamal terbebani, justru sebaliknya.

“Awal dipanggil Messi saat turnamen U-19 KONI Langsa. Gak ada beban atas sebutan itu, justru senang dan termotivasi,” tuturnya dengan raut wajah tersipu malu.

Suatu waktu, saat tim PON Aceh melakukan uji coba dengan Persiraja, ia diteriaki histeris oleh penonton tribun C, Stadion H Dhimurthala, Lampineung, Banda Aceh. Ia mendapat tepuk tangan oleh ultras Persiraja, akibat aksinya yang ciamik. Masuk menggantikan Reza Sandika, Jamal tampil bak Messi. Menyisir sisi kiri dengan sesekali masuk ke area kotak pinalti.

“Messi, Messi, Jamal, ayo bisa. Messi, eak, eak, eak,” teriak suporter dengan gegap gempita.

Kini Jamal terus tumbuh sebagai salah satu calon bintang masa depan Aceh. Direkrut PSBL Langsa, tampil sebagai top skor di Pekan Olahraga Rakyat Aceh (PORA), mendapatkan emas di Porwil dan menjadi bagian dari tim PON Aceh ke Papua 2021 adalah capaian awal yang begitu ia syukuri. Jamal tak ingin lupa diri.

Ada satu momen penting dalam hidupnya. Sejak mengikuti Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda), atlet diberikan gaji oleh KONI Aceh. Jamal menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk membantu keluarga. Ia menggantikan ‘Jaloe’ (sampan) untuk ayahnya.

“Hasil dari gaji sejak Pelatda kemarin, alhamdulillah bisa belikan ayah sampan baru. Sampan ayah melaut sudah tidak layak lagi. Sayang ayah, sampan yang lama bocor, ayah kecapekan harus menguras air dari dalam sampan, setiap kali pergi melaut,” bebernya.

Anak dari pasangan Mustafa-Sumarni itu, kini fokus mempersiapkan diri untuk merebut hati pelatih kepala, Fakhri Husaini. Baginya, dilatih oleh sosok berlabel nasional memberikan motivasi tersendiri. Jamal mengaku senang menimba ilmu dari Fakhri Husaini. Selama ini, posisi bermainnya diubah, Jamal dicoba sebagai bek kiri. Sudah beberapa kali ia berganti posisi, dari stiker, gelandang hingga bek kiri.

Di PON Papua nanti, Jamal bertekad mengerahkan segenap kemampuan yang ia miliki. Jika dipercaya, ia berusaha semaksimal mungkin untuk tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Jamal paham, PON adalah jembatan menuju gerbang menjadi pemain profesional. Mimpinya ‘naik kelas’ ke tim Liga 1. “Targetnya bisa main bola masuk TV (Liga 1),” harap Jamal. (icm)

Profil Singkat
Nama           : Jamaluddin
TTL              : Langsa, 13 Januari 1999
Posisi           : Bek kiri, gelandang dan striker
Pemain Idola : Lionel Messi