HUT Takengon, Bupati dan Ketua DPRK Bahas Qanun Himne

Suasana diruangan gedung DPRK dalam peringatan HUT Kota Takengon berjalan lancar dengan protokol kesehatan yang ketat. JURNALISA/RAKYAT ACEH

TAKENGON (RA) – Peringatan hari jadi Kute Takengon ke-444 dalam sidang paripurna DPRK Aceh Tengah kental dengan nuansa Gayo, mengenakan baju bermotif Kerawang Gayo sekaligus rangkaian acara berbahasa Gayo.

Para undangan yang hadir dalam acara itu tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan dilakukan pengecekan suhu dengan Thermogan oleh petugas kesehatan sebelum masuk kedalam ruangan.

Ketua DPRK Aceh Tengah, Arwin Mega mengatakan, kegiatan yang dibungkus dengan nuansa Gayo itu adalah salah satu cara menyelamatkan kearifan lokal yang dimiliki kabupaten berhawa sejuk itu.

Termasuk pihaknya akan membuat qanun sehari berbahasa Gayo setiap hari Kamis dilingkungan pemerintahan maupun dilingkungan sekolah berbarengan dengan penggunaan baju kerawang Gayo pada hari yang sama.

“Siapapun yang ada di Aceh Tengah adalah orang Gayo, kami akan qanunkan sehari berbahasa Gayo yaitu setiap hari Kamis serta mengenakan kerawang Gayo sebagai wujud nyata pelestarian kearifan lokal,” kata Arwin Mega, Rabu (17/2) di gedung DPR setempat.

Lain itu, pihak legislatif akan meneruskan Qanun Himne Kute Takengon yang baru, qanun itu telah dikumandangkan dalam hari jadi Kute Takengon, bahkan sebelumnya turut dilantunkan dalam kegiatan yang sama.

“Tawar sedenge tetap digunakan pada hari-hari besar, Himne ini juga akan diqanunkan,” terang Arwin Mega menyebut slogan itu merupakan wujud semangat dari Kabupaten Aceh Tengah menyongsong perubahan.

Dalam Himne itu, disebutkan Aceh Tengah memiliki kekayaan alam yang megah, dikelilini pegunungan yang hijau dan hamparan danau nan elok, alam yang sejuk tanah yang subur punya kopi dan palawija tumbuh subur.

Adat dan budaya cerminan agama dan syariat Islam, bangga dengan kemandirian demi massa depan Kota Takengon.

“Ini adalah kekayaan masyarakat Aceh Tengah, semua potensi ada dalam Himne ini, mudah-mudahan semua yang tertuang dalam himne ini dapat terwujud dan kesejahteraan berpihak kepada masyarakat,” tutup Arwin Mega berharap hari jadi Kute Takengon momentum untuk kerja nyata membangun negeri penghasil Kopi itu.

Terpisah Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar, juga mengaku serius membuat rancangan Qanun Himne Kute Takengon itu. “Ini keseriusan kita, Himne Kute Takengon, selain itu, bahasa Gayo, Baju Kerawang Gayo dan Tawar Sedenge, untuk himne kita akan koreksi lagi,” pungkas Shabela.

Shabela menilai, tahun ini hari jadi Kute Takengon ada yang hilang lantaran covid-19, peringatan digelar hanya sederhana, penyampaian pertangungjawaban Bupati kepada rakyat secara adat, sidang paripurna dan malam resepsi.

“Ada yang hilang tahun ini, nanti malam ada sedikit resepsi, ini pun dihadiri terbatas, tapi di DPRK saya lihat ada perubahan yang luar biasa, keseragaman seluruh anggota dewan, ini perubahan nya tahun ini,” tutur Shabela.

Untuk diketahui, peringatan hari jadi kute Takengon ke-444 (1577-2021) mengangkat tema, kita tingkatkan pelayanan prima serta pelestarian adat istiadat dan lingkungan hidup menuju masyarakat Aceh Tengah adil dan sejahtera. (jur/bai)