Gara-gara Utang, Tetangga Bunuh Ibu dan Anak

Satu dari dua tersangka pembunuhan ibu dan anak warga Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur yang berhasil dibekuk Tim Gabungan Polres Aceh Timur, Kamis (18/2). (maulana/rakyat aceh)

Anak Korban Sempat Dirudapaksa

Quote : Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Widiantoro
“Dari keterangan tersangka R, perbuatan tersebut dilatarbelakangi dendam dan utang piutang, namun kami masih mendalami motif sebenarnya”

IDI (RA) – Tim Gabungan Polres Aceh Timur dua tersangka pembunuhan S (55) dan anaknya N (15) warga Dusun Pante, Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih Kabupaten Aceh Timur.

Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Widiantoro, S.I.K,M.H, membenarkan pihaknya mengamankan tersangka, setelah tim gabungan mengambil keterangan dari sejumlah saksi, sehingga mengarah kepada kedua pelaku.

“Benar, pada hari Rabu (17/2), sekira pukul 03:00 WIB anggota kami berhasil mengamankan R (46) dan M (37), keduanya warga Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. R ini merupakan residivis, sedangkan M masih dalam proses sidang di Pengadilan Negeri Idi terkait tindak pidana memasuki pekarangan tanpa izin,” ungkap Kapolres, Kamis (18/2).

Dijelaskanya, pembunuhan Kamis (11/2) lalu sekira pukul 22:00 WIB, saat itu M hendak turun dari Desa Simpang Jernih. Di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, M bertemu dengan R. Pada saat itulah R mengajak M untuk menemui seseorang. Selanjutnya keduanya pergi bersamaan dengan menggunakan sepeda motor milik M.

Memasuki hari Jumat (12/2) sekira pukul 02.00 WIB kedua tersangka sudah tiba di desa mereka kemudian memarkirkan sepeda motor di dekat perkebunan sawit lalu menuju rumah korban.

M sempat menanyakan, maksud dan tujuan ke rumah korban yang merupakan tetangga R. Dijawab R, “sudah ikut aja.” Kedua tersangka mencongkel jendela terbuat dari kayu papan agar bisa masuk ke dalam rumah. R juga meminta kepada M untuk mencari alat lantas diambilnya sebilah kayu yang terletak di belakang pintu dan bersamaan ke kamar korban.

Setibanya di dalam kamar, R memberi isyarat kepada M untuk menghabisi S yang saat itu sedang tertidur. Menggunakan kayu, M memukul S pada bagian, leher dan seputaran rahang. Usai menganiaya korban S, M menghampiri R yang sedang menganiaya N dengan menggunakan besi bulat. R juga meminta M untuk ikut menghajar N.

“Bukan dihajarnya, justru N diperkosa oleh M di bawah tempat tidur dengan keadaan mulut sudah berdarah darah akibat dipukul oleh R. Saat M sedang memperkosa N, R menghantamkan besi bulat yang ia pegang ke kepala S,” ungkap Kapolres.

Setelah menganiaya S dan N, pelaku menyeret tubuh kedua korban dan didorongnya ke bawah kolong tempat tidur. Para pelaku kemudian keluar melalui jendela yang mereka congkel serta menutupnya kembali. Sementara kayu dan besi yang digunakan untuk menganiaya S dan N dibuang di semak semak belakang rumah korban.

Untuk menghilangkan jejak, M melarikan diri dengan bersembunyi di rumah kerabatnya di Besitang, Sumatera Utara hingga akhirnya berhasil diamankan petugas pada Rabu, (17/2) pagi dini hari.

Sementara R, dibekuk setelah ditangkap dalam kasus lainnya yakni melakukan perusakan dan pengancaman terhadap warga desa setempat yang berujung R dilaporkan ke Polsek Simpang Jernih.

Turut diamankan dari kedua pelaku diantaranya, 1 (satu) batang kayu berbentuk bulat dengan panjang lebih kurang 1,5 meter; 1 (satu) batang besi bulat dengan panjang lebih kurang setengah meter, 2 (dua) unit handphone; 1 (satu) buah baju milik pelaku M yang digunakan saat melakukan pembunuhan, 2 (dua) unit sepeda motor dan 1 (satu) buah celana pendek.

“Dari keterangan tersangka R, perbuatan tersebut dilatarbelakangi dendam dan utang piutang, namun kami masih mendalami motif sebenarnya,” ujarnya.

Atas perbuatanya, kedua tersangka dikenakan Pasal 338 jo 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup dan Pasal 76 c jo pasal 80 ayat (3) Undang undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun. (mol/min)