Pak Pemerintah, Tolong Buatkan Kami Jembatan!

Dua murid SD bersama ibu mereka menggunakan rakit melintasi sungai yang membelah Gampong Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, kemarin. (al amin/rakyat aceh)

Laporan : Al Amin, ACEH BESAR

“Pak pemerintah, tolong buatkan kami jembatan, biar gak telat sekolah dan baju gak basah terus.”
Permintaan lugu ini diucapkan Riska, bocah Sekolah Dasar (SD) Siron, Desa Siron Blang, Kemukiman Lam Leu’ot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, yang harus menaiki rakit menyeberangi sungai (krueng) Murtala, guna sampai ke sekolah di seberang sungai.

Bocah 12 tahun ini kemudian menceritakan, setiap harinya bersama teman-temanya harus menyeberangi sungai selebar 25 meter dengan menyeberangi rakit buatan buatan sangat sederhana.

“Pernah kemarin jatuh dan basah bajunya. Tapi tetap sekolah,” kata Riska sambil memperlihatkan jempol kakinya yang terluka.

Semua hal dialaminya ini tak menyurutkan dia dan teman-temannya untuk terus bersekolah. Menaiki rakit dengan panjang 4 meter dan lebar 2,5 meter terbuat dari belasan bambu dan beralaskan gimpsun, mereka menyeberangi sungai.

Beberapa anak malah terlihat menikmati penyeberangan usai sekolah. Dari rakit mereka melompat, berenang menuju pinggir sungai. Riuh kecerian menghabiskan hari di sungai, tanpa takut Krueng Murtala ternyata merupakan salah satu habitat buaya.

“Buayanya sudah dibawa bapak-bapak, dah gak ada lagi,” ujar beberapa anak yang kemudian melompat ke sungai.

Mustapa (55) warga setempat, membenarkan sungai tersebut terdapat buaya. “Ya memang ada, dua telah dibawa oleh bapak dari BKSDA, tapi beberapa warga pernah melihat masih ada buaya lainnya,” ujarnya sambil menunjuk papan peringatan yang dibuat oleh BKSDA di pinggir sungai.

Mustapa kemudian bercerita, sejak tiga tahun terakhir, warga desa yang hanya berjarak 60 kilometer dari pusat ibukota provinsi Aceh, Banda Aceh atau satu jam perjalanan, ini mengandalkan rakit untuk menyeberang sungai penghubung antara Gampong Siron Blang dengan Siron Krueng.

Dikatakan Mustapa, sebelumnya di lokasi tersebut telah ada jembatan permanen dari beton melintasi sungai. Namun banjir besar pada 2017, menghantam jembatan dan merusaknya.

“Sejak itu warga harus menyeberangi sungai saat airnya surut. Saya kemudian berinisiatif membuat rakit, supaya anak-anak mudah ke sekolah mereka,” kata Mustapa.

Diceritakannya, pembuatan rakit berawal dari anaknya yang enggan bersekolah karena seragamnya basah saat menyeberangi sungai. Beberapa anak setempat juga terlihat mulai malas untuk bersekolah.

“Saya kemudian membuat rakit dari bambu yang banyak terdapat di pinggir sungai. Rakit buatan saya lebih besar dari rakitan yang ada sekarang ini,” ujarnya mengingat rakit buatannya.

Penggunaan rakit untuk mengantarkan anak sekolah dan warga menyeberang guna mengangkut tanamannya untuk dijual, kemudian terdengar oleh para wartawan yang kemudian melakukan peliputan di tahun 2019.

“Dua tahun lalu setelah diliput abang-abang wartawan, Bapak Bupati kemudian membuatkan kami jembatan, walau hanya dari beberapa batang pohon kelapa. Katanya itu untuk sementara, sebelum dibuat yang lebih kokoh,” terangnya.

Namun musibah kembali datang, pada pertengahan tahun 2020, bencana melanda. Banjir besar datang menghantam jembatan dan menghanyutkannya bersama rakit buatan Mustapa. Sejak itu warga kemudian harus kembali menyeberangi sungai menggunakan rakit.

Banjir bandang juga mengakibatkan sungai abrasi dan memperlebar sungai. “Kalau airnya naik, anak-anak pasti tak bisa melintas dan dipastikan hari itu mereka libur,” ujarnya.

Dikatakan Mustapa. beberapa anak di desa tersebut, setingkat SMP dan SMA, memutuskan memutari mengendarai sepeda motor mencari jalan memutar yang lebih jauh. “Kalau SMP dan SMA mereka naik motor mengitari waduk keliling untuk ke sekolah mereka.”
“Karenanya kalau ada jembatan permanen dan kokoh, anak-anak kita tak perlu terlalu jauh memutar untuk pergi sekolah. Kami juga terbantu untuk pergi ke ladang atau untuk mengangkut hasil tanaman,” pungkasnya. ***