8 Tahun Jembatan Tak Terbangun, 566 Jiwa Warga Pusong Terisolir

Jembatan Pusong di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie tak kunjung selesai meski sudah serap dana puluhan miliar. Warga terus mengeluh karena hidup di tengah pulau Gampong Pusong. Dhian Anna Asmara/rakyat aceh

Quote : Keuchiek Gampong Pusong, M.Jafar
“Lebih miris lagi, apabila ada wanita hamil berat untuk melahirkan, harus dibawa ke Puskesmas Kembang Tanjong harus dengan kapal penangkap ikan besar melalui laut”

SIGLI (RA) – Masyarakat Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, hingga kini belum juga bisa menggunakan jembatan yang dibangun delapan tahun lalu dan telah menelan biaya Rp 30 miliar.

Camat Kembang Tanjong, Zubir SE mengharapkan jembatan Gampong Pusong harus selesai pembangunannya demi kehidupan dan tidak terisolirnya 566 jiwa penduduk gampong setempat.

“Saya sering mempertanyakan kepada dinas terkait di tingkat Kabupaten Pidie, yakni kapan jembatan Gampong Pusong ke Gampong Jeumeurang selesai dibangun,” papar Camat Zubir kepada Rakyat Aceh, Senin (22/2) sore kemarin.

Disebutnya, sebanyak 156 kepala keluarga (KK) penduduk Gampong Pusong hidup terasing disebuah pulau dilingkari lautan Selat Malaka dan sungai besar, tentu tidak ada akses sarana perhubungan darat dengan tetangga dan ibukota kecamatan.

Mau Melahirkan Harus Lewat Laut
Dari cacah jiwa, Gampong Pusong terdiri dari kaum lelaki sebanyak 292 jiwa dan kaum perempuan sebanyak 274 jiwa. Sedangkan, murid SD yang bersekolah 56 0rang.

Sarana prasarana gampong yang sudah ada, yaitu Masjid, Meinasah, SD 1 unit, Pustu 1 unit, dan satu unit kantor desa. Sedangkan jalan tembus ke luar Gampong Pusong belum terbangun hingga sekarang.

Keuchiek Gampong Pusong, M.Jafar, menyatakan, masyarakatnya sangat mendambakan jembatan tersebut dapat segera dilalui warga, karena mengingat Gampong Pusong berada paling terisolir di lingkari laut dan sungai, atau bagaikan sebuah pulau tidak ada sarana perhubungan yang menghubungkan warganya dengan ibukota Kecamatan Kembang Tanjong.

“Lebih miris lagi, apabila ada wanita hamil berat untuk melahirkan, harus dibawa ke Puskesmas Kembang Tanjong harus dengan kapal penangkap ikan besar melalui laut,” ungkap Keuchik.

Lebih memprihatinkan lagi, sebutnya Gampong Pusong hanya memiliki satu unit Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu) atau jauh dibawah pelayanan Puskesmas yang ada di ibukota kecamatan tentu sangat membutuhkan biaya transportasi besar dengan ekonomi rakyat sangat lemah.

Gampong Pusong, urainya hanya memiliki sebuah Sekolah Dasar (SD). Disaat melanjutkan pendidikan sekolah ke tingkat SMP harus bersekolah ke Kota Luengputu, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

Sangat Disayangkan
Sementara itu, M.Yahya, tokoh masyarakat Gampong Pasie Jeumeurang kepada Rakyat Aceh, Senin (21/2) menyatakan sangat menyayangkan kinerja pemerintah yang sudah sekian lama tidak mampu menyelesaikan jembatan rangka baja tersebut.

Padahal, menurutnya jembatan tersebut sangat penting atau sudah melebihi skala protitas, karena ada rakyatnya masih terisolir disebuah pulau dilingkari laut dan sungai, tanpa bisa dilalui mobil pribadi.

Jembatan Pusong, hanya berbatas paling dekat dengan Dermaga Tempat Pendaratan Ikan Gampong Pasie Jeumeurang, atau hanya 6 kilometer saja dengan janting kota Kecamatan Kembang Tanjong.

Jawaban PUPR
Plt Kadis PU PR Kabupaten Pidie, Buchari AP M.Si saat ditanyai media ini menyebutkan, jembatana sudah siap, tapi tak ada Oprit kedua ujung (pangkal) jembatan, sehingga sulit dilalui meskipun dengan jalan kaki.

Ditanyai, besaran dana untuk membangun Oprit kefua ujung jembatan tersebut, paling sedikit Rp 6 miliar, ditambah Rp 3 miliar lagi untuk pengaspalan jalan dari ke dua ujung jembatan tersebut.

Pun begitu, Plt Kadis PU PR Pidie menyatakan, optimis jembatan paling banyak menghabiskan dana itu akan diplot pada sisa anggaran Tahun Anggaran 2021 ini.
Disinggung dengan cukup banyak dana yang terkuras hingga ke angka Rp 42 miliar, Buchari menyebutkan, seingatnya baru terserap sebesar Rp 30 miliar saja, sedangkan semasa mantan Bupati Pidie, Mirza Ismail yang disebut menggeletor dana Bencana Alam Tangse Rp 12 milyar tidak terekam pihaknya.

Sebut Buchari jembatan tersebut sementara tidak bisa diselesaikan pembangunannya akibat tidak tersedia dana alias sudah kena Refokusing terkait penanganan pandemi Covid-19, tutup Buchari yang juga Asisten II Setda Pidie bidang pembangunan.

Sementara itu, jembatan rangka baja sepanjang 100 meter yang dibangun dengan anggaran Rp 30 miliar lebih lawat program rehab-rekon BNPB, hingga kini masih terlantar dan tidak bisa dilalui warga.

Gampong Pusong, sebagaimana diungkapkan Camat Kembang Tanjong, Zubir SE selama puluhan tahun masyarakatnya tidak pernah terhubung dengan gampong tetangga (Jeumaurang). Kedua desa tersebut, terletak didipesisir pantai Samudra Hindia.

Selama puluhan tahun itu pula, ratusan penduduk yang mengantung hidupnya dari sektor perikanan hanya memiliki satu akses untuk bisa keluar dari pulau tersebut dengan melewati Desa Lancok, Kabupaten Pidie Jaya. (Mag-85/min)