Harianrakyataceh. com – “Untuk apa lagi kita semprot fungisida, itukan memang sudah tidak bisa lagi diselamatkan”. Begitulah pernyataan petani Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar yang padinya menampakkan gejala “busuk leher” alias neck Blast.

Gejela busuk leher ini diketahui setelah monitoring lanjutan oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman( POPT) Kecamatan Simpang Tiga. “Pertama saya dan teman-teman di BPP Simpang Tiga tidak mengetahui gejala busuk leher, karena tidak tampak, kemudian saat pengamatan kedua dihari yang berbeda, baru terlihat busuk leher dan ada benang-benang putihnya, yang kami yakini itu adalah miselium jamur patogen tersebut”. Jelas Vivi Yana Zamzami selaku POPT.

“Di Kecamatan Simpang Tiga belum pernah ada kasus serangan busuk leher, makanya tim kemaren hilang sasaran pengamatan saat pertama kali kasus ini dilaporkan oleh petani,” jelasnya.

Busuk Leher atau patah leher disebabkan oleh cendawan pyricularia grisea atau P. oryzae.

“Patogen ini mampu membuat bulir padi hampa karena serangannya dileher malai, sehingga menyebabkan bulir padi tidak bisa terisi dan malai menunduk meski malai belum terisi”. Jelas Khaidir Koordinator BPP Simpang Tiga Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, Rabu (23/2).

Kenapa harus tetap dilakukan penyemprotan fungisida, ini untuk mencegah penyebaran kepetak sawah tetangga.

“Padi disampingnya kan juga udah pengisian bulir, jadi sudah jelas tidak ada serangan jamur tersebut”. Pendapat petani tadi.

Khaidir menyampaikan jamur penyebab busuk leher mampu bertahan di gabah dan dijerami hingga tiga tahun lebih, Jadi dengan tindakan penyemprotan fungisida dilahan sekitar petakan berkasus tersebut, ini merupakan langkah antisipasi kontaminan jamur patogen pada gabah”

“Bisa-bisa kami dari Balai Penyuluhan Pertanian yang berada di Kecamatan Simpang Tiga, harus mengeluarkan rekomendasi pelarangan agar benih padi untuk musim tanam kedepan tidak bisa digunakan dari area sekitar dan harus benih yang bersertifikat”. Tambahnya lagi.

“Tujuannya, agar tidak ada lagi serangan Cendawan Pyricularia grisea yang dapat menyebabkan fuso atau gagal panen,” pungkas Khaidir, alumni Pertanian Unsyiah jurusan hama penyakit tumbuhan.

Menurut informasi dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat yaitu Gampong Nya Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar, Marlina, petani menggunakan benih yang tidak berserikat.

“Saya sudah telusuri terkait benih yang petaninkita gunakan ini, tapi yang bersangkutan mengaku benihnya diperoleh dari hasil panen petani lain”. Ungkap Marlina.

Hal itu diakui oleh sejumlah petani, salah satunya seperti disampaikan Nurjanah.

“Saya ambil dalam karung goni yang suami saya bawa pulang hasil dari pembelian gabah sama petani, saya lihat bulir nya bagus, lalu saya simpan untuk saya tanam”. Cerita Nurjanah petani yang padinya mengalami busuk leher. (ra)