Pesepakbola PON Aceh, Editia Darma, Maestro Dribling yang Cerdik

Editia Darma

Harianrakyataceh.com – Berpostur mungil bukanlah kekurangan untuknya, justru menjadi kelebihan tersendiri bagi Editia Darma. Berposisi sebagai wingger, ia dikenal karena kelincahan dalam mengobrak-abrik pertahanan lawan. Badannya boleh tak kekar, tapi dibekali akal yang cerdik, ditopang skill dribbling di atas rata-rata.

Itulah mengapa, pemain dengan sapaan akrab Edi ini, memperoleh nilai tertinggi untuk katagori menggocek bola, dan merebut hati Fakhri Husaini, yang saat ini dipercaya sebagai pelatih kepala tim sepak bola PON Aceh. Salah satu rahasia mengapa ia disebut sebagai maestro dribbling, karena sejak usia remaja, rajin melakukan skipping.

“Kalau dulu, sehari bisa seribu kali skipping saat masih di PPLP, biasanya habis shubuh. Itu mungkin rahasianya. Skipping membantu kelincahan kaki,” terang Edi kepada Rakyat Aceh, Selasa (9/2).

Karena kepiawaiannya, Edi sejak dulu sudah berprestasi. Di ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PPLP Se-Indonesia, Edi berhasil membawa Provinsi Aceh menjadi juara pertama pada tahun 2015. Saat itu, Stadion Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka Belitung menjadi saksi, gol semata wayang Edi, menyudahi perlawanan Jawa Tengah, sekaligus menorehkan sejarah emas bagi Serambi Mekkah.

Penampilannya yang impresif dan konsisten, menggoda hati Bambang Warsito, pelatih Indonesia untuk ajang internasional Asian School di China tahun 2015. Dua putra Aceh, Edi bersama Agung masuk dalam skuat utama. Di negeri ‘Tirai Bambu’, Indonesia tampil lumayan. Finish di urutan ke 6 dari 12 tim. Pulang dari sana, ia mendapatkan tawaran bergabung dengan Bali United U-21, sayangnya tak jadi dikarenakan kompetisi tak jelas.

“Setelah itu dapat tawaran dari Bali United U-21, tidak lagi seleksi, langsung tanda tangan kontrak. Tapi gak jadi karena PSSI dualisme. Terus juga lagi tes Polisi, sudah masuk tahap akhir,” kenangannya.

Hatinya sempat patah, tapi Edi memilih menatap ke depan. Anak dari pasangan Mawardi-Darmawati mencoba peruntungan masuk Polisi. Beruntung, saat itu ada jalur penerimaan Talent Scouting. Edi lulus sebagai abdi negara. Meski sudah menjadi Polisi, mimpinya menjadi pesepakbola profesional tidak padam. Di ajang PON Papua nantinya, menjadi anak tangga untuknya unjuk kebolehan, dengan harapan dilirik tim Liga 1.

“Semoga di PON Papua nanti bisa tampil maksimal, dan do’anya ada tim Liga 1 yang tertarik,” ungkapnya.

Edi kandung penasaran mentas di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Setelah kesempatan emas bergabung dengan Bali United ‘ambyar’. Sejujurnya, kesempatan kedua itu ada, usai lulus Polisi ia disarankan mengikuti seleksi ke Bhayangkara FC oleh petinggi tim dengan warna kebesaran hijau-kuning tersebut. Hal ini belum dilaksanakan mengingat Liga 1 belum kunjung ada kejelasan kompetensi, karena pandemi Covid-19.

Bakat sepak bola Edi bisa dikatakan turun dari sang ayah. Dulu, Mawardi merupakan striker tajam di Aceh. Prestasi terbaiknya membawa PSAB Aceh Besar juara di Aceh. Orang tua Edi sendiri, seangkatan dengan lagenda Persiraja, Mustafa Jalil. Darah sepak bola tersebut mengalir kental dalam tubuh lelaki yang mengidolakan Eden Hazard itu. Edi kerap menjadikan Hazard sebagai referensi dalam bermain.

Ia mengisahkan, saat pertama masuk PPLP Aceh, posisi awalnya adalah striker. Tapi oleh pelatih PPLP saat itu, M Nasir menggeser Edi sebagai wingger. Keputusan tersebut tepat, mengingat dirinya dibekali dengan kelincahan dan cepat. Alasan utama M Nasir tidak menjadikan Edi sebagai striker, dikarenakan posturnya yang kecil.

Saat ini Edi dkk tengah fokus berlatih, sebelum bertolak ke PON Papua. Untuk diketahui, Edi merupakan pesepakbola kelahiran Bireuen. Masa kecilnya dihabiskan di Aceh Singkil hingga selesai Sekolah Dasar (SD), orang tuanya dinas di sana. Setelah itu, ia besar di Banda Aceh sejak masuk PPLP. Ibu berasal dari Bireuen dan ayah dari Aceh Besar. Kini, Edi beserta keluarga sudah menetap di Banda Aceh. (icm)

Profil Pemain
Editia Dharma
Ttg: Bireuen, 1 Januari 1998
Idola: Eden Hazard
Posisi: Wingger/sayap
Tb: 167
Bb: 59 K