Kasus Pemukulan Terhadap Boing, Tak Ada Kaitan dengan Kisruh YAP

BIREUEN (RA) – Pemukulan terjadi kepada Sufri Daud Alias “Boing” yang merupakan Eks Panglima Daerah Gerakan Aceh Merdeka (Pangda III GAM) wilayah Batee Iliek, Kabupaten Bireuen, oleh beberapa pria asal Peusangan yang di duga pengurus Yayasan Almuslim Peusangan (YAP), berujung ke Polres Bireuen.

Aksi ini terjadi di Ocean Coffee Matangglumpang Dua, Kamis (25/2) sekira pukul 15.00 WIB.

Insiden pemukulan yang dialami Boing terjadi pasca Ketua DPRK Bireuen, Rusyidi Muktar, S.Sos alias “Ceulangiek” menyebut nama Boing di dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Peusangan.

Informasi dihimpun Rakyat Aceh, penyebutan nama Boing di musyawarah tersebut berkaitan dengan polemik perihal Yayasan Almuslim yang masih di perdebatkan oleh pengurus lama.

Boing di duga mempengaruhi para Keuchik untuk meminta tanda tangan guna menyetujui bahwa pemilihan organ struktural yayasan Almuslim terpilih dalam Mubes ke IX tidak Sah. Sehingga, beberapa Keuchik tidak mau menandatangi surat tersebut dan memberitahukannya kepada Ketua Dewan Bireuen karena dianggap membuat kegaduhan.

Mendengar aspirasi para Keuchik, Ketua DPRK Bireuen sempat mempertanyakan kapasitas dan tujuan Boing di hadapan Keuchik yang sedang mengikuti Musrenbang. Tidak terima penyebutan nama dan dianggap mempermalukannya, Boing menghubungi Rusyidi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga baku hantam terjadi antara Boing dengan beberapa pria saat pertemuan tersebut.

Usai perkelahian yang berujung pelaporan ke pihak berwajib, Boing mengadakan Konferensi Pers dengan para wartawan liputan Bireuen di YF Coffe Kamis (26/2) malam.

Ia menjelaskan, kronologi kejadian berawal ketika eks Pangda ini menelpon Ceulagiek meminta bertemu guna membicarakan perihal penyebutan namanya tatkala berlangsung Musrembang Kecamatan Peusangan di Aula Kantor Camat setempat.

“Rencana saya ingin menjumpai Ceulangiek untuk berbicara dan mencari penyelesaian secara kekeluargaan. Karena ia menyebut nama saya di Musrembang Peusangan tadi. Setiba saya di Coffee Ocean, baru sesaat duduk langsung datang sekelompok pria tanpa basa basi memukuli dengan cara mengeroyok saya,” sebut Boing.

Peristiwa itu mengakibatkan Pelipis, Pipi, Bibir, Kepala bagian belakang Boing lebam dan sakit akibat sejumlah bogem mentah yang diterimanya. Tidak terima dirinya dipukul, ia mempermasalahkan kejadian ini hingga berujung ke pihak berwajib. Ada 14 orang yang disebutkan namanya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang ditujukan ke Polres Bireuen.

“Semua ini kita serahkan kepada pihak Kepolisian, dalam hal ini Polres Bireuen. Saya harap agar Kepolisian mengusut tuntas insiden pemukulan yang terjadi terhadap saya. Saya ingin mencari keadilan tarhadap apa yang sudah menimpa saya, jangan sampai kejadian serupa menimpa korban lainnya,” tambah Boing.

Pasca Insiden itu, Boing membuat laporkan (Pengaduan) Kepada Kepolisian Resort Bireuen dengan surat tanda terima laporan Polisi Nomor STTLP/24/II/YAN.2.5/2021/SPKT RES BIREUEN yang tertulis Sufri Daud, warga Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen sebagai pelapor dan terlapor berinisial I, Cs tentang peristiwa pidana UU Nomor 1 Tahun 1946 KUHP Pasal 170.

Menyikapi insiden pemukulan tersebut yang di duga melibatkan pengurus Yayasan Almuslim Peusangan (YAP), organ kepengurusan memberikan klarifikasi konkrit atas kejadian tersebut kepada insan pers dengan mengadakan Konferensi Pers di Warkop Berkah, Paya Meuneng, Peusangan, Jumat (26/2) sore.

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Pembina Yayasan Almuslim, Tgk Rusyidi Mukhtar, S.Sos, Ketua Yayasan, Tgk. H. Munawar Yusuf, Ketua Pengawas, H Mukhlis Amus, M.Si, dan seluruh organ kepengurusan lainnya. Terlapor atas nama Iskandar (Rupe) juga menghadiri Konferensi tersebut guna menjelaskan kejadian sebenarnya menurut versi mereka.

Ketua Yayasan Almuslim, Tgk Munawar Yusuf secara tegas mengatakan bahwa pemukulan tersebut tidak ada kaitannya dengan kisruh Yayasan Almuslim Peusangan.

“Kronologis sebenarnya, usai acara Musrenbang di Kantor camat Peusangan, kami ngopi di Ocean Coffe. Tiba-tiba Boing menghubungi Maides menanyakan keberadaan Ceulangiek, tujuannya ingin berjumpa dengan nada ancaman, kalau Rusyidi tidak mau berjumpa, akan dihancurkan mobilnya oleh Boing,” cerita Tgk Munawar dan dibenarkan oleh Maides.

Beberapa saat kemudian, sebutnya, Boing tiba di Coffee Ocean dan langsung menjumpai Ceulangiek. Kemudian mempertanyakan statemen dan alasan Ketua DPRK menyinggung dirinya dalam acara Musrembang di Kecamatan Peusangan.

Mendengar pertanyaan itu, Tgk Munawar mempertanyakan kapasitas Boing mengumpulkan tanda tangan para Keuchik di Peusangan agar tidak mengakui organ kepengurusan YAP hasil Mubes ke IX.

“Saya berdiri sembari memukul meja. Kemudian dari arah belakang datang Rupe, Tgk Anoe dan yang lainnya melayangkan pukulan bertubi-tubi terhadap Boing, namun Maides mencoba melerai dengan memegang Boing dan menariknya keluar,” lanjut Tgk Munawar.

Disebutkan, Boing tidak pantas membuat kegaduhan kepada para Keuchik di Peusangan, ini sudah kelewatan batas dan perlu kita pertanyakan apa tujuannya.

“Saya menduga, ada orang di belakang Boing yang memfasilitasinya. Siapa dalang di belakang layar dalam membuat kegaduhan ini. Jika memang mereka menganggap Organ pengurus Yayasan terpilih tidak ada legalitas hukum, silahkan bawa ke pengadilan. Biar pihak terkait yang akan menyelesaikannya,” tegas Ketua Yayasan.

Sementara Rupe yang merupakan terlapor dalam kasus ini menjelaskan bahwa pemukulan terhadap Boing tidak ada sangkut paut dengan kisruh Yayasan Almuslim, namun kejadian ini mutlak karena dendam pribadi antara mereka.

“Itu hanya masalah internal pribadi antara saya dan Boing, tidak mungkin saya jelaskan kepada awak media apa permasalahannya. Saya tegaskan, pemukulan ini tidak ada sangkut pautnya dengan pengurus Yayasan Almuslim,” sebut Rupe yang merupakan Eks Kombatan GAM asal Peusangan ini.

Sementara itu, Ketua DPRK Bireuen mengakui menyebutkan nama Boing dalam acara Musrenbang Kecamatan Peusangan. Namun penyebutan tersebut karena laporan dari Keuchik yang menganggap Boing membuat kegaduhan.

“Saya selaku Ketua DPRK Bireuen, harus mendengarkan aspirasi dari para keuchik. Berhubung kelakuan Boing sudah membuat kegaduhan, saya harus memaparkan kepada seluruh Keuchik yang berhadir. Saya seperti tidak percaya kelakuan Boing terhadap kami, dan tidak pernah menginginkan kejadian seperti ini terjadi. Apalagi saya sudah menganggap Boing sebagai saudara sendiri,” sebutnya dengan raut wajah sedih.

Adapun terkait pengancaman Boing yang ingin menghancurkan mobilnya, ia tidak akan mengambil sikap melaporkan balik ke pihak kepolisian.

“Saya tidak akan melaporkan Boing, dan berharap kejadian ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Harapannya, semoga kejadian seperti ini dapat menjadi hikmah di empat Kacamatan pemilik mandat Yayasan Almuslim,” kata Ceulangik. (akh)