Kedelai Mahal, Ukuran Tempe Diperkecil, Harga Tidak Naik

Pedagang tempe sedang melayani pembeli di Pasar Pagi Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Rabu (3/3). Perajin tempe dan tahu di daerah ini dihadapkan dengan mahalnya harga dan sulitnya mendapatkan bahan baku. DEDE/RAKYAT ACEH

KUALA SIMPANG (RA)– Kacang kedelai yang menjadi bahan baku tempe dan tahu saat ini langka dan mahal dipasaran. Akibatnya para perajin tahu tempe menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran, agar dapur produksi tetap mengepul.

Ijun (33), seorang pedagang di Pajak Pagi Atas Kota Kuala Simpang mengatakan, harga tempe tidak naik namun ukurannya saja yang dikecilkan. Hal itu dikarenakan bahan baku kedelai susah dicari dan mahal. “Harga tempe tetap tujuh bungkus Rp 5.000,” kata Ijun, kepada Rakyat Aceh, Rabu (3/3).

Selain berjualan di pasar, Ijun dan keluarganya juga memproduksi tempe dan tahu di rumahnya kawasan Kampung Landu, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Menurutnya, tingginya harga kedelai sudah berlangsung lama, sehingga kemasan tempe maupun tahu terpaksa diakali agar tidak merugi. ”Penjualan tempe tidak ada pengaruh. Pembeli tau ukuran tempe sudah lama kecil,” ujarnya.

Sejumlah pedagang lainnya juga mengungkapkan hal serupa. Untuk produk tahu basah maupun tahu goreng yang mereka jajakan, meski ukurannya stabil tapi jumlahnya dalam setiap bungkusnya dikurangi. Tahu kuning misalnya dari tujuh buah/bungkus kini jadi enam buah/bungkus. Sementara tahu putih dari delapan baris ditambah menjadi sembilan baris.

”Tahu putih baris sembilan Rp 500/buah, tahu putih baris delapan Rp 2000/tiga buah. Sejak kedelai payah dibuat tahu baris sembilan supaya kami tidak ’gulung tikar’. Begitu juga dengan tahu goreng harga tetap tapi jumlahnya saja dikurangi,” sebut para pedagang di Pasar Pagi Kota Kuala Simpang itu.

Sebelumnya akhir bulan Februari, para perajin tempe tahu dan petani kedelai di Kabupaten Aceh Tamiang ramai-ramai menjumpai Bupati Mursil. Mereka dijembatani oleh lembaga Kontak Tani Nelayan Andalan saat mengeluhkan mahalnya harga dan kelangkaan kacang kedelai kepada Bupati Aceh Tamiang.

Pertemuan antara Bupati Mursil dan pengusaha tempe tahu ini juga dihadiri Kepala Distanbunak dan Kepala Diskoperindag dan UKM di Pendopo Bupati Kota Kuala Simpang.
KTNA Aceh Tamiang mencatat, harga kacang kedelai ditingkat pedagang terus merangkak naik sejak bulan April 2020, yang sebelumnya Rp 6.300/kg sekarang menjadi Rp 10.200/kg. Akibatnya banyak pengusaha tempe dan tahu yang gulung tikar.

“Harga normal kedelai seharusnya Rp 6.000-7.000/kg, tapi sekarang di sudah di atas Rp 10.000/kg . Agar dapur produksi tetap ‘berasap’ para pengusaha terpaksa menyiasati dengan mengecilkan ukuran tempe dan tahu supaya mereka tetap bertahan, menunggu harga kedelai kembali stabil,” beber Ketua KTNA Aceh Tamiang, Yogi Syahputra, waktu itu. (mag86/bai)