Fasilitas Serba Darurat, Lulusan Sekolah Ijazah Paket Banyak Sukses

Warga yang sedang mengikuti proses belajar mengajar tatap muka di kelas sekolah non formal. Selasa (9/3). Ahmadi - Harian Rakyat Aceh.

Harianrakyataceh.com – Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), salah satu sarana sekolah pendidikan khusus yang tidak bisa dipandang sebelah mata dan remeh, yang berada di kawasan Desa Suak Buluh, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue.

Asal jangan dipandang sebelah mata dan remeh, sarana pendidikan non formal tersebut, dengan lulusan ijazah paket A, ijazah paket B dan ijazah paket C.

Bahkan, jebolan dari sana telah banyak yang sukses dan duduk instansi Pemerintahan tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Pemerintah Legislatif, instalasi TNI Polri dan dapat melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi.

Hal itu dijelaskan, Cut Ainan Sari S.Pd, Kepala Sekolah Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Kabupaten Simeulue, yang ditemui Harian Rakyat Aceh, saat sedang mengajar tatap muka dengan warga dengan usia yang bervariasi, Selasa (9/3).

“Sudah ribuan warga belajar yang lulus dari Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Meskipun berijazah paket, tapi Alhamdulillah lulusannya banyak yang sukses, ada yang telah bekerja di instansi pemerintahan, aparat desa, anggota legislatif, TNI Polri serta melanjutkan ke perguruan tinggi,” katanya.

Masih menurut Cut Ainan Sari, juga lulusan dari sekolah tersebut setelah memiliki skill atau keahlian khusus, kemudian membuka usaha secara mandiri, sehingga dengan suksesnya ribuan alumni dari sekolah tersebut, diminta tidak perlu malu dan minder bagi masyarakat yang hendak menuntut ilmu di sekolah non formal itu.

Meskipun telah ribuan alumni lulusan dari sekolah non formal dan dibuka secara resmi di Kabupaten Simeulue, setahun 2003 lalu, kemudian beroperasi secara mandiri tahun 2007 lalu, namun hanyan 20 persen sarana prasarana pendukung untuk pendidikan disana yang tersedia dan 80 persennya masih darurat.

Cut Ainan Sari menyebutkan, sekolah yang dipimpinnya itu sejak beroperasi telah lebih dari 3.000 orang lulus dan berhak memiliki ijazah paket A, ijazah paket B dan ijazah paket C, dengan sarana prasarana serba darurat, dan masih membutuhkan fasilitas pendidikan lainnya untuk bidang pelajaran, permesinan, las, alat pangkas, alat mesin jahit serta alat pendidikan lainnya yang sesuai dengan Sumber Daya Alam setempat.

Sedangkan kondisi lingkungan sekolah, masih rawan dan menjadi lokasi merumput hewan ternak besar jenis kerbau dan kambing milik warga sekitar, disebabkan tidak tersedianya anggaran dan kurang perhatian dari pemerintah serta tidak dilirik para alumni lulusan dari sekolah tersebut yang telah bekerja di instasi pemerintahan, legislatif setelah mengantongi ijazah paket.

“Meskipun fasilitas dan kondisi lingkungan serba darurat, pihak sekolah tetap melakukan proses belajar mengajar mengikuti standar pendidikan secara nasional sekolah non formal, yakni belajar tatap muka, praktek dalam lokal maupun praktek diluar lokal, sehingga nantinya skill ilmu yang dipelajarinya sesuai dengan ijazah paket yang dimiliki,” jelasnya.

Cut Ainan Sari, merincikan warga yang mendaftar dan menuntut ilmu disana, setiap tahunnya dibuka diminati oleh warga dan ditutup setiap bulan Juli dan untuk tahun 2021, yang mendaftar paket A sebanyak 9 orang.

Paket B sebanyak 30 orang serta paket C sebanyak 66 orang, dengan usia pendaftar 17 tahun hingga 50 tahun.

“Banyak yang mendaftar setiap tahunnya, dengan usia yang bervariasi dan paling tinggi berusia sekitar 50 tahun. Kendala kami masih banyak, baik fasilitas sarana prasarana dan memang masih sangat darurat, serba kekurangan kita sekitar 80 persen. Padahal banyak lulusan dari sekolah kita ini yang sukses,” imbuhnya.

Zulfan Arif (19) yang putus sekolah karena faktor ekonomi dan Marlina (40) salah seorang kades tingkat desa, mengaku melanjutkan pendidikan pada sekolah non formal tersebut, karena sesuai kebutuhan dan tuntutan untuk kepentingan masa depan, yang harus memilik ijazah resmi dari sekolah yang legal.

“Saya tidak malu dan untuk apa malu sekolah disini, ini sekolah resmi dan legal. Saya melanjutkan sekolah disini karena bercita-cita ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dan ingin mendaftar menjadi TNI,?” kata Zulfan Arif, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (9/3), saat sedang istrahat setelah mengikuti belajar mengajar tatap muka.

Menanggapi banyak warga yang menuntut ilmu di sekolah non formal yang resmi dan legal itu, mendapat apresi?asi dari kalangan masyarakat setempat.

“Lebih mulia dan berprestasi dan saya hormati saudara kita yang belajar dan lulus dari sekolah non formal itu dan benar alumni dari sana banyak yang sukses. Sangat tidak terhormat dan tecela bagi pemilik ijazah palsu lalu bekerja di instansi pemerintahan,” Irnali (29), warga kota Sinabang, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (9/3). (ahi/rus).