Aktifis Anti Narkoba Ikut Sosialisasi Qanun Narkoba

Harianrakyataceh.com – Badan Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) Aceh, menggandeng DPP Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN), dalam melakukan sosialisasi qanun narkoba dan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN). Kegiatan ini berlangsung di Sabtu (13/3/21).

Adapun pesertanya berasal dari pengurus dan aktifis inspirasi keluarga Anti Narkoba dari Kota Banda Aceh dan DPP.

Ketum DPP IKAN, Syahrul Maulidi, mengatakan, kegiatan sosialisasi narkoba dapat meningkatkan pemahaman bagi pengurusdan aktifis akan bahaya narkoba.

“Saya berharap apa yang disampaikan pemateri dapat dijadikan pengetahuan bagi pribadi dan dapat disosialisasikan kepada orang lain,” jelasnya.

Apalagi kata Syahrul Maulidi, peredaran narkoba dan pemakai di gampong masih sangat tinggi. Untuk itu, bagaimana memberikan informasi kepada pihak berwajib dalam mengurangi peredaran gelap narkoba.

“Selain itu kita juga ucapkan kepada masyarakat yang telah memberikan informasi keberadaan peredaran narkoba jenis ganda baru baru ini di perahu yang ditemukan awalnya dari nelayan,” ungkapnya.

Kaban Kesbangpol Aceh, Mahdi Effendi diwakili Kabid Ketahanan Ekonomi dan Ormas, Mus Mulyadi, menyampaikan, saat ini penyalahgunaan peredaran gelap narkoba di Indonesia masih tergolong tinggi, bahkan syurga bagi pasar ketiga.

“Kalau di Aceh tingkat pertama pengedar dan pengguna ganja,” jelasnya.

Dikatakan, ladang ganja menjadi mukti effect kehidupan di Aceh. Namun dampak pengguna ganja sangat berpengaruh bagi masyarakat di Aceh.

“Ganja juga berdampak bagi Indonesia Umumnya dan Aceh khususnya,” bebernya.

Untuk menghindari penyalahgunaan peredaran gelap narkoba sesuai dengan visi misi Gub Aceh menjadikan Aceh hebat.

Dikatakan, dengan diterapkan qanuj narkoba Nomor 18 Tahun 2018 tidak terlepas peran eksekutif dan legislatif.

Pada kesempatan ini, Penasehat DPP IKAN, Tgk Irawan Abdullah, mengatakan, Aceh sebagai darurat narkoba butuh keseriusan semua pihak dalam mengurangi peredaran narkoba.

“Dengan sudah diterapkan qanun Nomor 8 tahun 2018 apa sudah cukup perlu pengawasan yang lebih serius,” harapnya.

Kata Ketua Komisi VI DPRA ini, bagaimana sebuah keluarga yang terkena dari penyalahgunaan atau candu narkoba yang sangat mengkwatirkan dari keluarganya itu sendiri.

“Sebagai orangtua tidak memikirkan berapa uang keluar asalnya bisa sehat dan tidak candu lagi dengan narkoba,” jelasnya. (rus).