Ketua Dekranasda Aceh Launcing Pojok Kreatif

Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati, melihat hasil kerajinan kerawang Gayo di sela launching perdana pojok kreatif di ARB Cafe, Kota Takengon, Kamis (11/3) malam. IST/RAKYAT ACEH

TAKENGON (RA) – Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati, melaunching perdana pojok kreatif di ARB Cafe, Reje Bukit, Kota Takengon, Kamis (11/3) malam pekan lalu.

Pojok kreatif merupakan penyedian space (ruang) di setiap cafe maupun lokasi wisata untuk memajang hasil kerajinan serta ide-ide kreatif lokal yang bisa dipasarkan kepada para pengunjung. Program pojok kreatif tersebut, merupakan hasil kerjasama Dekranasda Aceh dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh.

Di saat pagelaran launching perdana pojok kreatif di ARB Cafe, dipajang sejumlah hasil kerajinan asal dataran tinggi Gayo seperti baju bermotif kerawang, tas kerawang, selendang, ukiran dari kayu gerupel, sajian kopi arabika Gayo serta beragam jenis kerajinan yang dipamerkan di salah satu sudut café tersebut.

Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati menyebutkan, hampir 90 persen perekonomian di Indonesia ditopang oleh UMKM. Mulai dari usaha yang berada di pinggir jalan, sampai dengan yang di cafe-cafe serta di hotel-hotel. “Ini yang menjadi back bone (tulang punggung) dari perekonomian di Indonesia. Begitu juga dengan di Aceh,” kata Dyah Erti Idawati.

Alhasil, sebut Dyah, ketika ada covid-19 sehingga ada beberapa usaha sempat down, tetapi untuk Aceh, masih bisa survive (bertahan). Terutama yang paling mujur di Kabupaten Aceh Tengah karena justru kunjungan wisatawan tidak berkurang.

“Sekitar dua bulan lalu, ibu Menteri PPPA sempat mengeluh karena di Bali sempat minus 11. Tapi beliau heran, kenapa di Aceh hotelnya penuh. Saya sampai bilang, di Banda Aceh hotel penuh, tetapi justru kalau di Aceh Tengah, tidak ada tempat lagi, kalau kita mau datang. Ini yang patut kita syukuri,” cerita Dyah.

Makanya, lanjut istri Gubernur Aceh ini, mesti ada gerakan-gerakan yang harus dilaksanakan untuk menopang UMKM. Salah satunya, di tahun 2019, Gubernur Aceh, telah mengeluarkan imbauan agar menggunakan produk produk lokal. “Supaya uang kita tidak keluar. Terkecuali memang barangnya tidak ada di lokal,” imbaunya.

Untuk itu, Dyah meminta pihak pemerintah maupun swasta serta masyarakat untuk dapat mendukung UMKM yang ada. “Jangan cuma bangga bangga aja produk lokal tetapi harus beli dan pakai. Apa gunanya bangga, mencintai kalau tidak membeli,” ucapnya sembari diwarnai tawa para tamu yang hadir.

Menurut Ketua Dekranasda Aceh ini, ada beberapa usaha di Aceh yang mulai sepi, tetapi justru cafe-cafe tidak pernah sepi. Makanya, cafe menjadi salah satu sarana promosi untuk bisa mendukung UMKM. “Kalau kita komit menggunakan produk lokal, Insya Allah, ekonomi di Aceh akan cepat pulih kembali,” tuturnya.

Sementara itu, Kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Mohd Tanwir menambahkan, dengan adanya pojok kreatif akan tumbuh semangat baru bagi para pengrajin untuk melakukan kegiatan serta menciptakan ide kreatif. “Hasilnya, bisa dijual di cafe-cafeé serta tempat wisata lainnya,” kata Mohd Tanwir didampingi ketua tim kreatif Dra Nila Kanti MSi.

Mohd Tanwir menambahkan, melihat kunjungan wisatawan ke Kabupaten Aceh Tengah, akhir-akhir ini, mengalami kemajuan sangat pesat sehingga bisa menjadi peluang dalam memasarkan hasil kerajinan lokal. “Kalau Jumat, Sabtu, Minggu, semua hotel penuh. Contohnya, kita mau nginap di rumah segitiga di pinggir danau, harus menunggu dua bulan,” kata Tanwir.

Launching perdana pojok kreatif yang berlangsung di ARB Cafe, juga dihadiri oleh Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, Kepala Dinas Pariwisata Aceh, para pengurus Dekranasda Provinsi serta sejumlah pengurus Dekranasda Aceh Tengah. Di sela launching juga diserahkan sertifikat pojok kreatif untuk ARB Cafe, Objek Wisata Arung Jeram dan Café Kenari. (jur/bai)