BMKG Prediksi Musim Kemarau Mulai April

ILUSTRASI : Embung Lhok Gajah di Kuta Makmur Aceh Utara, dinilai tokoh masyarakat setempat tak efektif berfungsi Semestinya air dari embung ini diharapkan bisa mengairi 1.200 hektar sawah yang tersebar di 16 desa bila musim kemarau.

HARIANRAKYATACEH.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan musim kemarau pada 2021 akan dimulai pada April. Musim itu diperkirakan terjadi di 22,8 persen zona musim di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

”BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret dan setelah itu Monsun Australia akan mulai aktif. Karena itu, musim kemarau 2021 diprediksi mulai terjadi pada April,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resminya pada Jumat (26/3).

April sampai Mei, lanjut dia, sebagai masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau (masa pancaroba). Artinya, sejumlah daerah mulai memasuki musim kemarau namun tidak serentak.

”Hasil pemantauan terhadap anomali iklim global menunjukkan kondisi La Nina diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Mei dengan intensitas yang terus melemah. Sedangkan pemantauan kondisi indian ocean dipole mode (IOD) diprediksi netral hingga September,” terang Dwikorita.

Dia mengatakan, kedatangan musim kemarau umumnya berkait erat dengan peralihan angin baratan (Monsun Asia) menjadi angin timuran (Monsun Australia). Sejumlah wilayah yang akan memasuki musim kemarau pada April yaitu Nusa Tenggara dan Bali. Wilayah Jawa, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi pada Mei hingga Juni.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi Herizal menjelaskan, 30,4 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Mei, meliputi sebagian Nusa Tenggara, sebagian Bali, Jawa, Sumatera, sebagian Sulawesi, dan sebagian Papua. Kemudian sebanyak 27,5 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Juni, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan Papua.

Jika dibandingkan terhadap rata-rata klimatologis awal musim kemarau pada periode 1981–2010, awal musim kemarau 2021 di Indonesia diprakirakan mundur pada 197 zona musim (57,6 persen), sama pada 97 zona (28,4 persen), dan maju pada 48 zona musim (14,0 persen).

Namun, bila dibandingkan terhadap rata-rata klimatologis akumulasi curah hujan musim kemarau periode 1981–2010), secara umum kondisi musim kemarau 2021 diprakirakan normal atau sama dengan rata-rata klimatologisnya pada 182 zona musim (53,2 persen).

”Musim kemarau pada 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya. Artinya musim kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstrem, seperti musim kemarau 2015 dan 2019,” tutur Herizal.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahkan, kondisi cuaca pada sepekan ke depan (26 Maret–1 April) masih didominasi hujan ringan di sebagian besar Sumatera bagian utara, tengah, salatan, dan timur, sebagian Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,  Kalimantan, Sulawesi bagian utara, selatan, dan tenggara, Maluku bagian utara dan tengah, dan sebagian besar Papua.

Selain itu, masih ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan lebat seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara , Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Kepala Pusat Meteorologi Publik Fachri Radjab menyatakan, saat ini masih dalam periode peralihan sehingga tetap perlu waspada terhadap cuaca ekstrem.

”Masih perlu diwaspadai terutama di musim pancaroba biasanya terjadi hujan lebat disertai petir, angin puting beliung, bahkan ada juga hujan es,” terang Fachri Radjab.

 

 

SUMBER : JAWA POS