Nilai MoU Helsinki Jalan Ditempat, GAM Rapatkan Barisan

HARIANRAKYATACEH.COM – Komite Mualimin Atjeh Sumatera Merdeka (KMASM) bersama Panglima Wilayah KPA dan eks kombatan GAM merapatkan barisan. Hal itu dilakukan akibat MoU Helsinki RI-GAM yang sudah berjalan 16 tahun terkesan jalan ditempat.  

Untuk mencapai kesepakatan dan komitmen bersama, Komite Mualimin Atjeh Sumatera Merdeka (KMASM) menggelar Kongres Pertama di Atjeh, yang berlangsung di Kantor GAM, di jalan Medan-Banda Aceh, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Senin (5/4). Dalam kongres yang dilaksanakan secara tertutup itu hanya diikuti eks kombatan GAM Tripoli, para panglima wilayah KPA se- Aceh dan unsur terkait lainnya.

Ketua Komite Mualimin Atjeh Sumatera Merdeka ( KMASM), Tgk Zulkarnaini Bin Hamzah, usai kongres kepada awak media, mengatakan, kongres itu digelar untuk mencari solusi terbaik terkait persoalan MoU Helsinki yang belum selesai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Kami cari solusi yang terbaik, supaya perjanjian damai jalan terus dan semua poin-poin yang tertuang dalam perdamaian itu harus dituntaskan secara menyeluruh. Ini harapan dan unek-unek dari seluruh panglima wilayah, mualimin Aceh, yang telah tiba dari seluruh pelosok Aceh ke kantor GAM Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara,”ungkap Tgk Zulkarnaini Bin Hamzah yang juga Panglima KPA Wilayah Samudera Pase ini.  

Disebutkan, dalam kongres itu tidak ada tujuan lain, namun hanya untuk memperbaiki kembali apa-apa saja yang tidak berjalan terhadap poin-poin MoU Helsinki yang dianggap lemas sekali. “Perdamaian ini sudah berjalan 16 tahun, kami beranggapan ini waktu yang terbuang sia-sia, karen tidak dihiraukan oleh para pihak dalam rangka kepentingan Aceh dan rakyat Aceh yang telah dijanjikan sejak 15 Agustus 2005 silam, sampai sekarang secara kasat mata dan kasat hati kita melihat MoU Helsinki RI-GAM jalan ditempat,”tegasnya.

Menurutnya, dengan diadakannya kongres itu untuk mengajak semua pihak agar duduk runding, baik pihak GAM, tim mediasi maupun pihak RI untuk menjalankan poin-poin MoU Heslinki tersebut. “Kami input semua masukan baik dari masyarakat umum, tokoh masyarakat Aceh, maupun ulama yang mengharapkan MoU Helsinki harus berjalan sesuai kesempatan bersama RI-GAM,”ucapnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya merasa bertanggungjawab terhadap rakyat Aceh dan para syuhada Aceh dan inong balee, para aneuk syudaha, karena mereka menunggu kapan MoU diselesaikan sebagaimana mestinya. Namun, hingga sekarang tidak ada tanda-tanda untuk diselesaikan sesuai butir-butir yang tertuang dalam MoU Helsinki.

“Kami dari Mualimin Aceh mengambil suatu jalan tengah, sehingga melaksanakan kongres ini untuk melancarkan dan mencari solusi yang damai. Langkah yang kita ambil adalah langkah damai, bahwa kita akan menyampaikan aspirasi hasil kongres ini kepada pemimpin GAM, pihak RI maupun juru runding,”katanya.  

Selain itu, lanjut Tgk Zulkarnaini, semua poin-poin MoU Helsinki tidak selesai. “Kalau selesaikan pun itu setengah-tengah, meskipun sudah ada undang-undang Pemerintahan Aceh, itu pun dipotong disini dan dipotong disana, harus penuh lah biar sesuai dengan MoU Helsinki RI-GAM,”cetusnya. (arm/icm)