Puluhan Ton Gabah Padi Petani Belum Lunas, Komisi B Dewan Simeulue Panggil ‎Pemda dan Dinas Pertanian

Keterangan foto:‎ Pembahasan pelunasan gabah padi milik petani‎ diruang Komis B DPRK Simeulue, Kamis (8/4). Ahmadi - harianrakyataceh.com.

HARIANRAKYATACEH.COM – Puluhan ton gabah padi milik petani belum lunas, Komisi B DPRK Simeulue memanggil dan meminta kepastian serta solusinya dari Pemerintah, Dinas Pertanian, Koperasi dan pihak kilang padi. Kamis (8/4).

‎Pembahasan persoalan tersebut berlangsung lebih dari dua jam itu, yang digelar di ruang wakil rakyat, dan dipimpin langsung Jul Akmal selaku Ketua Komisi B Dewan dan Rita Diana anggota Komisi B Dewan, dan dihadiri Novikar Setiadi Asisten II, Sekretaris Dinas Pertanian, Ketua Koperasi Oriza Satifa dan Manajer Kilang Padi.

Dari pembahasan tersebut, terungkap masih ada sekitar 41 ton gabah padi milik petani yang belum lunas‎ dari 75 ton, yang saat ini ada yang telah menjadi beras dan masih dalam bentuk gabah padi yang belum diolah menjadi beras, serta masih menunggu pencarian suntikan dana hibah yang telah tersedia.

Untuk proses dana hibah sekitar Rp 800 juta itu, pihak Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Dinas Pertanian setempat sedang berupaya melengkapi persyaratan resmi pencairan uang negara itu, sesuai aturan hukum yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan Negara, sehingga pelunasan gabah padi milik petani itu tidak berlarut.

Pihak Komisi B Dewan, untuk menunggu pancairan dana hibah itu, diminta Pemda dan Dinas Pertanian tidak diam, harus turun dan menemui serta memberikan penjelasan kepada pemilik gabah padi, ‎sehingga tidak menimbulkan polemik dan tudingan negatif, sebab saat ini pemilik gabah padi meminta pelunasan.


“Kita memanggil dan membahas soal pelunasan gabah padi milik petani, serta wajar saudara kita para petani kecewa dan mendesak pemda dan Dinas terknis untuk segera melunasi gabah padinya, sebab selama ini ada kesan tidak penjelasan dan terkesan diam dari dinas pertanian selaku dinas tekhnis”, kata Jul Akmal ketua Komisi B Dewan dalam pembahasan tersebut.‎

Jul Akmal yang mengaku banyak mendapat keluhan dari petani, dan dia sarankan supaya pihak Dinas Pertanian untuk mendatangi dan memberikan penjelasan kepada para pemilik gabah padi itu, sehingga nantinya persoalan tersebut tidak berlarut dan tidak bertambah runyam disebakan para pemilik gabah padi membutuhkan pelunasan secara cepat, dana hasil gabah padinya untuk kebutuhan menghadapi bulan ramadhan.

Sementara Rita Diana, Anggota Komisi B Dewan itu juga berharap dari hasil pembahasan tersebut untuk segera diwujudkan solusinya oleh Pemda setempat dan Dinas Pertanian, supaya tidak terus menerus ditagih oleh pemilik gabah padi serta selain 41 ton yang belum lunas itu juga masih ada puluhan ribu ton gabah padi milik petani di 10 Kecamatan yang ada, belum ada kepastian ditampun atau tidak.

“Kita minta hasil pembahasan ini ada solusi dan nyata untuk pelunasan gabah padi milik petani serta juga menampung puluhan ribu ton gabah padi milik petani kita. Serta kita berharap para pemilik gabah padi juga bersabar, sebab Pemda sedang berusaha untuk proses pencairan dana yang bersumber dari negara itu, agak rumit dan harus dipenuhi prosedur aturannya”, katanya.

Sementara Novikar Setiadi Asisten II Pemerintah Kabupaten Simeulue dalam pertemuan itu, menegaskan untuk saat ini pihak Pemda melalui Dinas Pertanian dan Koperasi sedang berupaya untuk melunasi gabah padi milik petani yang sebelumnya telah ditampung sebanyak 75 ton, dan yang belum lunas sebanyak 41 ton.

“Bagaiamanpun caranya, Dinas Pertanian dan Koperasi harus maksimal berupaya mencari dana untuk melunasi sisa 41 ton gabah padi yang saat ini ditagih oleh pemiliknya. Sebab untuk proses dana hibah yang bersumber dari uang negara, bila lancar dan dokumennya dalam waktu 4 hari bisa cair,‎ tapi itu tadi harus lengkap dokumen dan persyaratannya”, kata Asisten II Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Tim teknis Dinas Pertanian terlihat pasrah dalam pembahasan itu, serta mengungkapkan untuk stok dana telah kandas untuk melunasi 41 ton gabah padi tersebut, hanya menunggu pencairan dana hibah. “Tidak ada lagi stok dana yang tersedia, kami mau pinjam dana juga entah kemana yang ada”, kata Joharman Kasubag Keuangan Dinas Pertanian juga selaku Bendahara Koperasi Oriza Satifa, didampingi Karsuan Sekdis Pertanian.

Belum lunasnya gabah padi sebanyak 41 ton dengan harga persatukilogram Rp 5000 itu, Andre Rifianda yang juga selaku Manajer Kilang Pa‎di mitra Dinas Pertanian dan Koperasi Oriza Satifa itu, dalam pembahasan dengan pihak komisi B Dewan tersebut, dia juga mengaku menjadi sasaran yang sering ditagih oleh pemilik gabah padi.

“Kami ini ditugaskan sebagai pekerja untuk proses menggiling padi sesuai  intruksi. Awalnya bila ada pemilik padi yang datang menawarkan gabah padinya, tetap kita ingatkan, dananya tidak bisa langsung dibayar dan harus sabar, sebab uangnya dari negara dan itu prosesnya agak lama”, imbuhnya.

Sebelumnya, para pemilik 41 ton gabah itu telah berulangkali dan gencar menagih serta meminta kepastian pelunasannya gabah padinya, namun tidak mendapat perhatian serius dari Dinas terkait, hingga pihak Komisi B DPRK Simeulue, memanggil yang terlibat dalam padi hasil panen raya program humasa sebel -khumaha heba jilid I dengan hasil lebih dari 31 ribu ton dan kini mulai program humasa sebel – khumaha heba jilid II.    (ahi).