Niat Berpuasa Diucapkan pada Malam Hari atau Sebelum Imsak?

(Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

HARIANRAKYATACEH.COM – Ramadan 1442 Hijriah sudah di depan mata, umat muslim di seluruh dunia pun akan menjalankan ibadah puasa. Dalam melaksanakan ibadah wajib ini, umat muslim perlu memanjatkan doa atau niat berpuasa.

Akan tetapi, jika seseoarang lupa membaca niat puasa, apakah ibadahnya tetap sah atau tidak?

Mengutip laman Islami.co, dikatakan bahwa dalam melaksanakan puasa di bulan Ramadan, niat perlu dipanjatkan sejak malam hari hingga terbit fajar. Hadis tersebut juga disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

عَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللَهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ

“Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”(HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Sudah dikatakan jelas, maka bagi seseorang yang tidak membaca niat pada malam hari, amalan puasanya tidak sah. Namun, bagaimana jika seseorang yang lupa niat berpuasa, tapi tetap makan sahur, apakah itu mewakili niatnya untuk berpuasa?

Dari riwayat Al Alim al Allamah Asy Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, murid imam ahli fikih Ibnu Hajar al Haitami di dalam kitab Fathul Mu’in, dikatakan bahwa makan sahur bukan berarti sudah berniat puasa. Sehingga, puasa yang dilakukan oleh orang yang lupa niat puasa di malam harinya tidak sah, dan harus diganti di hari lain jika ia berpuasa di bulan Ramadan.

ولايجزئ عنها التسحر وان قصد به التقوى على الصوم ولا الامتناع من تناول مفطر خوف الفجر ما لم يخطر بباله الصوم بالصفات التي يجب التعرض لها في النية

“Makan sahur tidak cukup sebagai pengganti niat, meskipun ia makan sahur bermaksud agar kuat melaksanakan puasa. Dan mencegah dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa karena khawatir akan terbitnya fajar juga tidak mencukupi sebagai pengganti niat selama tidak terbersit (di dalam hatinya) niat puasa dengan sifat-sifat yang wajib disinggung di dalam niat.”

Namun, meskipun puasanya tidak sah, bukan berarti ia boleh makan dan minum sepuasnya atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu. Ia tetap harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu, karena untuk menghormati waktu yang banyak orang melaksanakan puasa di dalamnya.

Meskipun puasanya tidak dianggap, tetapi ia tetap mendapatkan pahala. Sebagaimana keterangan yang dijelaskan juga di dalam kitab Fathul Mu’in berikut ini:

(و يجب (امساك) عن مفطر (فيه) اى رمضان فقط دون نحو نذر وقضاء (ان افطر بغير عذر) من مرض أو سفر (أو بغائط) كمن أكل ظانا بقاء الليل أو نسي تنبيت النية أو أفطر صوم الشك وبان من رمضان لحرمة الوقت وليس الممسك في صوم شرعي لكنه يثاب عليه

Namun demikian, terdapat pendapat yang menganggap sahnya orang yang sudah sahur walaupun lupa atau tidak sempat niat puasa yang biasa dilakukan setelah shalat tarawih, sebagaimana pendapat yang disampaikan Syekh Ibrahim al-Bajuri berikut:

ولو أكل أو شرب خوفا من الجوع أو العطش نهارا أو امتنع من الأكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر  فإن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها كفى ذلك في النية لتضمنه قصد الصوم وهو حقيقة النية.

Bila seseorang makan dan minum (dengan tujuan sahur) karena takut esok siang merasakan lapar dan haus, atau menahan diri tidak makan, minum, dan jimak karena takut sudah terbit fajar sadik (yang menjadi tanda sudah wajib puasa), sambil di dalam hatinya terbesit bahwa besok dia akan melakukan puasa sebagaimana mestinya, maka ini juga sudah mewakili niat puasa, dan inilah hakikat niat.

Artinya, bila kita makan atau minum dengan tujuan agar besok mendapatkan energi untuk berpuasa, itu sama saja mewakili niat, dan puasanya tetap sah. (*)