Kepala BNPB Akan Tiba di Simeulue, Ini Permintaan Bupati Erli Hasyim

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo ‎memaparkan, dua kriteria daerah yang bisa menerapkan new normal atau era baru di tengah pendemi Covid-19. (Hendra Eka/Jawapos.com)

HARIANRAKYATACEH.COM – Kepala BNPB Letjen TNI (H.C) Doni Monardo dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Simeulue, Selasa (20/4).

‎Doni Monardo ‎yang juga Ketua Satgas Covid-19 akan datang bersama 37 rombongan, tiba di Simeulue dengan menggunakan pesawat BNPB, sekitar 17.35 WIB, Selasa (20/4) di Bandar Udara Lasikin dari Bandar Udara Internasional Iskandar Muda.

Pemerintah Kabupaten Simeulue, Senin (19/4) melakukan rapat terbatas untuk persiapan menyambut kadatangan Doni Monardo dan rombongan.

Menurut informasi diterima Rakyat Aceh, rombongan Kepala BNPB akan menginap satu malam di pulau Simeulue kemudian esok harinya Rabu (21/4) melanjutkan pertemuan dengan pihak Pemerintah Daerah, dan akan kembali ‎melanjutkan ke pulau Nias, sekitar pukul 11:30 WIB.

Hasil pembahasan rapat terbatas menyambut kedatangan orang nomor satu di BNPB tersebut, pihak ‎Pemerintah Kabupaten Simeulue, telah mempersiapkan sejumlah permintaan khusus mitigasi bencana, yang dikenal wilayah kepulauan Simeulue, rawan bencana alam.

“Hari ini kita melaksanakan rapat terbatas untuk membahas menyambut agenda kedatangan pak Kepala BNPB juga selaku Ketua Satgas Covid19 Republik Indonesia‎ kepulau Simeulue”, kata Erli Hasyim, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (19/4) diruang kerja Sekda Ahmadlyah.

Bupati Erli Hasyim, didampingi Sekda Ahmadlyah dan Mulyawan Rohas Kadishub Simeulue, memaparkan, pihak pemerintah daerah telah persiapkan sejumlah permintaan yang dinilai sangat penting dan stratgis serta vital untuk mendukung kepentingan antisipasi bencana alam maupun saat sedang bila terjadi bencana alam.

“Selain nantinya membahas wabah Covid19, kita minta juga meminta kepada pak Kepala BNPB untuk dapat mengatasi persoalan abrasi pantai dan pemotongan bukit yang berada diujung runway bandara udara Lasikin. Bila tidak cepat diatasi akan membahayakan penerbangan, sebab bandara udara kita itu juga dipersiapkan untuk sarana evakuasi bila terjadi bencana alam berskala besar”, imbuhnya.

‎Dia merincikan, ujung runway bandara dari arah pantai yang saat ini menjadi sasaran abrasi oleh gelombang laut, sehingga membutuhkan pembangunan tanggul secara permanen dan tahan terhadap hantaman ombak dan hantaman angin kencang.

Sedangkan ancaman lainnya berasal dari salah satu bukit yang berada tepat diujung runway bandara udara Lasikin, yang membahayakan penerbangan, dan bukit tersebut harus dipotong atau dikating sebanyak 2,3 juta kubik, dengan kebutuhan biaya sekitar Rp 160 miliar.

Terakhir dilakukan pemotongan tahun 2014 lalu, yang bersumber dari dana APBA sebanyak Rp 18 miliar, namun bukit tersebut, masih membahayakan pesawat yang hendat turun dan hendak terbang. “Terkahir bukit itu dipotong sekitar tahun 2014 lalu, dengan anggaran Rp 14 miliar dari APBA, dan bukit itu masih membahayakan penerbangan”, kata Mulyawan Rohas Kadishub Simeulue. (ahi)