Petugas Haria: Saya Tidak Palak Pedagang Inpres Rp 5 Juta 

HARIANRAKYATACEH.COM – Sayidina Ali selaku petugas Haria di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe membantah jika ingin memalak uang Rp 5 juta dari Muhammad Ali pedagang bakso giling di pasar setempat.

“Tidak benar apa yang telah disampaikan oleh Muhammad Ali jika saya meminta atau memalak uang Rp 5 juta kepadanya, kalau gak diberikan maka tempat usaha dibongkar,”tegas Sayidina Ali kepada Rakyat Aceh, Senin (19/4) malam saat mendatangi kantor Persatuan Wartawan Aceh (PWA).

Disebutkan, pembongkaran tempat usaha penggilingan bakso milik Muhammad Ali itu hanya untuk penertiban pasar. Karena Muhammad Ali membangun lapak usaha itu tanpa adanya koordinasi dengan petugas Haria atau UPT Pasar Disperindagkop UKM Kota Lhokseumawe. 

“Memang dalam bulan ini, program kita untuk melakukan penertiban bangunan liar yang tidak memiliki izin di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, salah satunya seperti milik Muhammad Ali itu yang berada di lorong pajak ikan sebelah kiri,”ungkapnya. 

Dikatakan, dalam pengambilan keputusan pembongkaran bangunan liar itu dirinya juga sudah menyampaikan kepada UPT Pasar Disperindagkop dan UKM Kota Lhokseumawe, sehingga akhirnya ia langsung membongkar.

Diberitakan sebelumnya, seorang pedagang di pasar Inpres Kota Lhokseumawe, terpaksa merelakan tempat usahanya dibongkar oleh petugas haria setempat, pada Senin (19/4) sekira pukul 01.00 dini hari. Hal itu disebabkan, akibat pedagang giling bakso bernama Muhammad Ali (40) tidak mau memberikan uang yang dipalak oleh petugas haria sebesar Rp 5 juta.

“Mereka seperti preman saja (petugas haria) main bongkar karena uang yang diminta Rp 5 juta tidak saya berikan,”ucap Muhammad Ali (40) pedagang giling bakso asal warga Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Disebutkan, alasan petugas haria itu meminta uang untuk pengurusan surat menyurat yang tidak jelas peruntukkannya. “Lapak jualan itu dulu kami beli sama mereka juga yang sudah kita tempati lebih daripada 15 tahun lamanya, namun kenapa tiba-tiba mereka meminta uang lagi Rp 5 juta,”ungkapnya. (arm/ra)