Belajar Puasa dari Hewan dan Tumbuhan

Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Aceh.

Oleh: Nazarullah ZA, S.Ag, M.Pd

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu” (QS. Fushilat: 53)

Firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Quran dalam bentuk ayat disebut ayat qauliyah. Namun, di samping ayat-ayat qauliyah masih ada lagi ayat-ayat dalam alam semesta yang disebut dengan ayat kauniyah. Ayat kauniyah adalah ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah SWT berupa alam semesta dan semua isi yang ada di dalamnya. Bahkan diri kita secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Ayat kauniyah ini sering juga disebut dengan fenomena alam.

Salah satu ayat kauniyah yang sering dikaji dan dipelajari adalah tentang penciptaan langit dan bumi serta perputaran siang dan malam yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 164. Di seputaran kehidupan manusia sangat banyak kita dapati ayat-ayat kauniyah. Kauniyah berasal dari kata “kaana” yang maknanya adalah bukti. Secara istilah, kauniyah mengandung makna berupa ayat-ayat Allah yang tidak terfirmankan atau terucapkan stau tertuliskan, namun bisa dibuktikan melalui keadaan ataupun kejadian.

Orang mukmin yang dianugerahkan Alkah berupa akal dan fikiran, tidak hanya mencari tanda-tanda kebesaran Allah melalui ayat-ayat-Nya di dalam Al-Quran, namun juga mencari ilmu dan tanda-tanda keagungan Allah SWT melalui alam semesta. Mengkaji fenomena alam yang disebut dengan ayat kauniyah, tidak akan bertentangan dengan ayat-ayat qauliyah bahkan ayat qauliyah dengan ayat kauniyah ini akan saling melengkapi.

Berkaitan dengan ayat kauniyah, kewajiban manusia adalah bertafakkur, yaitu memperhatikan, merenungi, dan mempelajari ciptaan Allah yang ada di alam sekitar. Benda-benda atau sesuatu yang telah diciptakan Allah bila dijadikan sebagai bahan tafakkur, akan banyak pelajaran yang akan dapat diambil untuk menambah keyakinan dan keimanan manusia kepada Allah SWT. Oleh karena itu, dalam ramadhan yang mulia ini, mari kita sejenak belajar dari ayat kauniyah berupa makhluk Allah yang terdapat di seputaran kita.

Pertama, Belajar dari ayam. Kita semua pernah melihat ayam yang sedang mengeram telurnya. Ketika seekor induk ayam bertelur, dia akan mencari tempat yang baik dan nyaman untuk mengeram telurnya. Biasanya induk ayam dalam mengeram telur membutuhkan waktu tiga minggu atau 21 hari. Selama proses pengeraman itu, induk ayam tidak pernah meninggalkan telurnya.

Dia tidak turun dari sarangnya untuk makan dan minum. Kalau induk ayam tersebut turun mencari makan dan minum, maka telur yang sedang di eramnya akan tembuhuk (kom). Pengorbanan induk ayam ini sangat besar demi untuk kelahiran anak-anak yang akan menetas dari telur yang dieraminya selama 21 hari. Pertanyaannya, apa pengorbanan terbaik dari induk ayam tersebut saat mengeram? Jawabannya adalah berpuasa tanpa makan dan minum selama 21 hari.

Kedua, Belajar dari pohon kedondong. Kita pernah melihat pohon kedondong yang berada di depan rumah kita tiba-tiba menjadi kering dan daun-daunnya jatuh berguguran. Pohon yang sebelumnya subur, hijau dan rimbun, kini menjadi “botak” dan hanya menampakkan ranting-rantingnya saja.

Kenapa pohon kedondong menggugurkan daun-daunya?
Pada musim kemarau, matahari bersinar sangat terik. Untuk mempertahankan hidupnya pohon kedondong harus rela menggugurkan daunnya agar dia bisa bertahan hidup.

Padahal secara ilmiah, daun itu sangat penting untuk fotosintesis. Tapi Allah berkehendak lain bahwa pohon ini tidak akan mati malah sedang bertransformasi dan sedang berpuasa, menempa dirinya untuk bertahan hidup dengan cara membuang daun-daun yang membebani hidupnya saat musim kemarau sambil memperbaiki kualitas tubuhnya agar dahan, ranting dan batangnya akan lebih kokoh lagi ke depan.

Ternyata pohon kedondong pada musim kemarau berpuasa dengan tidak melakukan fotosistesis tapi malah menggugurkan daun-daun kuning yang sudah tua untuk tidak menjadi beban adalah demi untuk mendapatkan daun-daun baru yang muda dan hijau.

Ketiga, Belajar dari ular. Makhluk binatang yang bernama ular untuk menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah dengan menggantikan kulitnya secara berkala. Yang harus kita ketahui bahwa, ular itu tidak serta merta menanggalkan kulitanya yang lama, tapi dia harus berpuasa dengan tanpa makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya selesai, kulit luarnya terlepas dan muncullah kulit baru.

Dari kejadian puasanya ular untuk mendapatkan kulit baru, pelajaran apa yang dapat kita petik? Pertama, wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama bentuknya. Kedua, namanya tetap sama sebelum dan sesudah puasa yaitu “ular”. Ketiga, makanan ular sesudah puasa dengan sebelum berpuasa tetap sama yaitu katak dan sejenisnya. Keempat, cara bergerak ular juga tidak berobah yaitu dengan merayap. Dan kelima, tabiat ular dan sifatnya tetap sama saja sebelum dan sesudah berpuasa.

Keempat, Belajar dari ulat. Ulat adalah jenis binatang yang diciptakan oleh Allah yang punya sifat sangat rakus karena hampir sepanjang hidupnya digunakan untuk makan. Setelah dia merasa puas menjalani hidup dengan makan terus menerus, ulat ini melakukan perubahan hidupnya dengan berpuasa. Puasa yang dilakukan ulat ini sanagat bersahaja dan benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Pada saat itu ulat mengasingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kepompong, sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.

Setelah lebih kurang dua minggu berpuasa, maka keluarlah dari kepompong seekor makhluk baru yang sangat indah yang bernama kupu-kupu. Wajah sebelumnya berbentuk ulat berubah indah mempesona. Dari nama ulat berubah menjadi kupu-kupu.

Makananpun ikut berobah, yang sebelum nya dia makan daun, setelah menjadi kupu-kupu makannya dengan menghisap madu. Ulat yang sebelumnya mejalar, kini terbang di awang-awang. Spesialnya lagi dari ulat ini adalah dari sisi sifat dan tabiatnya yang berubah total.

Ketika masih jadi ulat sifatnya merusak alam dengan memakan daun, begitu setelah berpuasa dan menjadi kupu-kupu sifatnya juga berubah menjadi kupu-kupu yang menghidupkan dan membantu keberlangsungan kehidupan tumbuh-tumbuhan dengan cara penyerbukan bunga. Maka jadilah ulat ini sebagai makhluk baru yang bermnfaat bagi alam setelah dia berpuasa.

Oleh karena itu, puasa ramadhan yang kita jalani saat ini seharusnya mampu menempa kita agar menjadi sosok ulat dan bukan sosok ular. Seperti ulat yang berubah menjadi makhuk bermanfaat, maka setelah ramadhan, kita selaku manusia beriman harus menjadi manusia yang saling memberikan manfaat bagi manusia lain. Dalam ramadhan ini, kita berharap tidak seperti ular yang tidak membeikan perubahan berarti. Puasa hanya rutinitas tahunan, tidak ada peningkatan kualitas amal, apalagi bermanfaat bagi sesama.