Polisi Sudah Periksa Lima Saksi Pedagang Inpres “Terkait Kasus Palak dan Bongkar Lapak”

Kapolsek Banda Sakti Iptu Arifin.

HARIANRAKYATACEH.COMPolsek Banda Sakti Kota Lhokseumawe, dalam tiga hari terakhir ini sudah memintai keterangan lima saksi korban terkait kasus dugaan palak dan bongkar lapak di Pasar Inpres Lhokseumawe oleh petugas haria.

 

Hal itu disampaikan Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto melalui Kapolsek Banda Sakti Iptu Arifin, dikonfirmasi Rakyat Aceh, Kamis (22/4).

 

Ia mengatakan, saksi korban M.Ali sudah dimintai keterangan atas kasus yang menimpanya. Termasuk lima saksi lainnya yang mengetahui kejadian pembongkaran lapak di Pasar Inpres Lhokseumawe diduga dilakukan oleh petugas Haria. “Barang-barang bukti juga kita amankan, seperti palu dan gergaji untuk pengembangan kasus tersebut,”katanya, seraya menambahkan, saat ini yang baru dimintai keterangan hanya sebatas saksi korban dan saksi-saksi yang mengetahui kejadian pembongkaran lapak Pasar.

 

Disebutkan, untuk pelaku pembongkaran lapak yang diduga dilakukan oleh petugas Haria belum dimintai keterangan. ” Kita fokus dulu terhadap korban dan saksi-saksi korban, supaya dalam pengembangan kasus ini lebih mengarah, termasuk soal sewa menyewa lapak dan pengutipan uang,”ungkapnya.

 

Diberitakan sebelumnya, seorang pedagang di pasar Inpres Kota Lhokseumawe, terpaksa merelakan tempat usahanya dibongkar oleh petugas haria setempat, pada Senin (19/4) sekira pukul 01.00 dini hari. Hal itu disebabkan, akibat pedagang giling bakso bernama Muhammad Ali (40) tidak mau memberikan uang yang dipalak oleh petugas haria sebesar Rp 5 juta.

 

“Mereka seperti preman saja (petugas haria) main bongkar karena uang yang diminta Rp 5 juta tidak saya berikan,”ucap Muhammad Ali (40) pedagang giling bakso asal warga Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, kepada Rakyat Aceh.

 

Disebutkan, alasan petugas haria itu meminta uang untuk pengurusan surat menyurat yang tidak jelas peruntukkannya. “Lapak jualan itu dulu kami beli sama mereka juga dan kita sudah tempati lebih daripada 15 tahun lamanya, namun kenapa tiba-tiba mereka meminta uang lagi Rp 5 juta,”ungkapnya. (arm/ra)