Pasar Rakyat Pidie Jaya Telantar

Pasar Rakyat Trienggadeng, Pidie Jaya yang rampung dibangun sekitar 7 tahun lalu, hingga kini masih telantar. Abdullah Gani/Rakyat Aceh

HARIANRAKYATACEH.COM – Pembangunan Pasar Rakyat Pidie Jaya di Komplek Objek Wisata Islami Pantai Kuthang, Kecamatan Trienggadeng yang telah rampung dibangun 6 tahun lalu, dengan nilai Rp 5 milyar lebih belum juga difungsikan.

Selain bangunan utama berupa gedung yang lumayan besar juga disertai dengan 14 unit kios. Di komplek tersebut juga tersedia sebuah musalla dan baru saja direhabilitasi. Di halaman bangunan utama, belakangan juga dipasang 15 unit payung.

Beberapa warga sekitar menjawab harian ini, Kamis (22/4) mengaku heran dan tak habis pikir keberadaan pasar tersebut. Seperti disampaikan seorang tokoh masyarakat yang minta identitasnya tidak ditulis. “Itu buang-buang uang rakyat,” kata sumber.

Hasbi, seorang tokoh lainnya disana juga mengomentari hal sama. Selain pertokoan milik Pemkab belum rampung dibangun, belasan unit ruko milik pribadi yang sedang dibangun juga belum selesai. Pihaknya tak tahu persis kenapa ruko tersebut juga sudah lebih setahun ditinggalkan pemborong.

“Beginilah nasib ibukota Kecamatan Trienggadeng selama ini,” timpal Hasbi.
Kadis Perindustrian Perdagangan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UKM) Pidie Jaya, HM Nasir, Minggu (25/4) mengatakan pasca diresmikan hanya dua hari aktif setelah itu kembali tutup.

Belasan kios plus 10 unit tenda yang di komplek tersebut kini sudah disewakan oleh seorang pedagang dan rencananya seusai Idul Fitri tahun ini akan difungsikan. Nantinya, lanjut Nasir, akan dibuka rumah makan menu kuah beulangong, bebek bakar serta ikan panggang.

Sementara 22 unit toko milik Pemkab di Keude Trienggadeng dan hingga saat ini belum rampung, lanjut Kadisperindagkop, adalah akibat ketelodoran pemborong (rekanan). Karena hingga berakhirnya batas waktu, sementara bangunan belum rampung, sehingga terpaksa dilakukan pemutusan kontrak.

Dari Rp 4 milyar dana yang di plot pemerintah, yang habis terpaksai hanya Rp 2,8 milyar. “Usai Ramadan nanti, tim akan turun mengamati sekaligus melanjutkan pekerjaan,” kata HM Nasir. (mag87/bai)