Kaluet dan Sulok, Melepaskan Diri dari Urusan Duniawi

Jamaah Suluk di Dayah Seuramoe Darussalam, Bradeun, peukan Bada, Aceh Besar. Doc. RAKYAT ACEH

HARIANRAKYATACEH.COM – KALUET (Khulwah) dan Suluk atau Sulok, keduanya sama –sama beribadah untuk muraqabah atau mendekatkan diri dengan Allah SWT dengan melepaskan diri dari semua urusan duniawi.

Pengikut Kaluet dan Sulok, dilarang memakan makanan mengandung darah, tidak boleh mengkonsumsi makanan melezatkan, porsi makanan dikurangi dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar.

Bagaimana ibadah Kaluet dan Sulok dijalankan ? Tata cara pelaksanaannya dapat kita temui di saat Kaluet di Pesantren Darul Munawwarah Kuta Krueng-Ulee Gle Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya dibawah Asuhan Tgk H Usman Ali (Abu Kuta Krueng)

Pesantren ini satu-satunya dayah ternama di Aceh yang telah melahirkan ribuan ulama serta Sulok di Dayah Ribathul Muta’alimin Al-Aziziyah Gampong Dayah Usen Kecamatan Meurahdua, Pimpinan Tgk Yusri Gade dalam wawancara dengan Rakyat Aceh pada tempat dan waktu terpisah, Jumat (30/4).

Sudah menjadi kebiasaan pada bulan suci ramadan, hampir semua daerah di Aceh mengisi kegiatan ibadah Kaluet di dayah/pesantren. Sejak hari pertama ramadan, pria dan wanita didominasi kalangan usia lanjut mendatangi dayah atau pesantren guna mengikuti ibadah Kaluet atau Sulok.

Di Pidie Jaya, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng-Bandardua dan Dayah Ribathul Muta’alimin Dayah Usen- Meurahdua, dua dari sekian dayah menjadi sasaran mereka yang ingin melaksanakan ibadah tersebut.

Tahun ini di dua dayah tersebut ada 740 orang jamaah yang berkaluet atau sulok. Dayah Munawwarah sekitar 700 orang dan Dayah Rhibatul 40 orang.

Di Dayah Darul Munawwarah yang kini berusia lebih setengah abad (lahir 1964), sebagaimana penuturan Tgk H Anwar Usman (lebih akrab disapa Abiya) putra Tgk H Usman Ali atau Abu Kuta Krueng, kaluet dijalankan berdasarkan Tarikat Syathariah dan Samadiyah dengan lama satu bulan dan ada juga yang melaksanakan hingga 40 hari lamanya.

Kaluet selama sebulan, masuk mulai satu ramadan, sementara jika menjalani 40 hari maka masuk Kaluet 10 hari sebelum ramadan. Sementara keluar dari kaluet pada 1 Syawal atau pada pagi Hari Raya Idul Fitri.

Kaluet adalah melepaskan diri dengan duniawi. Tujuan Kaluet dan Sulok, lanjut Tgk H Anwar adalah sama-sama untuk beribadah meningkatkan amalan rohani. Dengan demikian akan bertambah ketaqwaan kepada Allah SWT. Karenanya, mereka yang menjalani ibadah yang satu ini tidak sembarangan orang. Kegiatan ini hanya mampu dijalankan oleh orang-orang yang telah memiliki pengetahuan agama yang tinggi serta tidak terpengaruh dengan berbagai kesenangan duniawi.

Ramadan tahun ini, yang menjalani Kaluet di Darul Munawwarah 700 orang pria dan wanita. Terbatasnya penerimaan karena masa pandemi. Sementara sebelum covid lebih 1.000 orang. Mereka ditempatkan di dua komplek terpisah dan di skat dengan bilik kecil (satu orang setiap bilik).

Dibandingkan ramadan tahun-tahun sebelumnya, sambung Tgk Sanusi, Khadim Abu Kuta Krueng, kali ini menurun karena pandemi atau covid. Kaluet juga dilaksanakan santri dayah yang tidak pulang pada ramadan.

Ibadah meliputi, berdoa, zikir, shalat wajib, shalat sunat termasuk tarawih dan membaca al-quran.Kesimpulannya, orang yang Kaluet dan Sulok, tidak ada waktu lowong kecuali berzikir. Saat terbaring dan terpejam mata pun, lanjut Tgk Sanusi yang juga santri di dayah tersebut, mulut berzikir, buah musabah tak pernah lepas ditangan.

Kaluet (Khalwat), mengamalkan samadiyah hingga 40.000 kali serta Tahlil mencapai 100.000 kali. Orang yang ber Kaluet tak pernah lepas dari menutup wajah, kecuali saat mengambil air wudhu’. Sementara Sulok, tidak mesti harus menutup wajah.

Pun demikian, untuk lebih kusyu’ jamaah Sulok juga semuanya menutup wajah. Pengikut Kaluet dan Sulok sering menangis ketika tengah malam merenungi nasib dan arti kehidupan. Mereka benar-benar sudah menyatu dengan ibadah dan mampu melepaskan diri dari segala urusan duniawi.

Kaluet bertarikat Syattariah, induknya di Dayah Darul Munawwarah-Kuta Krueng Bandardua dan menyebar di semua kabupaten dimana alumni Kuta Krueng berada. Sedang Sulok (tarikat Naksyabandiyah) berpusat, di Pesantren Darussalam-Labuhan Haji-Aceh Selatan dan juga menyebar di sejumlah daerah di Aceh.

Ibadah Kaluet dan Sulok, jika dilaksanakan dengan khusyu’ serta ikhlas, hasilnya dapat dirasakan langsung dan utamanya ketenangan bathin. Hidup tanpa beban karena lebih dekat dengan Allah SWT.

Amatan harian ini, kegiatan sama juga berlangsung di Dayah Daruzzahidin Gampong Bidok –Ulim dan Dayah Al-Waliyah, Pimpinan Tgk H Abdullah Ibrahim (Abu Tanjong Bungong) Kecamatan Bandardua. Pelaksaaan ibadah di dua dayah ini ini juga sudah berlangsung belasan tahun.

Untuk persiapan makan sahur dan berbuka, hanya sebagian kecil memasak sendiri sementara yang dominan katering. Mereka tidak mengkonsumsi ikan sama sekali kecuali hanya sayur mayur termasuk tempe, tahu dan sayuran jenis kacang-kacangan. Atau dengan kata lain, selama Sulok kelezatan makanan dihilangkan sama sekali.

”Sulok, mencari jalan menuju Allah dengan melepaskan diri dari berbagai kegiatan duniawi dengan menjalankan ibadah sepenuhnya. “Di Dayah Darul Munawwah, semuanya katering,” imbuh H Anwar atau lebih akrab disapa Abiya Kuta Krueng. **